Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Aku Tidak Sekuat Itu


"Lira kemana sih? astaga dragon ball aku ditinggalin sendirian disini, kalo ada Om Om ganteng nyulik aku gimana?" Cia celingak celinguk sendirian di depan meja resepsionis.


Wanita cantik itu mengetuk ngetukan sepatu heels 15 centi meternya kelantai. Sudut matanya sesekali melirik resepsionis wanita yang diam diam juga mencuri pandang kearahnya.


"Kalau mau lihat tinggal lihat aja kali mbak, gak usah maling maling gitu. Saya bukan maling, saya tamu di resto hotel ini, saya lagi nunggu asisten saya yang keparkiran tapi gak balik balik." Cia terus saja berbicara sendiri pada si resepsionis yang terlihat tersenyum tipis padanya.


Belum juga luntur rasa kesalnya karena menunggu Elira, Cia dibuat heran oleh pria berkaca mata yang tengah berjalan kearahnya. Cia yang tidak ingin berpraangka baik, mengetuk ngetukan jarinya dimeja resepsionis.


"Maaf, apa ini milik Nona?" Pria itu menyodorkan sebuah dompet pada Cia, pria itu tersenyum tipis pada Cia hingga menampilkan lesung pipinya. 


Cia mengerutkan dahinya saat melihat dompet kecil yang tidak asing dimatanya. Karena ragu, Cia merogoh sling bag yang dia bawa, wajahnya terlihat panik saat dia tidak menemukan dompet kecil yang berisikan kartu kartu berharga didalamnya,bmulai dari KTP hingga ATM.


"Maaf, tadi saya membukanya, sebenarnya saya ingin mentipikan dompet ini pada resepsionis, namun saat masuk ternyata saya bertemu dengan pemiliknya. Maaf sekali lagi, karena saya sudah melihat KTP Nona tanpa izin." tutur kata pria berkaca mata itu terdengar lembut dan santun, bahkan Cia sedikit terpesona dengan lesung pipinya saat pria itu mengembangkan senyum.


"Terimakasih, maaf sudah merepotkan." Cia meraih dompet itu dan segera memasukannya kedalam sling bag.


"Sama sama, kalau begitu saya permisi." Pria itu memundurkan tubuhnya satu langkah lalu menundukan sedikit kepalanya pada Cia. Terkesan seperti anggota kerajaan yang tengah berpamitan pada seorang tuan putri.


"Cowok aneh? tapi ganteng sih, biar pun udah pake kaca mata tapi, ihh apaan sih! ngapain aku mikirin si pria kaca mata itu!" Cia mengerutuki dirinya sendiri, dengan kesal dia memilih untuk masuk terlebih dahulu kedalam resto hotel, Cia berfikir kalau Elira akan menyusulnya kedalam nanti.


Elira terus saja menatap kosong kearah jendela kaca taksi yang dia tumpangi. Setelah kejadian yang berhasil merenggut kesuciannya, Elira segera keluar dari dalam mobil Arjuna, Elira memberontak saat pria brengsek itu ingin mendekapnya kala dirinya berteriak frustasi.


Elira berhasil memberikan dua buah tendangan telak di area sensitif orang yang sudah merenggut kehormatannya. Kondisi taman yang sepi membuat Elira tidak tahu harus meminta tolong pada siapa.  Bahkan sling bag miliknya tertinggal di mobil pria bajingan itu, dengan langkah tertatih bahkan dia sudah tidak memakai heelsnya, Elira mencoba secepatnya meninggalkan tempat itu.


Hati, raga, dan perasaannya kini sudah hancur, Elira kira saat dia memutuskan untuk pindah kekota ini kehidupannya akan lebih baik. Namun nyatanya tidak, nasibnya lebih buruk dibandingkan ketika dia dicampakan oleh sang Papa. Elira meremas rambutnya kasar saat ingatan dimana pria itu terus saja menghujamnya dengan kencang terus saja menghantuinya.


"Apa kata Nenek, Kakek sama Mak Cik nanti, kalau sampai mereka tahu kalau aku sudah...," Elira membekap mulutnya sendiri, dia tidak ingin kalau tangisannya didengar oleh supir taksi yang dia naiki saat ini.


"Kenapa cobaanmu begitu berat Tuhan, apa kau tidak kasihan padaku sedikit saja, hanya sedikit. Tak apa kalau Papa tidak menginginkanku, tapi kali ini cobaanmu membuatku ingin sekali menyusul Mama. Aku tidak kuat, aku tidak sekuat itu." Suara lirih Elira terus saja mengalun, kedua tangannya mencengkram erat blazer navy yang melekat ditubuhnya untuk menutupi kemejanya yang sudah tidak berbentuk.



DIAMOND QUEEN