
Berliana terlihat khawatir karena sidang gugatan hak asuh Lora, sebentar lagi akan dimulai.
Mau bagaimana pun dia sudah berjanji pada Almarhumah Disha, kalau dia mau pun Radja tidak akan menyerahkan Lora pada siapa pun, termasuk Ayah kandungnya.
Bahkan keluarga Mehra dan Malhotra menolak mentah mentah mediasi, Radja mengajak mereka mediasi agar bisa berbicara dari hati kehati, dengan pikiran dingin. Namun ternyata Malhotra menolak dan malah menyuruh Ranveer tidak menerima mediasinya.
"Tenanglah Queen," ujar lembut Radja pada Berliana, saat melihat sang Ratu gelisah.
"Gimana kalau persidangan ini dimenangin sama Ayah biologisnya Lora. Aku gak mau pisah sama si gembul, aku gak mau Ai." ucap lirih Berliana
Wanita itu segera memeluk tubuh suaminya dari samping, Berliana bahkan menyerukan wajahnya didada Radja. Rasa khawatir serta rasa sayangnya pada Lora, membuat perasaannya semakin sensitif.
"Aku berjanji, sebisa mungkin aku tidak akan membiarkan pria itu membawa Lora dari hidup kita. Tenanglah Queen, kita akan melakukan semaksimal mungkin untuk memenangkan gugatan hak asuh Lora," ujar Radja lembut, bahkan pria itu memberikan banyak kecupan dipucuk kepala Berliana.
Disaat keduanya tengah saling menyalurkan rasa gundah hati, keluarga Malhotra dan Mehra terlihat semakin mendekat kearah mereka berdua. Sidang akan dimulai beberapa puluh menit lagi, dan mereka harus siap sebelum sidang gugatan hak asuh Lora dimulai.
"Bagaimana, apa kau sudah siap melepaskan Saradha untukku, hm?" ucap angkuh Ranveer, membuat Radja menatap dingin pada pria yang selama dua tahun ini lari dari tanggung jawabnya.
Berliana yang tengah terpejam didalam dekapan Radja pun, segera membuka kedua matanya. Pandangannya terarah pada beberapa manusia yang tengah berdiri ddepan kursi tunggu yang tengah dia dan Radja duduki.
Dahi Berliana berkerut kala melihat wajah pria yang tidak asing dimatanya. Begitu pun pria itu, kedua matanya mengerejab kala melihat sang Nyonya Dewangga menatap penuh selidik padanya.
'Bukannya dia pria yang pernah aku tabrak, di cafe itu? jadi pria ini? sialan, berarti selama ini dia sudah memata matai Lora.' guman Berliana dalam hati
"Kau! bukankah kau pria yang ada dicafe? oh aku tahu sekarang, jadi kau secara diam diam memperhatikan Lora. Wah gentle sekali anda ya, badan besar tapi nyali kerupuk! ingin melihat Lora saja harus menjadi stalker." cibir Berliana pada pria yang tengah menatap tajam padanya, apa lagi saat melihat salah satu bibir Berliana membentuk senyuman sinis padanya.
"Oh jadi ini, wanita cantik yang begitu sangat menyayangi putriku hm? hallo, aku Ranveer Mehra." pria itu mengulurkan tangan pada Berliana, namun sama sekali tidak dilirik oleh wanita itu.
Berliana malah merangkul lengan Radja mesra, dia bahkan sengaja melakukan hal itu karena dia tahu kalau saat ini sang Radja tengah menahan emosinya.
Ranveer tersenyum kecut kala Berliana mengabaikan serta mempermalukannya didepan umum. Tatapan tajamnya kembali, apa lagi saat melihat Berliana begitu nyaman bersandar dilengan kokoh Radjanya.
"Aku yakin kalau saat ini, kau tengah khawatir dengan gugatan hak asuh Saradha. Semua orang bahkan sudah yakin, kalau aku yang akan memenangkan persidangan ini."ucap Ranveer angkuh dan penuh percaya diri, namun tidak didengarkan oleh Berliana. Sedangkan Radja, pria itu masih terdiam, dia bukan pria bodoh yang akan mudah terpancing, dan pasti akan dimanfaatkan oleh lawannya nanti.
Setelah mendengar tausiyah sang Ratu tadi malam, sang Radja mencoba sebisa mungkin agar tidak terpancing oleh ucapan Malhotra dan Mehra nanti di persidangan.
Dan benar saja bukan, Mehra mulai menyalakan api untuk membakar, semoga Keluarga Dewangga tidak mudah terbakar.
"Tapi kau tenang saja, kau masih bisa melihat bahkan bersama Lora, saat aku memenangkan persidangan ini." lanjut Ranveer membuat Berliana mengerenyitkan dahi, begitu pun dengan Rafdja. Mereka belum mengerti apa arti dari ucapan Ranveer, namun saat mendengar Ranveer berbicara lagi, kedua tangan Radja dan Berliana terkepal erat.
"Asal,kau mau menjadi ibu sambungnya, dan menikah denganku," ujar santai Ranveer, lebih terkesan tidak tahu malu, dimata Berliana dan Radja.
GAYA RAMBUT BERBEDA