
Berliana menatap rintik hujan yang turun dari luar kamarnya, dia bangkit dan meletakan ponsel yang sedari tadi dia otak atik.
Kedua kaki telanjangnya melangkah menuju balkon kamar, Berliana menopang dagu seraya melihat begitu banyak butiran air yang turun membasahi bumi.
Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna kala dia mengingat apa yang pernah dia lakukan bersama Radja dikala hujan. Berliana menggigit gemas bibir bawahnya, bahkan dia meraba bibirnya sendiri kala merasakan ciuman yang Radja berikan masih terasa disana.
"Dasar gila!" Berliana memukul kepalanya sendiri kala otaknya mulai menjurus kearah yang salah.
"Kenapa aku kangen lagi sih, perasaan baru beberapa jam ketemu tadi. Hati hati, kenapa sih kamu itu selalu saja murahan kalau berhubungan sama Radja. Otak ini juga, bisa gak sih bersih sedikit aja, tangan juga! jangan terlalu agresif, lama lama Radjs ilfil sama kita!" Berliana bermonolog sendiri, rintikan air hujan berubah menjadi butiran butiran air yang cukup besar dan deras.
"My King, aku kangen." Berliana memeluk dirinya sendiri, kedua matanya terpejam erat kala merasakan hembusan angin dan sebuah dekapan hangat dari arah belakangnya.
"My Queen?" hembusan nafas hangat menimpa leher Berliana, membuat wanita itu semakin memejamkan kedua matanya.
"I love you." bisikan lembut ditelinganya membuat kedua sudut bibir Berliana terangkat sempurna. Entah ini mimpi atau kenyataan Berliana tidak peduli, yang terpenting saat ini adalah dia sedang merasakan kehangatan serta kenyamanan karena bersandar ditempat yang membuatnya tidak ingin lagi membuka kedua matanya.
"I love you to My King," senyuman manis Berliana semakin mengembang, bahkan dia menduselkan kepalanya untuk mencari kenyamanan lebih dari sesuatu yang tengah dia sandari saat ini.
"Aku mencintaimu My Queen." bisikan itu lagi
"Aku lebih mencintaimu, bahkan kalau pun kamu tidak memiliki cinta lagi, cinta yang aku miliki sudah lebih dari cukup untuk kita berdua." Berliana terus saja bermonolog sendiri, senyuman manisnya tidak pernah luntur sedikit pun.
"KAK BELL KATA MAMA KAKAK BANGUN! INI UDAH SIANG! KAK DUKU UDAH NUNGGUIN DIBAWAH!" suara gedoran serta teriakan cempreng yang tidak asing ditelinganya membuat Berliana segera membuka kedua matanya lebar lebar.
Bahkan Berliana segera bangkit dan terduduk diatas tempat tidurnya, wanita itu menguap lebar dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna. Kedua matanya melirik jam dinding berwarna kuning yang menggantung didinding kamarnya.
"Astaga, udah jam 7! dan tadi cuma mimpi?" Berliana panik, namun bukannya segera pergi kekamar mandi, wanita itu malah menuju pintu kamarnya. Kedua kaki tanpa alas melangkah cepat menuruni anak tangga, tampilannya pagi ini terlihat sangat kacau. Bahkan sepertinya Berliana belum menyadari kalau Radja pagi ini sudah ikut sarapan bersama keluarganya.
"Ma, pisang Bell dima...," ucapan Berliana terhenti saat melihat Radja sedang menatao kearahnya, bahkan ternyata Radja membawa Lora hari ini.
"Na?" lanjutnya
"Sayang, kamu udah bangun? ayo sini! Mama udah potongin pisang yang mau kamu bikin salad." Agatha menyuruh Berliana segera bergabung tanpa mengalihkan pandangannya kearah sang putri.
"Ya ampun, Berlian Papa belum mandi? pacar udah jemput tapi yang mau dijemput masih bau iler?" Bara yang tiba tiba saja datang membuat Berliana terkejut bukan main, wanita itu menoleh kearah samping. Berliana melihat sang Papa sedang menggelengkan kepalanya dramatis.
"Papa bikin kaget tau gak!" ujar Berliana kesal, namun tetap saja dia memeluk tubuh Bara dengan erat dan memberikan satu kecupan untuk cinta pertamanya.
"Kamu lihat kan Dja, ini belum seberapa. Semakin lama kamu mengenal berlianku maka akan semakin banyak aibnya yang terbongkar." Bara terkekeh sendiri, sedangkan Berliana sudah menatap sang Papa memelas.
"Tidak apa apa Om, saya akan tetap pada pendirian saya!" ucap Radja tenang, senyuman tipis menghiasi bibirnya. Sementara Berliana sudah senyum tertahan mendengar ucapan kekasihnya. Bahkan Lora yang sedang berada dipangkuan Agatha ikut bertepuk tangan sendiri.
"Dasar bucin!" ejek Bara, pria itu tidak sadar dengan dirinya sendiri, bahkan dari dulu hingga sekarang dia menjadi budak cintanya Agatha.
Keramaian pagi ini tidak bisa membuat hati seorang wanita yang tengah mengunyah roti isinya ikut larut didalamnya. Tatapan kosongnya masih mendominasi, namun ternyata masih belum ada yang menyadari sama sekali.
**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
JANGAN LUPA BUAT LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA
BUAT READERS YANG KEMARIN KOMEN KATANYA ENEG SAMA OTHOR BUKAN SAMA CERITANYA, SAYA TIDAK MEMAKSA KAMU BUAT BACA CERITA INI OKE. KALAU KAMU MAU BACA SILAHKAN, KALAU TIDAK, IT'S OKE TIDAK APA APA KALAU KATA BERLIAN MAH
DAN OTHOR SARANANIN BUAT MINUM YANG BANYAK BIAR GAK ENEG YA, MAKANYA KALAU MAKAN PISANG RAJA JANGAN SAMA TANDANNYA, BIAR GAK ENEG
KOMEN ALURNYA CERITANYA JANGAN KOMEN AUTHORNYA
ISH APAAN SIH THOR, KAGAK NYAMBUNG
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHHH**