Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Pisang? Again


"Astaga Kak Radja lama sekali mandinya, itu mandi atau berendam sih?" Ambar terus saja menggerutu saat melihat Radja baru kembali bergabung bersama mereka.


"Maaf, tadi bayi pisang minta ditidurin dulu." ucap santai Radja membuat yang lainnya membulatkan mata sembari melirik satu sama lain.


"Manten baru mah gituh ya, mainnya tidur tiduran, ngeri eui!" sorak Gala yang sedikit merapatkan tubuhnya pada Raga sang Paman.


"Belum nyobain maklum masih polos dia, jadi ya begini. Ayo lanjut siapa yang ngocok dadunya." ucap Ragata santai sembari melempar kartu permainanya.


"Kayak Om Raga udah aja, sadar diri itu penting boss! anda butuh mirror?" sarkas Gala pada Ragata membuat sang Paman hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Salah satu sudut matanya melirik pada salah satu wanita muda yang tengah fokus pada kartu kartu ditangannya.


"Pada ngomongin apa sih, Kak Bell udah tidur? ya udah deh Yas juga mau tidur udah ngantuk, besok gak bisa nonton film Om Shahrukh khan kalo telat bangun, soalnya laptop sama ponsel pasti disita si Mami." celoteh Yasmine panjang lebar, entah itu curhat atau bercerita mereka juga tidak tahu. Remaja berusia 17 tahun itu menguap lebar, saat berjalan pun sudah sempoyongan. Wajar saja, waktu sudah menunjukan pukul 01.15 dini hari.


"Ayo sekarang giliran Kak Lira?" Cia menyenggol lengan Lira saat wanita itu belum sadar kalau gilirannya sudah mulai.


"Aku?" tunjuknya pada diri sendiri


"Iya, ayo giliran Kak Lira." timpal Cia lagi


"Harus tarok dimana, kartunya yang ini gituh?" Elira membuka seluruh kartu kartu miliknya didepan lawan, Cia yang melihat bestienya terlalu polos menggigit gemas kartu yang ada ditangannya.


"Sini biar aku bantu, kamu jangan nunjukin kartu yang kamu punya kelawan, nanti kamu bisa di 'kek' sama mereka." Raga yang sedari tadi duduk tidak jauh dari Elira terlihat menggeser kursi yang sedang dia tempati agar sedikit mendekat pada wanita itu.


"Inget umur Om, gak usah modus." cibir Galaska pada Ragata


"Jangan bawa bawa umur kenapa sih, heran deh?!" Ragata mendelik tidak terima pada keponakannya


Semua orang yang ada disana tergelak mendengar perdebatan antara Gala dan Raga, kedua pria beda usia itu tidak memperdulikan kasta keluarga saat berkumpul. Mereka akan merasa seumuran ketika bersama seperti ini.


Bahkan Radja menyunggingkan senyumannya melihat keakraban para saudara ipar sepupunya, Radja tersenyum miris kala mengingat dia tidak pernah seakrab ini kala bersama Arjuna. Pandangan Radja pun beralih pada Elira yang tengah diarahkan oleh Cia saat memainkan kartu kartunya.


Wanita malang itu memilih untuk menanggung bebannya sendiri dari pada harus menjadi orang ketiga untuk hubungan Arjuna dan Anjeli tunangannya, padahal saat itu Arjuna terlihat serius ingin menikahinya. Namun sayang, Arjuna sepertinya bukan tipe pria yang ingin berjuang atau mengejar. Pria itu menyerah sebelum berperang, ditolak satu kali oleh Elira membuat Arjuna menyerah, sungguh tidak gentle sekali.


'Arjuna bodoh, seharusnya dia berjuang sebentar. Membuang wanita ini demi wanita ular dari keluarga Rajendra, aku ingin lihat bagaimana penyesalan bocah itu nanti.' Radja terus saja bermonolog didalam hatinya sembari menatap pada Elira.


"Sekarang giliran Kak Radja!" Cia berseru kencang membuat Radja mengalihkan pandangannya dari Elira.


"Aku?" tunjuknya bingung


"Iya, ayo kocok dadunya! makanya matanya jangan jelalatan kemana mana dong, ketahuan Kak Bell bisa abis tuh pisang." ucap Cia tanpa filter, tanpa rasa bersalah Cia kembali fokus pada kartunya.


Sedangkan Radja, terlihat diam dan termenung sendiri setelah mendengar ucapan Cia.


"Ayo kok diem aja sih kak Rad... ,loh loh Kak Radja mau kemana?" Cia berseru kencang kala melihat Radja bangkit dari duduknya dan memilih untuk meninggalkan mereka semua.


"Takut pisangnya diabisin sama Kakak ipar tuh." celetuk Ambar tiba tiba membuat seluruh mata tertuju padanya


"Apa?" tanya Ambar heran saat melihat Cia dan yang lainnya menatap padanya


"Astaga bestie bully eyke nambah satu!" Cia menepuk pundak Ambar sembari tertawa, sedangkan yang lainnya menatap heran pada wanita muda itu.


"Kamu jangan deket deket sama mereka ya, nanti ketularan gak warasnya." ucap Raga pada Elira tiba tiba



ELIRA



RAGATA