
Arjuna memukul stir mobilnya berkali kali,Β kedua tangannya mencengkram erat. Sudut matanya melirik pada kursi kosong disebelahnya, ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu. Lalu pandangannya beralih pada sesuatu yang tergeletak dibawah kursi.
Arjuna membanting stir, dia memarkirkan mobilnya dibahu jalan. Rasa penasarannya begitu besar saat melihat sebuah tas sling bag dibawah kursi mobilnya. Arjuna menelan salivanya berkali kali, dia yakin kalau tas itu adalah milik wanita yang sudah dia nodai tadi.
Arjuna menjambak rambutnya sendiri kala dia tidak berhasil mengejar siwanita. Tendangan keras dan telak diarea kejan*tanannya membuat Arjuna harus menahan sakit yang luar biasa.
"Dengan ini aku akan menemukanmu!" Arjuna mencengkram erat sling bag milik Elira, dia melemparkan sling bag itu kekursi kosong disampingnya.
"Ini semua pasti gara gara Anjeli si wanita sialan itu! astaga Arjuna kenapa kau bisa menjadi pria brengsek seperti ini, bahkan kau tidak berlaku lembut padanya, padahal tadi adalah pengalaman pertamanya." Arjuna mengusap kasar wajahnya, rasa penyesalan kini tengah menyeruak didalam hatinya. Apalagi saat Arjuna melihat tatapan kosong tanpa jiwa sang wanita, bahkan wanita itu meminta dia untuk membunuhnya setelah mereka melakukan hubungan terlarang yang dinikmati hanya oleh Arjuna sendiri.
"Sialan! aku harus segera menemukan wanita itu!" umpat Arjuna, pria itu segera menyalakan mesin mobilnya dalam keadaan kacau.
π
π
π
Elira menatap nanar kearah rumah yang menjadi tempat pulangnya sekarang, wanita itu mengusap kasar air matanya yang terus saja mengalir.
Elira menghirup napasnya dalam dalam, selain kehormatannya yang hilang, Elira juga harus kehilangan tas beserta isinya dan juga kalung emas yang dia berikan pada supir taksi yang dia tumpangi tadi. Karena Elira tidak memiliki uang sama sekali untuk membayarnya.
Dengan langkah lunglai Elira memasuki pintu gerbang, dia berharap kalau Mak Cik dan orang orang yang ada dirumah ini sedang sibuk hingga tidak menyadari kedatangannya dalam keadaan yang tidak baik.
Langkah demi langkah membawa Elira mendekati pintu masuk, tangannya sedikit bergetar saat dia hendak membuka handle pintu. Sekuat tenaga dia menahan kakinya agar tetap bisa berdiri untuk menopang tubuh ringkihnya.
"Kak Lira udah pulang? Kak Bell mana?" Suara Gavyn yang tiba tiba bertanya padanya membuat langkah Elira terhenti, padahal sebentar lagi dia akan meraih handle pintu. Elira pun heran kenapa Gavyn ada disana, padahal saat dia masuk bocah itu belum ada.
Elira menghirup napasnya dalam dalam, dia tidak ingin Gavyn mencurigai gelagatnya. Bocah 10 tahun itu terlalu cerdas diusinya yang masih anak anak.
"Bell masih ada dikantor, Kak Lira pulang duluan karena sakit perut. Ya udah Kak Lira masuk dulu ya Dek." Elira berbicara setenang mungkin, tanpa membuang waktu lagi dia meraih handle pintu lalu segera masuk kedalam kamarnya.
Elira menyandarkan tubuh ringkihnya dibalik pintu, wanita itu membekap mulut sendiri saat tangisan pilunya pecah. Dia segera membuka pakaiannya yang sudah tidak berbentuk, Elira berlari menuju kamar mandi. Didalam sana dia menangis sekencangnya, bekas bekas percintaan yang diciptakan oleh sipemerkosa membuat Elira merasa jijik pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau tega padaku Tuhan? belum cukup kah kau membuat aku tidak memiliki ibu sejak lahir. Lalu Papa membuangku, dan kini kau mengirimkan seseorang untuk menodaiku. Apa salahku? apa ini karma dari kesalahan kedua orang tuaku dimasa lalu? tapi kenapa harus aku yang menanggungnya?" tangisan pilu Elira pecah kembali, bebarengan dengan gemercik air shower yang mengguyur tubuh nakednya.
"Aku bersumpah, siapun kau! aku akan membencimu seumur hidupku, AKU MEMBENCIMU BRENGSEK!" teriakan Elira menggema didalam kamar mandi yang untungnya kedap suara, jadi orang dari luar kamar tidak bisa mendengarnya. Elira kembali menjerit histeris kala ingatan ingat saat pria itu mengagahinya muncul kembali.
**UDAH YA, OTHOR MAU NULIS LAGI BIAR BISA UP BESOK
SEE YOU MUUUUAAAAACCHHHHH
KASIH NEN OTHOR KOPI BIAR GAK NGANTUKπππ**