Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Bantu Aku, Please


Berliana menggigit bibir bawahnya gemas saat dia mengingat ciuman pertamanya dengan Radja didalam mobil kemarin.


Tanpa sadar Berliana meraba bibirnya sendiri, bahkan malamnya dia sama sekali tidak mampu memejamkan kedua matanya. Bayangan dimana Radja terus saja mengecap bibirnya tanpa henti membuat Berliana menginginkannya lagi.


Astaga, Berliana benar benar ingin melepas otaknya sekejap agar dia bisa mencucinya di air mengalir. Mungkin menambahkan diterjen penghilang noda bisa ikut membantu untuk membersihka otaknya.


"Miss Bell?" panggilan seseorang tidak mampu membuat Berliana berhenti untuk memikirkan Radja disetiap hembusan napasnya. Rasanya kalau Berliana tidak memikirkan si duda gondrongnya itu sehari saja, napasnya akan tersendat.


"Miss Bell?!" panggilan kedua kalinya membuat Berliana terkejut bukan main, karena orang itu menaikan oktaf suaranya.


"Ah iya!" Berliana memutar kursi kebesarannya, keningnya berkerut saat melihat Cia dan Elira sudah berada diruangannya.


"Akhirnya, kalau udah mikirin si duda pasti kayak gini!" Cia mendudukan dirinya dikursi yang bersebrangan dengan Berliana. Elira pun mengikuti Cia, wanita yang tengah membawa beberapa berkas meletakan kertas kertas itu diatas meja kerja atasannya.


"Ada apa sih? ganggu orang aja." Berliana memposisikan dirinya agar lebih nyaman.


"Miss Bell, hari ini saya dan Lira akan menemui beberapa klien kita disalah satu resto hotel yang menjadi tempat kami bertemu. Jadi mohon tanda tangannya di sini!" Cia menyerahkan sebuah map berisikan sebuah berkas perjanjian penting.


"Sini!" Berliana terlihat membacanya terlebih dahulu, dia menganggukan kepalanya pelan lalu membubuhkan sebuah tanda tangan di atas matrai.


"Nih udah, hati hati. Kalau udah selesai cepet pulang, awas jangan macam macam dihotel!" Cia segera meraih map maroon itu dengan cepat, memangnya mau macam macam yang bagaimana disana? sebelum macam macam dia pasti sudah digantung oleh Galaska Abangnya. Apa lagi sang Papa, Cia bahkan tidak pernah mau melihat Nagara marah.


"Iya Boss, kita berangkat! bye bye." Cia melambaikan tangannya pada Berliana tanpa mau menoleh kebelakang lagi.


"Saya berangkat Miss Bell!" Elira pun ikut pamit pada saudara sekaligus atasannya itu.


"Hati hati ya." Berliana tersenyum ramah pada saudara sepupu tirinya, Berliana tidak pernah membedakan Elira dengan saudaranya yang lain. Hanya saja Elira memang sedikit pendiam saat bersamanya dan keluarganya, padahal kalau dia sedang bersama Rina sang Nenek, saudara sepupu tirinya itu akan banyak bicara.


Berliana tersenyum kecut sendiri, padahal dia sangat ingin mengobrol dengan Elira. Bukannya menambah personil membuat acara kumpul kumpul mereka semakin ramai. Dari pada membawa Galaska si mulut pedas, lebih baik membawa Elira di pendiam.


"Kayaknya seru deh kalau ngadain barbequean , kudu ngabarin si gondrong kesayangan dulu nih." Monolog Berliana


💝


💝


💝


"Arjuna ini minumannya!" Anjeli menyodorkan segelas win pada calon tunangannya. Wanita itu menampilkan senyuman termanisnya pada Arjuna yang tengah menaikan sebelah alis padanya.


"Ayo dong diminum!" Anjeli masih menampilkan senyuman manisnya, dan tanpa ragu Arjuna meneguk minuman beralkohol itu dengan sekali lagi.


"Good, mau tambah?" Anjeli menawarkan satu gelas win lagi pada Arjuna.


"Cukup! aku tidak mau menyetir dalam keadaan mabuk nanti!" Arjuna menepis pelan gelas win yang disuguhkan padanya oleh Anjeli, wanita itu terlihat mengerecutkan bibirnya namun perlahan seringainya terbit saat Arjuna mengalihkan pandangannya kearah lain.


Arjuna mengerenyit saat merasakan hal yang tidak biasa mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Pria itu mengedarkan pandangannya keseluruh area pesta, keningnya semakin mengerenyit kala melihat begitu banyak mesin blower dan AC yang mendinginkan ruangan ini. Tapi kenapa tubuhnya terasa panas? Arjuna mulai tidak nyaman dan itu tidak luput dari pandangan Anjeli.


"Arjun, kamu baik baik saja?" Anjeli menyentuh lengan calon tunangannya itu dengan gerakan lembut, Arjuna menoleh pada Anjeli yang tengah mengusap lengannya sensual.


'Gila! aku ini kenapa? astaga sentuhan Anjeli membuatku turn on! sialan! pasti ada yang tidak beres?!' Arjuna terus saja mengumpat didalam hatinya.


"A-aku, aku harus ketoilet!" Arjuna segera melepaskan belitan tangan Anjeli, pria itu tidak memperdulikan Anjeli yang terus saja memanggilnya


"Astaga aku ini kenapa? panas sekali disini!" Arjuna membuka beberapa kancing kemejanya, pria itu tidak pergi ketoilet melainkan keluar dari area hotel.


Bruuk!


Tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang saat dia menabrak seseorang saat diarea parkir.


"Maaf Tuan saya tidak sengaja." ucap orang yang bertabrakan dengan Arjuna.


Sedangkan Arjuna, pria itu mengeritkan dahinya mendengar permintaan maaf dari orang yang baru saja dia tabrak. Kenapa orang itu yang meminta maaf, bukannya dia yang sudah menabraknya.


Rasa panas disekujur tubuhnya semakin menggila, dan semakin bertambah gila saat melihat sedikit belahan dada orang bertubrukan dengannya yang tengah memungut sling bagnya, sialnya dia seorang wanita.


Grep!


Arjuna mencekal lengan wanita itu saat dia hendak pergi darinya.


"Bantu aku, please!" ucap Arjuna enteng dengan suara yang terdengar serak menahan gairah.



ADA YANG MAU BANTU DIA, MAYAN NGOBOK NGOBOK🙈🙈🙈🙈