Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Bibit Pisang Sudah Tumbuh


Kedua kelopak itu berkedut, setelah sekian puluh menit tertidur karena dibawah pengaruh obat bius, kini si calon ibu perlahan membuka kedua netra hitam beningnya.


Dan itu tidak disadari oleh Radja, yang tengah memejamkan kedua mata sembari memeluk tangan Berliana, yang tidak terpasangan jarum infus.


Kedua mata Berliana mengerejab pelan, si calon Ibu menggulirkan kedua bola matanya, kesetiap sudut ruangan.


"A-i?" panggil Berliana terbata dan sedikit parau.


Wanita itu perlahan menarik tangannya, yang selalu digenggam oleh sang suami. Sepertinya Radja tertidur, buktinya saat Berliana berhasil melepaskan tangannya, dari genggaman Radja, pria itu tidak terusik.


Perlahan kedua sudut bibir Berliana terangkat, tangannya terulur untuk menyentuh pucuk kepala suaminya. Walaupun saat ini Berliana tengah menahan rasa perih dan sakit diperutnya.


Dengan lembut Berliana terus saja mengusap rambut gondrong sang Radja. Hingga tanpa Berliana sadari, Radja membuka kedua matanya saat dia merasakan usapan dikepalanya.


Tanpa menunggu, Radja segera menegakan tubuhnya. Kedua mata hazelnya berkedip cepat kala melihat senyuman sang Ratu.


"Aku bangunin kamu ya?" tanya Berliana merasa tidak enak, Radja pasti kelelahan makanya dia tertidur.


Bukannya menjawab, Radja malah menangkub kedua pipi Berliana dengan kedua tangannya. Tanpa banyak bicara, Radja segera membungkam bibir sang istri dengan bibirnya. Mengecapnya tanpa henti, seakan tidak ada lagi untuk hari esok.


"Kamu membuat aku gila, Queen," ujar pelan Radja, disela sela ciumannya.


Berliana tersenyum tipis kala melihat mata hazel Radja berbinar, satu tangan wanita itu terangkat untuk menyentuh kedua kelopak mata suaminya.


"Kamu gak nangis kan, waktu aku...," ucapan Berliana terpotong, kala Radja kembali membungkam bibirnya.


"Aku tidak menangis, hanya mengeluarkan air mata saja." balas Radja asal.


Bahkan Berliana tertawa pelan mendengarnya, wanita itu berusaha untuk menahan tawanya agar tidak kelepasan.


"Jangan tertawa, luka kamu masih basah, Queen" Radja mengingatkan


"Lora sama Ibu, dia baik baik saja. Yang paling penting sekarang, kamu cepat pulih, supaya kamu dan bayi kita cepat pulang" ucap pelan Radja, sembari mengelus lembut perut rata Berliana yang masih terluka.


Kedua mata wanita itu mengerejab cepat, otak cantiknya masih memproses kalimat yang diucapkan oleh sang suami.


"Bayi? bayi siapa? perasaan aku belum hamil, apa lagi melahirkan." gumam pelan Berliana, dahinya berkerut masih belum bisa mencerna ucapan Radja.


"Bayi kita, disini." ucap Radja lagi, kini pria itu tengah tersenyum lebar pada Berliana.


Sedangkan wanita cantik itu, menatap tidak percaya pada sang suami. Namun salah satu tangannya terulur, untuk menyentuh perut ratanya.


"D-dia udah ada, disini?" tanya Berliana, dia masih belum percaya dengan ucapan Radja.


"Hm, dia sudah ada disini." jawab Radja pelan.


Kedua mata Berliana berkabut, dia menangis bukan karena bersedih, namun karena bahagia dan sangat bersyukur. Namun tidak lama kemudian, kedua matanya membelalak kala dia teringat kejadian, yang membuatnya dirawat seperti ini.


"Tapi, pelurunya? perut aku kan...,"


"Pelurunya tidak sampai melukai dia, dokter mengeluarkan benda itu, tanpa harus membedah perut kamu, dan membahayakan bayi kita. Mungkin para tim medis, sudah punya cara terbaik, saat menyelamatkan kamu tanpa membahayakan janinnya." Radja segera memotong ucapan Berliana.


Radja sudah yakin kalau Berliana pasti akan menanyakan hal itu, bahkan dia pun tidak paham soal ilmu kedokteran yang sudah canggih.


"Pisang Radja junior udah tumbuh," ujar Berliana pelan, namun terdengar begitu bahagia.


"Iya, dia sudah tumbuh, kita tinggal rajin menyiramnya dan memberikan dia pupuk, supaya cepat besar." Radja ikut menimpali ucapanĀ  Berliana, yang memang tidak pernah jauh dari yang namanya pisang.