
"Kenapa namanya harus Raja sih Nek? kenapa bukan pisang Samsul, apa pisang Pangeran aja." Berliana terus saja menggerutu pada Rina, dia menatap ngeri pada buah kesukaannya. Tapi setelah mendengar nama jenis pisang itu, Berliana sedikit bergidik. Mungkinkah pisang Si Radja juga ukurannya sebesar pisang Raja?
Otak Berliana sepertinya sedang dalam mode tidak waras, hanya karena si pisang Raja dia berpikiran yang macam macam saat ini.
"Mau gak pisang Rajanya, kalau gak Nenek kasihin ke tetangga." Rina merapihkan beberapa pisang yang sengaja dia bawa untuk oleh oleh sang cucu.
"JANGAN! si Pisang Raja itu jangan dikasihin sama siapa pun. Pokoknya jangan ada yang berani menyentuh apa lagi menikmatinya kecuali Bell! mulai sekarang hingga selamanya, semua makhluk hidup diseluruh alam ini, Bell haramkan untuk menyentuh apa lagi menikmati pisang Raja." pekik Berliana tertahan.
Berliana segera meraih pisang besar itu dari sang Nenek, entah kenapa otaknya tidak rela saat buah enak itu akan dinikmati oleh orang lain. Apa lagi nama pisang itu membuatnya salah fokus, benar benar salah fokus.
Rina dan Agatha saling menatap satu sama lain melihat Berliana yang tengah memeluk satu tandan besar buah pisang Raja.
"Ya udah, yang satu sisir ini aja yang Mama kasihin sama Bu Afifa." Agatha hendak meraih buah pisang Raja yang tergeletak diatas lantai.
"Jangan! please Mama, tolong jangan yang itu. Kasihin si Ambon sama pisang Susu aja, kalau gak pisang emas, biar Bu Afifa dapat doorprize nanti pas makan pisangnya." rengeknya lagi.
Ucapan Berliana semakin kacau, wanita itu pun segera mengamankan satu sisir pisang Raja yang ada dilantai dan segera membawanya pergi. Bahkan Berliana juga tidak lupa membawa satu tandan pisang Raja yang tadi dia peluk dengan cara diseret.
"POKOKNYA, JANGAN ADA YANG BERANI NYENTUH PISANG RAJA BELL YANG ADA DIDAPUR!" Teriakan Berliana menggema diseluruh area rumah.
π
π
π
Radja menoleh saat mendengar Rajasa sang Ayah memanggilnya, Radja yang baru saja selesai nge-gym, berjalan mendekat kearah sang Ayah yang tengah menikmati kopi hitamnya sore ini.
"Apa Yah?" Radja terlihat sudah tidak nyaman dengan kondisinya yang berkeringat saat ini. Rasanya dia ingin segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
"Lusa kamu yang menghadiri undangan pesta pernikahan anak Pak Handoko, sepertinya Ayah tidak bisa, jadi kamu saja yang datang." Rajasa berujar santai pada putra sulungnya
"Oke, kalau gitu Radja ke atas dulu Yah, mau mandi gerah." Radja menyeka keringatnya menggunakan handuk kecil yang terlampir dipundak.
"Hm, jangan terlalu kaku saat di pesta nanti. Siapa tahu kamu bisa ketemu sama cewek disana Dja." Seruan Rajasa membuat Radja mengangkat salah satu ibu jarinya. Namun, dia malas untuk menatap wajah sang Ayah yang pasti terlihat sangat menyebalkan saat ini.
Radja segera masuk kedalam kamarnya, dia menghembuskan nafasnya kasar saat mengingat kalau dia harus pergi ke pesta pernikahan itu.
"Ayah membuatku pusing, pergi ke pesta pernikahan sendirian? sudah sangat yakin kalau orang itu adalah jomblo akut." gerutunya pelan.
Radja yakin kalau pesta pernikahan mewah yang akan dilaksanakan disebuah hotel bintang 5 itu, akan begitu mewah. Apa lagi Pak Handoko adalah seorang pengusaha. Pasti para tamunya tidak hanya dari dalam negeri, dan Radja yakini kalau di pesta itu akan ada acara dansanya seperti pesta besar yang biasa dia hadiri.
Salah satu acara yang tidak disukai oleh Radja, karena dia selalu tidak memiliki pasangan saat acara puncak itu dimulai.
"Astaga, Ayah pasti sengaja melakukan ini padaku!"
INGET PISANG RAJA, BUKAN PISANG SI RADJAπππππππππππ