Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Titisan Barata


"Ada yang mau kamu jelaskan sama aku sekarang?" nada bicara Berliana terkesan tenang namun menyiratkan arti yang dalam. Tanpa harus menaikan suara aura yamg di keluarkan Berliana memaksa Radja untuk kembali menatap kearahnya.


"Apa yang harus aku jelaskan lagi sama kamu Queen? mereka sudah men...," Ucapan Radja terhenti


"Sssttt it's oke, aku sudah paham semuanya." Berliana tersenyum lembut pada Radja, satu tangannya terulur untuk menyeka keringat Radja yang berada didahinya.


"Kenapa kamu sampai keringatan kayak gini sih." Dengan modus akal bulus, muslihat penuh tipu dayanya, Berliana mengusap wajah Radja yang tidak berkeringat sama sekali.


'Gemes banget deh, jadi pingen jambak.' Berliana terkikik gemas didalam hatinya.


Interaksinya bersama Radja tidak luput dari ketiga pasang mata yang sedari tadi memperhatikan keduanya. Berliana tidak sadar kalau disana bukan hanya ada dia dan Radja saat ini.


"Ekhem! Nona Prayoga, kalau kamu mau modusin anak saya, sebaiknya kamu menunggu setelah kedua orang tuanya pergi." Rajasa menyadarkan dunia pribadi Berliana. Wanita itu segera menjauhkan tangannya dari wajah Radja, ingin rasanya dia memukul tangannya sendiri yang terkesan sangat murahan kala bersentuhan dengan tubuh Radja.


Berliana tersenyum kikuk pada calon Ayah mertuanya, tolong tenggelamkan Berliana dipalung laut Mariana saat ini juga.


"Maaf ya Nak, saat Radja membawa kamu kesini tidak diwaktu yang tepat. Kamu harus ikut kedalam masalah internal keluarga kami." Soraya ikut angkat bicara, dia juga merasa tidak enak pada kekasih putranya. Apa lagi saat Rayha adik iparnya itu terus saja mencecarnya tanpa alasan. Walaupun Berliana mampu menjawabnya dengan mudah dan terkesan santai, tapi tetap saja Soraya merasa tidak nyaman.


"Tidak apa apa, Radja juga pernah menceritakannya padaku. Ya walaupun tidak sepenuhnya, tapi aku tidak terlalu terkejut. It's oke! hanya orang bodoh yang akan mempercayai semua ucapan yang tidak masuk akan mereka. Tidak akan ada kutukan atau pun pembawa petaka didalam hidupku, bukan begitu My King?" Berliana mengedipkan salah satu mata pada Radja.


Soraya tersenyum tipis melihat putranya yang terlihat kalah telak oleh wanita cantik yang ada disisinya saat ini. Soraya hanya bisa berdoa untuk kebahagian putranya dan calon menantu barunya.


"Kamu tidak mau memperkenalkan diri sama orang tua aku Queen?" Radja kembali tenang, wajah salah tingkahnya sudah kembali normal. Kini dia tengah berusaha menarik Berliana agar kembali kealam sadarnya. Karena sedari tadi wanita itu hanya tersenyum sendiri sembari mentapnya tanpa berkedip.


"Em i-iya, tapi tadikan aku udah intro, sekarang harus intro lagi gitu?" Berliana menggaruk pipinya yang tidak gatal, hilang sudah kewibawaan serta ke eleganannya yang tadi dia tunjukan didepan Paman serta Kakek Radja. Kini yang ada hanyalah Berliana yang apa adanya, sedikit tengil dan berani.


"Iya My Queen, ayo! Ayah sama Ibu mau kenal sama kamu secara pribadi." Radja mengusap lembut punggung tangan kekasihnya, Berliana terlihat menganggukan kepalanya pelan. Kedua sudut bibirnya terangkat saat dia menatap kedua calon mertuanya.


'Kenapa deg degan gini sih?' batin Berliana


"Selamat pagi menjelang siang Pak Rajasa dan Ibu Soraya, perkenalkan saya Berliana bisa dipanggil Bell atau pun Berliana, anak kandung dari Papa Barata dan Mama Agatha, Calon istri dari Radja Dewangga putra kalian." Berliana sedikit menundukan kepalanya setelah di memperkenalkan diri untuk kedua kalinya. Rasa percaya diri yang dimiliki oleh Berliana memang patut untuk diacungi empat jempol sekaligus. Berliana belum belajar kursus cara memperkenalkan diri secara baik dan benar pada calon mertuanya, jadi malah terkesan kaku dan formal seperti karyawan yang sedang wawacara kerja.


"Aku rasa dia benar benar titisan Si Barata versi wanita, jangan sampai dia sama menyebalkannya seperti Papanya." Rajasa bergumam pelan ditelinga Soraya, dan itu membuat sang istri memberikan sebuah cubitan di pahanya.