
"Raga dan Lira berangkat ya Mam," ujar pelan Raga pada Reina.
Hari ini dia dan Elira, harus terbang ke Spanyol. Crish dan Gara tengah membutuhkannya untuk menyelesaikan sesuatu.
"Sebenarnya Mami gak rela kalian pergi, tapi mau bagaimana lagi. Abang kalian lagi kesulitan disana, bahkan Lovy pun Gara tinggalkan demi membantu Crishtian. Mami cuma mau berpesan, kalau kalian ada masalah, jangan diam! selesaikan dengan kepala dingin. Lalu buat Elira, ingat ya Nak, kamu jangan pergi sendirian disana nanti, ingatkan apa pekerjaan suamimu ini yang sebenarnya? nyawanya selalu berada diujung senjata para sniper, yang dibayar seseorang untuk menghilangkan otak jeniusnya," ujar Reina penuh keseriusan.
Sebenarnya Oma kece yang satu ini, sudah menyuruh Raga untuk berhenti dari pekerjaannya, yang begitu mengancam nyawa. Namun sepertinya jiwa Ilham, sudah melebur menjadi satu didalam darah sang Elang.
Ragata tidak pernah takut dengan para sniper bayaran yang terus saja memburunya, demi melenyapkan otak jenius yang dia miliki.
Otak jenius yang mampu melenyapkan sebuah perusahaan besar dalam beberapa jam saja. Perusahan nakal yang merugikan negara serta rakyat suatu negara.
"Mami jangan khawatir ya, Elang bakalan jaga diri, demi Mami Papa Kak Lovy, Bang Gara, juga demi istri Elang. Elang janji, bakalan selalu jaga Elira, Mami boleh hukum Elang kalau sampai, janji itu teringkari." ucap lembut Raga pada Sang Mami, wanita yang sudah bergelar Oma itu mengusap air matanya kasar.
Si bungsu memang selalu membuatnya khawatir, namun Ilham selalu menenangkanya, kalau Raga akan baik baik saja.
"Iya, Mami pegang janji kamu! sekarang berangkatlah, doa Mami sama Papa selalu ada buat kalian. Ingat, kalau cucu Mami udah tumbuh, jangan lupa kabarin Mami," Reina berujar jahil, bahkan dia mengulum senyumnya kala melihat wajah malu malu Elira.
"Siap Mam! Pa, Elang titip Mami ya." ucap Raga pada Ilham yang saat ini tengah menatapnya.
Bahkan Raga segera memeluk pria yang menjadi panutannya, pria yang selalu ada disaat dia susah mau pun senang. Bahkan Ilham lah yang pertama kali mengajarkan dia memegang senjata api, kala usianya sudah mencapai 21 tahun, 20 tahun yang lalu.
"Jaga diri kalian baik baik, ingat selalu hati hati!" pesan singkat Ilham pada Raga dan Elira, pesan singkat yang penuh dengan makna.
🍌
🍌
🍌
Berliana terlihat mondar mandir didepan pintu, ibu hamil satu ini terlihat khawatir karena Radja tidak kunjung pulang.
Bahkan untuk menggendong Lora pun Berliana tidak sanggup. Radja tidak memberinya kabar, maka dari itu Berliana terlihat sangat khawatir.
"Bell?" panggil seseorang dari dalam rumah.
"Ya Bu?" sahut Berliana pelan, namun kedua matanya terus saja menatap kearah pintu gerbang.
"Ayo masuk! sudah mau magrib, Nak. Gak baik buat kehamilan kamu. Sudah tenang, Radja pasti baik baik saja, percaya sama Ibu." Soraya mencoba membuat Berliana menghilangkan rasa khawatir berlebihannya.
Hormon hamilnya memang selalu membuat Berliana bertindak berlebihan. Si Ibu hamil itu menarik napas pelan, perlahan Berliana menganggukan kepalanya.
Namun saat Soraya hendak membawanya masuk, sebuah Alphard putih terlihat memasuki area kediamanan Dewangga. Senyuman Berliana terbit, kala melihat orang yang dia nantikan, akhirnya datang juga.
"Ai?" panggil Berliana kala melihat Radja keluar dari dalam mobil, senyumnya yang sedari terbit, kini perlahan luntur kala melihat kondisi Sang Radja.
"Ai, ini kenapa?" Berliana segera menyentuh pelipis Radja yang terluka, bahkan masih terdapat darah kering dilukanya.
"Tidak apa apa Queen, tadi aku misahin anak ABG yang sedang bertengkar ditengah jalan, tidak tahunya muka aku yang kena tonjok salah satu dari mereka." ucap santai Radja, namun tidak terdengar santai dikedua telinga si ibu hamil.
Kedua matanya berkaca kaca, bahkan tangannya terus saja mengusap lembut luka Radja.
"Muka pisang kesayangan aku, jadi bonyok kaya gini." akhirnya tangisan Berliana pecah, hormon kehamilannya membuat dia lebih cengeng, padahal Berliana tidak pernah menangisi hal sepele seperti ini, sebelumnya.
RAGA SAAT BERTUGAS
AMOR KESAYANGAN RAGA