
"Maaf, maafkan aku Elira," ucap lirih Arjuna
Kedua mata sayu dan sendu Arjuna, menatap lekat pada Elira, yang tengah menatap datar padanya. Arjuna tahu, kalau wanita yang ada dihadapannya saat ini, sangat membencinya.
"Aku sudah memaafkanmu, sudahkan. Lalu kau mau apa lagi?" ucap datar Elira, kedua mata sayu tak terbacanya terus saja menatap pada Arjuna.
Arjuna tersenyum tipis, kali ini kedua matanya mengarah pada Raga, yang berdiri menjulang dibelakang Elira. Bahkan Arjuna, semakin melangkahkan kedua kaki mendekat pada Elira dan Raga. Semakin mengikis jarak dengan sepasang pengantin baru itu.
Elira bahkan memundurkan langkah, semakin mendekatkan tubuhnya pada Raga yang berada tepat dibelakang. Salah satu tangan Elira, sudah meraih ujung tuxedo suaminya, saat Arjuna sudah berada beberapa belas centi didekat mereka.
"Selamat! kau berhasil mendapatkan hati Elira." ucap Arjuna tenang, salah satu tangannya terulur pada Raga.
Raga menatap datar pada tangan Arjuna, namun tidak lama Raga menjabat uluran tangan Arjuna. Senyuman tipis Arjuna bahkan terbit, membuat Raga mengerenyitkan dahi.
Tanpa Raga dan yang lainnya sadari, salah satu tangan Arjuna meraih sesuatu dibalik kemeja abu abu lusuh yang dia pakai.
Semua mata membelalak, kala melihat Arjuna menodongkan sebuah senjata api berjenis pistol pada Ragata, mengarahkan benda sensitif itu tepat pada dahinya.
"Arjuna!" seru Elira, kala melihat nyawa sang suami terancam.
Arjuna yang tengah menatap tajam pada Raga, hanya menyunggingkan senyuman tipis, tanpa mengalihkan pandangannya pada Raga.
"Kenapa? kamu takut, suami baru kamu mati ditanganku, hm?" ucap santai Arjuna.
Elira hendak mendekat pada Arjuna, namun langkahnya terhenti kala tangan Raga menahan pinggangnya. Wanita itu menoleh pada sang suami, kedua mata bulatnya mulai berkaca kaca. Rasa khawatir mulai menyeruak didalam hati Elira, namun senyuman tipis yang ditunjukan oleh Raga, membuat wanita itu menghela napas pelan.
"Ceraikan Elira!" ucap Arjuna tanpa berpikir.
Bukannya menuruti, Raga malah tersenyum makin lebar. Bahkan pria itu merentangkan kedua tangan, seakan mengizinkan Arjuna berbuat apa saja padanya.
"Lakukan!" tantang Raga.
"Aku tidak main main!" gertak Arjuna, jari telunjuknya bersiap untuk menekan pelatuk pistol yang diarahkan pada dahi Raga.
"Turunkan senjatamu dari Boss kami!" ucap dingin seorang wanita dibelakang tubuh Arjuna, membuat pria itu mematung.
Apa lagi saat merasakan sebuah benda keras nan dingin, menekan kepala belakangnya, Arjuna yakin kalau itu adalah sebuah pistol.
"Kau tidak ingin peluru tajamku, menembus otak kosongmu ini kan!" sarkasnya lagi.
Arjuna terlihat mengepalkan salah satu tangannya, sedangkan kedua matanya masih tertuju pada Raga yang masih menatap santai padanya.
Seakan ucapan wanita itu hanya gertakan semata, tanpa pikir panjang pria itu menekan pelatuk eagle desert ditangannya. Namun sebelum peluru itu berhasil menembus kepala Raga, wanita yang ada di belakang tubuh Arjuna sudah memutar tangan pria itu menjauh dari dahi Ragata.
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
"KAK BELL!"
"BERLIAN!"
Hingga sebuah teriakan keras Agatha,Yasmine dan Cia, membuat atensi seluruh pasang mata itu mengarah pada wanita yang tengah menggendong seorang balita. Wanita yang masih mematung ditempat, sembari memeluk erat sang putri. Perlahan dia menundukkan kepala, untuk melihat sesuatu yang menembus perutnya.
Kedua matanya berkaca kaca, rasa panas serta sakit mulai menjalar, pandangannya berkabut, hingga akhirnya dia sendiri tidak kuat menopang tubuh sendiri.
"QUEENZAAA!" Radja berteriak kencang, kala melihat tubuh Berliana ambruk. Pria itu segera berlari menuju sang istri yang sudah membentur lantai.
Bahkan Lora yang ada didalam gendongan Berliana, ikut terjatuh menimpa tubuh wanita itu. Lora menangis kencang, kala melihat wanita yang menjadikan tubuhnya sebagai tameng, untuk melindunginya dari peluru panas itu, terpejam dan berdarah.
"Berliana!" Bara segera berlari menuju putrinya yang tengah ditangisi oleh Agatha dan yang lainnya. Bahkan sebelum Bara sampai, tubuhnya begitu lemah hingga dia terhuyung beberapa kali.
Bara melihat Radja segera memangku tubuh Berliana, tanpa peduli dengan semua orang yang tengah menangisi sang Ratu. Yang terpenting saat ini adalah Berliannya segera mendapatkan pertolongan medis.
Bahkan saat Radja melewati Arjuna, yang tengah mematung, bahkan Arjuna sudah menjatuhkan pistol kelantai dengan tangan bergetar. Sedangkan pria berambut gondrong itu, menatap bengis pada saudara sepupunya.
"Aku tidak akan memaafkan mu, kalau sampai terjadi sesuatu pada Queenzanku!" ucap dingin Radja, pada Arjuna
"Aku tidak akan melepaskan mu, kalau terjadi sesuatu pada Adikku!" desis Galaska dibelakang tubuh Arjuna.