
Bara menatap tajam dan dingin pada Arjuna, yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Saat ini keluarga Malik tengah berhadapan dengan Keluarga Prayoga.
Disaat Radja dan Berliana yang masih berada di rumah sakit, tengah berbahagia karena kehamilan Berliana. Di kediaman Barata saat ini, berbanding terbalik dengan keadaan Radja dan Berliana. Suasana di rumah ini begitu mencengkam, bahkan Rayhan dan Rohid pun masih terdiam.
"Jadi, kita apa bajingan ini?" Gentala yang sedari tadi sudah menahan emosinya, akhirnya angkat suara.
Genta tidak rela melihat keponakannya terluka begitu saja, karena ulah pria tak berotak yang ada dihadapannya saat ini.
"Jadi, harus kita apa kan putra mu ini, Tuan Rayhan?" bukannya menjawab, Barata malah balik bertanya pada Rayhan, yang sedari tadi membisu.
Rayhan terlihat menegakan kepalanya, dia mengalihkan pandangannya pada Barata yang tengah menatapnya, tanpa ekspresi.
Salah satu sudut matanya melirik pada Arjuna, yang tengah dipeluk erat oleh Tiara, Mamanya. Wanita itu menangis kencang, bahkah asmanya sempat kambuh saat mengetahui perbuatan nekat serta bodoh sang putra.
"Tolong maafkan Putraku, kalian pasti mengerti kenapa dia berbuat seperti itu, bukan?" ucap Rayhan, kalimat yang keluar dari mulut pria itu membuat Barata menyunggingkan senyuman sinisnya.
"Memaafkan ya? apa dengan cara memaafkan semua masalah selesai. Putriku tidak terluka, apa dia akan kembali seperti sedia kala, saat aku memaafkan Putramu ini?" kekeh pelan Barata, bahkan seumur hidupnya dia tidak pernah bersikap begitu pada siapa pun.
Barata tipe orang yang suka bercanda, hamble, dan tidak mudah terpancing emosi. Namun saat berhubungan dengan keluarganya, terutama sang Berlian, yang selama ini selalu Bara dan Agatha jaga, tanpa pernah tergores sedikit pun. Sikapnya akan berubah 180 derajat.
Kini malah retak, bahkan hampir hancur ditangan seorang bajingan laknat, yang bersikap penuh penyesalan.
"Bahkan perbuatan bodoh serta idi*otnya itu, hampir saja membuat calon cucuku tiada! dimana otak waras kalian huh? seharusnya sebagai orang tuanya, kalian memberi sedikit pelajaran pada Putra kebanggaan keluarga Malik ini. Tapi, apa ini? kalian terlihat begitu menyepelekan kejadian ini." sarkas Bara yang mulai terpancing emosi.
"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Putraku Tuan Barata, putrimu itu sudah terkena petaka dari menantumu sendiri. Sudah aku katakan kalau Radja itu pembawa petaka, kalian saja yang tid..," ucapan Rayhan terputus kala sebuah vas kristal melayang tepat disisi kepalanya. Kalau saja si pelempar itu serius membidiknya, sudah sangat yakin kalau kepala Rayha tidak akan selamat.
Mungkin kalau Rajasa ada disana, pria itu juga sudah menghadiahi sang adik tiri dengan sepatu yang dia pakai, membungkam mulut dengan sepatu, sepertinya bukan ide yang buruk.
"Hentikan bualan mu! jangan pernah berani untuk berbicara macam macam tentang menantuku! sekali lagi kau berbicara kalau Radja pembawa petaka, bukan hanya vas itu yang melayang kearah kepalamu! tapi juga pisau yang ada di dapurku!" ucap dingin seorang wanita yang saat ini tengah menatap nyalang pada Rayhan.
Semua orang yang ada disana, menelan salivanya susah payah. Begitu pula dengan Bara, pria beranak dua itu menghela napasnya berkali kali, kala melihat vas bunga besar tadi melayang tepat disisi wajahnya, sebelum berakhir dilantai, setelah melewati kepala Rayhan.
"Aku kerumah sakit dulu, Mas! kalau mereka tidak bisa diajak baik baik, kubur saja hidup hidup!" ucap sadis Agatha, membuat Rayha dan Rohid semakin terdiam. Wanita itu terlalu muak dengan manusia-manusia yang sangat suka flaying fictim.
Ternyata rumor kalau Nyonya Prayoga terkenal kejam, itu benar adanya. Sang Nyonya tidak segan segan untuk mengubur hidup hidup orang yang berani mengusik keluarganya, dan kini Keluarga Malik berani mengusiknya.
"Kalian dengar bukan? jadi sekarang, hukuman apa yang akan diterima oleh Arjuna?" Bara kembali bersuara, setelah suasana hening menyelimuti mereka.
JUDESNYA NGENA BANGET DAH