
"Aku akan bertanggung jawab!" ucap Arjuna tegas
Dan itu sukses membuat langkah Elira terhenti sebelum wanita itu meraih handle pintu.
Kedua tangan Elira terkepal erat mendengar ucapan Arjuna, bertanggung jawab? bertanggung jawab yang seperti apa maksudnya?
"Aku tidak butuh!" final Elira
"Kau butuh Elira! aku akan bertanggung jawab, apa kamu pikir aku akan lari setelah melakukan hal itu padamu?" Arjuna mulai kembali memgikis jarak dengan wanita malang yang tengah memejamkan kedua matanya erat.
"Bagaimana kalau dia hadir disini? apa yang akan kamu lakukan? mempertahankannya atau...," ucapan Arjuna terputus kala Elira dengan cepat memotongnya.
"Tidak akan ada apa pun disini! dan tidak akan pernah ada!" Elira menekan setiap katanya, dia bahkan menghempaskan kasar tangan Arjuna yang hendak menyentuh perutnya.
"Aku melakukannya tanpa pengaman? kamu yakin?" Arjuna menipiskan bibirnya kala melihat raut wajah Elira yang memucat. Wanita itu meremas kasar tasnya sendiri mendengar ucapan Arjuna, ketakutannya kembali. Bagaimana kalau ucapan Arjuna benar, benih yang ditanam pria itu tumbuh dirahimnya?
"Tidak akan ada apa pun, kalau pun ada aku yang akan menyingkirkannya sendiri!" karena terlewat khawatir Elira bahkan tidak memikirkan ucapannya.
Yang terpenting saat ini adalah dia harus menenangkan hati serta pikirannya agar rileks.
"Kamu akan menyingkirkannya? kamu tega? dia anak kita?" ucapan Arjuna yang lembut membuat Elira semakin tertekan, apa lagi saat pria itu dengan kurang ajarnya membelai lembut perut ratanya seakan didalam sana memang ada kehidupan.
"AKU BILANG TIDAK AKAN ADA APA PUN DISINI! TIDAK AKAN PERNAH ADA BRENGSEK!" jerit Elira murka
DUGH!
Elira segera berlari meninggalkan Arjuna yang tengah tertunduk sembari memegangi aset negaranya. Ini adalah ketiga kalinya tendangan bebas dilayangankan oleh Elira diaset negaranya, mungkin kalau sampai ada yang ke empat Arjuna akan mendapatkan sebuah piring cantik.
Arjuna memejamkan kedua matanya erat erat, bahkan pria itu mendudukan dirinya dilantai. Rasa sakit, ngilu, nyut nyutan yang sedang dia rasakan saat ini, lebih menyakitkan dari pada saat dia melihat adegan mesra Berliana dengan Radja yang live didepan matanya.
"Laanat hai!" Arjuna mengumpat kasar dalam bahasa hindi, bahkan air matanya terlihat menetes diujung matanya.
"Lihat saja, aku akan membuatmu mengandung anakku Elira! astaga aku rasa ada yang bergeser dari tempatnya." Gumaman pelan Arjuna membuat beberapa wanita yang baru masuk kedalam toilet mengerenyitkan dahinya.
"Sialan! aku tidak tertarik dengan tubuh plastikmu!" sarkas Arjuna tepat didepan wanita itu.
"Heh dasar homo!" umpatan sang wanita tidak dipedulikan oleh Arjuna, pria itu tertatih keluar dari toilet wanita. Entah sudah berapa lama dia meninggalkan Anjeli, Arjuna pun tidak peduli. Wanita satu itu bagaikan lintah yang selalu menempel padanya.
Sedangkan diluar, Elira secepat mungkin berjalan menuju mejanya bersama Berliana dan yang lainnya tadi.
"Ya ampun Ra kamu lama banget sih ketoiletnya?" Cia langsung mencecar Elira saat wanita itu baru saja mendudukan diri dikursi.
"Maaf Miss Cia, tadi toiletnya antri." Elira menjawab seadanya, dia pun menampilkan gestur biasa saja pada Berliana dan yang lainnya.
Elira segera menyuruput jus tomat yang dia pesan, karena ternyata makanannya sudah datang selama dia ditoilet tadi.
Tanpa Elira sadari, Radja dan Berliana saling tatap saat melihat kedua mata wanita itu sedikit memerah, bahkan ujung hidungnya pun memerah seperti baru saja menangis.
Dan tepat saat kedua netra hazel milik Radja beralih dari Elira, dia melihat Arjuna juga baru saja keluar dari arah toilet. Radja mengerenyitkan dahinya, apa itu sebuah kebetulan? atau?
Radja tidak tahu harus menebak apa, mungkin waktu yang akan menjawabnya nanti.
"Habiskan makanannya Queen!" ucap Radja pelan pada Berliana yang tengah lahap menghabiskan makanan yang tadi dia pesan.
RADJA LAGI MIKIR APA HAYOO LOH
ARJUN PULANG YUK
**OTHOR UDAH NGASIH BONUS DUA BAB JADI KENCENGIIIINNN DUKUNGANNYA YAAA BIAR TAMBAH SEMAMGAT UP NYA
SEE YOU BABAYYY MUUUAAAACCHHH**