
"Mas?" Agatha segera menghampiri suaminya yang baru saja selesai mandi.
"Apa sayang?" Bara menoleh pada Agatha sembari memakai celana Jogger pendeknya.
"Dibawah ada orang yang nyariin kamu kata Bi Sari." Agatha segera meraih hairdryer untuk mengeringkan rambut suaminya.
Kedua sudut bibir Bara perlahan terangkat saat mendengar ucapan Agatha, dia tidak menyangka kalau pemuda itu akan datang malam ini juga. Bahkan dia tahu alamat rumah ini, dari mana Radja tahu? perasaan didalam surat perjanjian mereka yang tanda tangani beberapa waktu tidak mencantumkan alamat rumah masing masing, hanya alamat perusahaan mereka.
"Mas turun dulu, nanti kamu nyusul ya. Sana mandi dulu!" Bara mengecup bibir Agatha sekilas sebelum pria itu keluar kamar.
Dengan santai Bara menuruni anak tangga satu persatu, biarkan pemuda itu menunggunya sebentar. Bara ingin melihat seberapa besar kesabaran si putra Rajasa yang sangat menyebalkan ketika mereka sedang bertemu.
Semoga putranya itu tidak sama menyebalkannya seperti Rajasa. Kedua sudut bibir Bara terangkat saat melihat pria bertuxedo navy itu sudah duduk dengan tenang.
"Wah aku tidak menyangka kau akan datang secepat ini, kenapa? apa kau begitu takut kalau aku membatalkan kerjasama kita?" Bara menatap Radja dengan senyuman tipis dan mematikannya.
Radja terlihat menatap Barata dengan tenang pada pria yang menamparnya beberapa saat yang lalu.
"Maaf saya datang kemari hanya ingin meluruskan sesuatu, Queenza tidak bersalah Pak Barata. Dia hanya reflek memeluk saya disaat lampu padam, dan untuk menenangkan saya membalas pelukannya. Tidak ada unsur lain didalamnya, saya minta maaf karena sudah berani memeluk Queen tanpa seizin anda." Radja menatap Bara dengan serius, pria itu tidak ingin Berliana disalahkan oleh kedua orang tuanya.
Bara menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan Radja, dia masih terdiam sampai akhirnya Bara menyuruh Bi Sari untuk memanggilkan Berliana.
"Bi tolong panggil Bell di kamarnya!" Bara berbicara dengan santai tanpa mengalihkan pandangannya dari Radja.
"Baik Pak! silahkan diminum Den." Bi Sari segera pergi, setelah menyuguhkan dua cangkir teh hangat untuk Bara dan Radja.
"Kau menyukai Berlian ku?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Bara.
Radja masih terdiam, dia masih bingung harus menjawab apa. Apakah kalau dia mengatakan kalau dia memang menyukai atau bahkan sudah memiliki rasa untuk Berliana, Barata akan mengizinkan untuk menjalin hubungan dengan putrinya.
Dengan status duda beranak satu yang dia sandang, apa pria paruh baya ini akan memberikan SIM surat izin memiliki padanya.
"Saya, saya me...,"
"Papa manggil Bell?" Ucapan Radja terpotong saat Berliana sudah tiba, Radja menatap dalam pada gadis yang sudah berbalut baju tidur bermotif pisang.
'Lucu dan menggemaskan.' dalam batinnya Radja tersenyum
Saat Berliana mengangkat wajahnya, kedua matanya membelalak, saat melihat siapa yang sedang duduk bersama sang Papa saat ini. Kedua matanya tidak mampu mengerjab, kedua kakinya terpaku ditempat. Berliana yang sedari tadi menunduk karena takut saat Bara memanggilnya, dan disaat dia mengangkat wajahnya, ada pemandangan indah yang selalu dia nantikan.
"Duduk Bell, kamu gak mau kan pegal gara gara berdiri terus." Bara mengulum senyumannya melihat wajah tegang Berliana, Bara yakin kalau putrinya itu terkejut melihat pemuda yang tadi dia tampar ada disini.
"Oke to the point' saja, kalian ada hubungan dibelakang saya?" Pertanyaan Bara membuat keduanya bungkam, lalu menggeleng pelan.
"Tidak." ucap mereka serempak, dan itu membuat keduanya saling tatap.
"Lalu kenapa kalian berpelukan ditempat umum? kalau hubungan kalian abu abu lebih baik tidak usah dilanjutkan, sudahi dari sekarang. Aku akan memaafkanmu Radja, ya mungkin kamu benar itu hanya reflek saat Berlianku memelukmu." Bara menyenderkan tubuhnya dengan santai saat melihat keduanya bungkam.
"Saya tanya sekali lagi, apa kalian menjalin hubungan dibelakang saya?" pertanyaan itu kembali terucap dari bibir Bara
" Ti..,"
" Iya, saya dan Queenza menjalin hubungan dibelakang anda Pak Barata." ucapan Radja membuat Berliana membelalakkan kedua matanya, menjalin hubungan? menjalin hubungan apa maksudnya?
"Kenapa?" Bara menegakan tubuhnya dan kini terlihat sangat serius.
"Karena, karena status duda beranak satu yang saya sandang saat ini. Saya takut Pak Bara dan keluarga tidak menyetujui hubungan kami, maka dari itu kami masih menyembunyikannya dari anda dan keluarga ini." Radja berucap santai, kedua sudut matanya melirik Berliana yang masih membatu.
Bara melirik pada Berliana, dia sedikit terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Radja. Bara tidak tahu kalau pria ini adalah duda beranak satu, pantas saja putrinya begitu kesal saat dia menyuruhnya pulang.
'Pantas saja.' batin Bara
"Lalu hal apa yang membuat mu menyukai putriku, kau tahu Radja Berlianku ini tidak seanggun yang kau kira. Pokoknya Berlianku ini tidak ada anggun anggunya, tidur suka ngorok, tidak suka pake heels seperti wanita kebanyakan. Berlian lebih suka memakai sandal jepit 15 ribuan dari pada heels yang seharga 15juta, bahkan Berlianku akan lebih memilih buah pisang kesukaannya dari pada saham perusahaan, itu tidak normal bukan? dan masih banyak lagi ketidak anggunan Berlianku ini, kau pasti akan ilfil dibuatnya." Bara terus saja berbicara, tanpa mau melihat wajah pucat pasi Berliana saat ini.
Hancur sudah image Berliana dihadapan Radja gara gara Papanya, wanita itu hanya pasrah saat Bara terus saja membongkar rahasia perusahaan pribadinya. Tanpa Berliana sadari kalau Sang Papa tengah memberitahukan semua kebiasaan dia pada Radja.
"Jadi bagaimana, apa kau tidak malu memiliki wanita tidak elegan seperti Berlianku ini?" Bara semakin menampilkan wajah menyebalkannya.
Radja terlihat menghela nafasnya kasar sebelum dia berbicara, " Justru saya yang mau bertanya pada Anda, apakah anda tidak malu bahkan tidak masalah kalau putri anda memiliki kekasih seperti saya, pria duda beranak satu. Mungkin dimata saya Queen tidak memiliki kekurangan sedikit pun, tapi saya memiliki banyak kecacatan dimata kalian dan orang orang diluar sana karena status yang disandang oleh saya saat ini. Apakah anda akan mengizinkan saya, kalau saya mencintai serta menyayangi Berlian anda Pak Barata." Radja berbicara lugas tanpa beban sedikit pun pada Barata
Bruuk!
Tubuh Berliana limbung seketika saat mendengar kata demi kata yang dilontarkan oleh Radja pada Sang Papa. Berliana tidak kuat lagi mendengar kata kata yang dilontarkan oleh Radja, dan akhirnya membuat dia tidak sadarkan diri. Hatinya terlalu shock dan tidak menyangka kalau Si Duku Mateng gondrongnya akan membalas perasaannya secepat ini.
'Kalau ini mimpi, tolong siapa pun jangan bangunkan aku ya Tuhan.' pekik hati Berliana.
"Astaga, putriku kenapa?" Agatha menjerit saat melihat Berliana sudah tidak sadarkan diri didalam dekapan Radja yang memang posisi duduk keduanya tidak jauh.
"Bawa Berlian ke kamarnya saja, tenang sayang Berlian kita cuma terkena ayan cinta saja kok. Kamu jangan khawatir ya, sebentar lagi dia pasti sadar." Bara memerintahkan Radja untuk membawa Berliana kelantai atas, Bara sedikit berterimakasih pada pemuda itu, kalau saja dia tidak ada pasti pinggangnya akan encok, dan kemungkinan besar Berliannya juga tidak akan pingsan bukan?
SEMACAM ITULAH BERLIANA SAMA PISANG RAJA🙈🙈🙈🙈🙈
**PART TERAKHIR AKU BUAT PANJANG BIAR KALIAN BACANYA PUAS, ITU AJA BELOM KELAR SEMUA😭😭😭😭
YUHUUU JANGAN LUPA BUAT LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYYY MUUUAACCCCHH**