
Berliana terus saja menunduk saat dia dan Radja sudah saling berhadapan saat ini. Agatha dan Bara memberikan waktu pada keduanya untuk saling bicara.
Kini mereka berada dihalaman samping kediaman Bara, hanya ditemani suara jangkrik dan hewan malam lainnya. Berliana meremas jari jarinya sendiri karena gugup, bahkan rasanya lebih hebat dari pada saat dia bertemu Radja untuk pertama kalinya.
"Kamu marah?" Radja memulai pembicaraan terlebih dahulu. Pria itu menatap Berliana lembut, senyuman tipis tercipta dikedua sudut bibirnya.
"Ma-marah kenapa? emangnya kamu punya salah sama aku?" Sumpah demi Anjani Suhermannya Yasmine, Berliana benar benar mati kutu dibuatnya.
"Kamu marah karena saya tiba tiba menyatakan perasaan cinta saya sama kamu, maaf kalau itu membuatmu tidak nyaman Queen." Radja menundukan wajahnya, senyuman tipisnya masih tercipta dikedua sudut bibirnya. Dia tersenyum miris, terlalu berharap kalau Berliana akan menerima perasaannya dengan suka hati. Ternyata ungkapan hatinya itu membuat wanita cantik dihadapannya saat ini malah merasa tidak nyaman.
"Ja-jadi i-tu serius, i-itu bukan alasan yang kamu berikan sama Papa biar kamu bisa bebas?" Berliana semakin dibuat ketar ketir, seluruh persendiannya terasa lemas. Otak warasnya mulai tidak berfungsi sepenuhnya saat ini.
"Jadi sedari tadi kamu berpikir kalau semua ucapan ku itu bercanda?" Radja menatap tidak percaya pada wanita yang tengah menatapnya sampai tidak berkedip. Radja semakin dibuat terkekeh saat melihat Berliana menganggukan kepalanya kaku.
"Astaga Queen." Radja meremas rambut gondrongnya dengan gemas, dia tidak menyangka ucapanya yang sudah sangat menghayati tadi dianggap main main oleh Berliana.
Radja meraih kedua tangan Berliana setelah dia menyelesaikan tawa kecilnya, kedua netra hazelnya menatap dalam pada kedua mata hitam bening Berliana.
"Queenza Berliana Prayoga, maukah kau menjadi bagian dari hidupku mulai saat ini. Mau menerima pria duda beranak satu yang masih memiliki begitu banyak kekurangan ini, lebih mengenal satu sama lain lagi, menjadikan hubungan kita memiliki status yang jelas." Radja menggenggam kedua tangan Berliana dengan erat. Radja masih bisa tersenyum tipis saat melihat Berliana membatu ditempatnya, dan belum mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalasnya.
Wanita itu menangis, Berliana masih tidak menyangka kalau Radja akan membalas perasaannya. Pelukannya semakin erat, dan itu membuat tangisannya semakin sesak. Bukan air mata kesedihan yang keluar dari kedua mata Berliana, namun air mata kebahagian yang dia tumpahkan lewat tangisan.
"Kamu belum menjawabnya Queen?" Ucapan santai Radja membuat Berliana segera menjauhkan tubuhnya. Wanita itu tersenyum kikuk, dia bahkan mengalihkan tatapannya kearah lain. Hati dan tubuh Berliana terlalu murahan saat berhubungan dengan Radja.
"Queen?" Panggil Radja
"Aku mau! kenapa harus tanya lagi sih. Aku kan udah meluk kamu tadi, seharusnya kamu tahu jawabannya." Berliana benar benar dibuat super tremor oleh Radja saat ini. Sedangkan Radja, pria itu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut sisa sisa air mata yang ada dikelopak mata serta pipi Berliana.
"Jadi, sekarang kita udah?" Radja kembali bertanya.
"Iya, udah diem aku malu!" Berliana segera menutup wajah Radja menggunakan telapak tangannya.
Tawa kecil Radja pecah, dia terlalu bahagia saat Berliana ternyata sudi menerima perasaaanya. Keduanya kini kembali saling berpelukan, berpelukan biasa. Hanya menyalurkan rasa bahagia dihati keduanya.
Hingga tanpa mereka sadari kalau sedari tadi ada seseorang yang terus saja memperhatikan interaksi keduanya dari awal hingga akhir.