
Tuk Tuk Tuk
Tiga kali ketukan palu hakim menyudahi sidang gugatan hak asuh Lora, yang tengah mereka jalani saat ini.
Berliana terlihat berkaca kaca kala hakim tidak mengabulkan seluruh gugatan Ranveer dan pengacaranya. Hakim mengatakan walaupun Ranveer adalah Ayah biologis Lora, tes DNA pun sudah dia lakukan dan hasilnya 99% positif, namun karena tindakan Ranveer termasuk kedalam kasus penelantaran anak, jadi Hakim memenangkan Radja, dan akhirnya hak asuh Lora jatuh kepadanya. Kalau Ranveer benar peduli pada Lora, kenapa harus menunggu lama,untuk mengakui kalau balita itu adalah putri kandungnya.
Hakim bisa melihat kedekatan Radja, serta ketulusan pria itu dalam merawat Lora selama satu tahun ini, bahkan setelah Disha tiada, walaupun Radja bukan Ayah kandung Lora.
Video kedekatan serta foto foto kebersamaan Radja dan Lora yang diberikan oleh Satya pada Hakim, ternyata sudah cukup membuktikan kalau Lora, memang diperlakukan sangat baik oleh keluarga Dewangga.
Darah memang kental, tapi semua itu tidak bisa mengalahkan sebuah ketulusan hati seseorang, walaupun Ranveer dan Rajh satu darah dengan Lora, tapi balita itu tahu kalau hanya Radja yang begitu tulus menyayanginya.
Bisa dilihat dari tingkahnya, Lora saat ini begitu nyaman tertidur didalam dekapan Radja, setelah sebelumnya balita itu menangis keras kala Rajh mencoba menggendongnya, begitu pula dengan Ranveer, pria itu menatap sendu pada putrinya yang tadi menangis, kala dia ingin menggendongnya atas perintah sang Hakim. Walau didalam hati kecilnya pun, Ranveer begitu ingin dekata Lora.
"Aku tidak menyangka kalau Radja yang akan memenangkan hak asuh Saradha, aku pikir kau yang akan mendapatkannya Tuan Mehra, secara kau kan Ayah biologisnya, tapi ternyata Saradha lebih memilih Radja dari pada Ayah kandungnya." ucap Rajh pelan, entah menyadarkan atau malah tengah nenyulut kembali api peperangan diantara Radja dan Ranveer, hanya Rajh dan Tuhan yang tahu.
Ranveer tidak menjawab, kedua matanya menatap kosong kearah Radja dan Lora, yang memang terlihat begitu dekat. Bahkan mereka sama sekali tidak terlihat seperti Ayah sambung dan anak tiri.
Pria itu menghembuskan napas kasar, tanpa sepatah kata pun Ranveer meninggalkan Rajh dan keluarga Malhotra lainnya. Kedua kaki jenjangnya membawa dia menuju Radja dan Berliana serta keluarga Radja, termasuk Lora.
"Ekhem!" deheman keras Ranveer, membuat Radja dan yang lainnya menoleh. Radja mengerutkan dahi kala melihat Ranveer sudah berada didekat mereka.
"Kau ingin bertemu dengan Lora, atau berbicara pada kami?" tanyanya, Radja tidak basa basi lagi, dia segera to the poin. Dia terlalu lelah dalam bersandiwara, Radja ingin menyelesaikan persoalan ini dengan cepat.
"Aku ingin bericara dengan kalian, dan ingin melihat Saradha lebih dekat lagi saat ini. Bolehkah, aku menggendongnya sebentar, anggap saja ini adalah salam perpisahanku dengan putriku." lirih Ranveer, menatap penuh harap pada Radja dan Berliana.
Sikap angkuh serta sombong yang dia tampakkan beberapa saat lalu, menghilang begitu saja. Berganti dengan sikap ketidak berdayaannya, sikap lemah serta lelahnya.
Radja menganggukan kepalanya pelan, sebagai seorang Ayah dia paham apa yang tengah dirasakan oleh Ranveer saat ini. Ranveer hanya ingin bersama Lora, walaupun caranya sangat tidak disukai oleh Radja dan Lora sendiri.
"Gendonglah, walaupun hak asuhnya ada padaku, tapi kau tetap saja Ayah kandungnya. Tanpamu, Loraku tidak akan pernah ada didunia ini bukan?" ucap Radja tenang, pria itu memberikan Lora yang ternyata sudah tertidur didalam dekapannya.
Perlahan, kedua sudut bibir Ranveer terangkat, kedua matanya berbinar bahkan berkaca kaca kala Radja memberikan Lora padanya. Tanpa membuang waktu lagi, Ranveer segera mengecupi dahi serta pucuk kepala Lora dengan lembut. Bahkan pria itu tertawa kecil kala melihat putri kecilnya menggeliat, karena terganggu oleh kecupannya.
Rasa bersalah semakin menyeruk didalam hati Ranveer, kala melihat wajah Lora begitu mirip dengan Disha.
'Maafkan Ayah Radha, mungkin kalau Ayahmu tidak sepengecut itu dan lebih berjuang lagi untuk mendapatkan Ibumu. Sudah bisa dipastikan, kalau kita bertiga akan selalu bersama sampai hari ini. Maaf, kalau Ayah tidak akan pernah bisa menjadi sosok Ayah yang baik untukmu, tidak akan pernah bisa menjadi cinta pertama untukmu nanti, melindungi atau bahkah mengajakmu bermain. Ayah hanya berdoa, agar kau selalu diberikan kebahagiaan bersama kedua orang tuamu yang begitu menyayangimu tanpa tapi.' monolog Ranveer didalam hati, bahkan pria itu meneteskan air mata saat kembali memberikan kecupan di dahi Lora, sebelum dia memberikan balita itu pada Radja kembali.
"Tolong jaga Saradha, aku percaya padamu!" ucap Ranveer sembari menepuk pundak Radja, lalu setelah itu Ranveer pergi menjauh dari Radja dan Berliana serta keluarga Dewangga, dengan langkah lunglai.
"Aku pulang, Disha," ujar lirih Ranveer pelan, bahkan Ranveer tersenyum tipis saat mengatakannya.
DISHA DAN RANVEER