
Berliana masih sibuk membaca serta membolak balikan kertas ditangannya, bahkan saat ini dia tengah berpikir, apakah Radja sudah mengetahui alasan Disha bunuh diri, dari tulisan tangan yang Disha buat sendiri.
Sepertinya Berliana harus bertanya pada suaminya nanti, dan saat ini Berliana harus mencari bukti lebih kuat lagi, bahwa Disha tidak akan pernah mengizinkan mantan kekasih sekaligus Ayah kandung putrinya, mengambil hak asuh balita itu dari tangan Radja.
"Aku rasa surat surat ini bisa menjadi bukti nanti." Berliana segera membereskan semua tumpukan kertas, dan memasukannya kembali kedalam kotak kayu.
"Tarok dimana ya?" monolog Berliana yang terlihat kebingungan sendiri saat hendak menyimpannya. Dia tidak mungkin menyimpannya ditempat semula, kotak ini terlalu berharga untuk masa depan Lora dan Radja suaminya.
"Aku tau harus disimpan dimana!" ucapnya lagi, kedua kakinya membawa dia menuju lemari khusus pakaian da*lam lingerie serta baju tidur miliknya.
"Nah, disini pasti aman! gak akan ada yang berani mengobrak abrik ordeldil milik Miss Bell." Berliana menutupi kotak kayu itu menggunakan tumpukan br*a dan celana dal*am miliknya.
Setelah merasa aman, Berliana segera keluar dari dalam kamar, hari sudah semakin sore. Waktunya dia memandikan sigembul Lora yang masih bermain dilantai bawah.
"Ola?" panggil Berliana kala melihat Lora tengah belajar berjalan sembari berpegangan disofa.
"Bell," ucap Lora pelan, balita itu bahkan melepaskan pegangannya pada sofa agar bisa bertepuk tangan.
"Nenek mana? Ola sendirian? aduh nanti kalau ada Om Om ganteng yang nyulik Ola gimana?" celoteh Berliana asal saja, dia akan berubah menjadi childish saat bersama Lora dan Radja.
"Bell na Ola," celoteh balita cantik itu lagi.
"Udah sore, Ola mandi ya! ayo Bell mandiin." Berliana segera menggendong Lora, waktu sudah menunjukan pukul 16.20, Berliana yakin kalau sebentar lagi Radja akan pulang.
"Ibu, Bell bawa Lora ke kamar ya, mau mandi udah sore." suara seruan Berliana yang keras membuat Soraya yang tengah berada didapur ikut berseru juga.
"Iya Nak!" balas Soraya pada menantunya.
🍌
🍌
🍌
"Bagaimana?" tanya seorang pria pada kedua pria yang tengah saling lirik.
"Tapi?" beonya, sembari mengangkat sebelah alis.
"Ta-tapi, tapi yang ada didalam mobil itu seorang wanita, bukan laki laki Boss." ucapnya pelan, apa lagi diakhir kalimat.
Braak!
"Kya? tum bevakooph ho!" [apa? dasar bodoh]
Pria itu menggebrak meja yang ada dihadapannya, kedua sorot mata dinginnya menatap kedua bawahannya dengan tajam.
"Kalian sudah kubayar mahal, tapi masih tidak becus huh! sudah aku bilang targetku pria itu bukan wanitanya." murka pria itu tidak bisa ditahan lagi.
"Ma-maaf Boss, kami juga tidak tahu kalau yang membawa mobil itu adalah wanita, bukan pria yang menjadi target kita." ucapnya sedikit gugup, dia gugup karena melihat pria yang membayar jasa meraka itu semakin murka pada mereka berdua, lalu mengambil kembali uang bayaran yang jumlahnya tidak sedikit.
"Lalu bagaimana keadaan wanita itu?apa kalian menolongnya?" tanyanya lagi, kedua matanya menatap dingin pada kedua pria yang tengah menunduk.
"So-sorry Boss, kami tidak sempat menolongnya, mungkin keadaannya saat ini tidak baik, atau mungkin dia tidak selamat." ucap salah satu bawahnya lagi, dan kali ini sukses membuat sipria berbadan besar itu semakin menatap tajam kearah mereka berdua.
"Kalian benar benar idi*ot! KELUAR DARI RUANGANKU!" murkanya lagi, kedua bawahannya itu memang tidak bisa diandalkan.
Sedangkan kedua pria yang sedari tertunduk itu, hanya bisa menuruti perintah Boss mereka.
"Kalau sampai wanita itu mati sama seperti nasib Disha, nyawa kalian yang akan aku lenyapkan!" ancamnya lagi, membuat langkah kedua pria itu, mereka saling pandang tanpa berani untuk menoleh kebelakang.
**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
JANGAN LUPA YA, LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAACHH**