
Sudah hampir setengah jam mereka menunggu, namun dokter tidak kunjung keluar. Berliana bahkan sudah bersandar di bahu Radja dengan nyaman, Lora pun terlihat masih terlelap didalam gendongan Radja.
Kedua wanita itu menempel erat padanya, membuat Radja memberikan kecupan di pucuk kepala Berliana dan Lora. Berliana bahkan semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan atas Radja. Diam diam sang Ratu menyunggingkan senyum, kala melihat wajah Meera saat ini.
Wajah ketidaksukaan yang ditunjukan oleh Meera, membuat Berliana semakin yakin kalau wanita ini ada hati pada Radja. Apa lagi sikap agresif wanita itu, Berliana sudah tahu bagaimana cara menghadapi wanita yang tidak tahu malu, seperti Meera.
Bukan lewat sindiran atau pun ucapan pedas, karena kalau hanya kata, wanita ini akan semakin tidak tahu malu. Jadi, Berliana cukup membuktikan kalau Radja memang mencintainya, selalu menatap padanya, jadikan dirinya sebagai pusat Sang Radja. Kalau memang Meera masih memiliki harga diri dan rasa malu, pasti dia akan berpikir berkali kali untuk menjadi lalat buah didalam hubungannya dan Radja.
Clek!
Suara pintu ruangan terbuka, semua orang yang ada disana segera mengalihkan pandangan mereka pada dokter, yang baru saja keluar.
"Bagaimana Dok?" Radja segera bertanya, mendahului Ayah Meera yang baru saja hendak membuka mulutnya.
"Pasien sudah sadar," ucap sang dokter pelan, dan itu membuat Radja serta yang lainnya mende*sah lega.
"Tapi, keadaannya masih kritis. Pasien ingin bertemu dengan keluarganya, terutama orang yang bernama Radja dan Berliana, juga Lora yang selalu pasien gumamkan." ucapan dokter selanjutnya, membuat Radja segera masuk kedalam ruang rawat Ranveer. Tidak lupa Radja pun membawa Berliana serta Lora, ketiganya masuk diikuti oleh Meera dan Ayahnya.
Radja menelan salivanya kasar, kala melihat Ranveer yang tengah tersenyum tipis padanya. Berbagai alat medis terpasang diseluruh tubuh, suara mesin EKG pun menjadi alunan mengerikan, bagi Radja dan yang lainnya.
"Bagaimana keadaanmu?" Radja bertanya terlebih dahulu pada Ranveer, kala cukup lama mereka saling diam.
"A-aku bo-leh, Ra-dha." suara terbata dan tidak jelas Ranveer membuat Radja menatap iba padanya.
Ranveer tersenyum,kala melihat Radja menganggukkan kepalanya pelan. Apa lagi saat Radja memberikan Lora, yang masih tertidur. Ranveer terlihat begitu bahagia, satu tangannya yang terbebas dari infus, mengusap lembut kepala putrinya.
Berliana sudah tidak kuat lagi untuk menahan air matanya, kalau kemarin dia begitu mengutuk Ranveer, saat pria itu bersikap kurang ajar padanya. Kini Berliana berharap, kalau Ranveer dan Lora bisa selalu bersama sampai balita itu dewasa. Bahkan, Berliana berharap Disha pun ada diantara mereka berdua.
"Rad-ja?" panggil Ranveer terbata, terlihat begitu sulit untuk berbicara.
"Iya!" sahut Radja cepat, pria itu menggenggam tangan Ranveer, guna memberikan semangat pada pria yang pernah menjadi rival dalam mendapatkan hak asuh Lora.
"A-ku ti-tip Ra-dha, a-ku su-dah mem-beri-kan, semua ya-ng aku pu-nya untuk Ra-dha. Ha-nya Ra-dha yang aku mi-liki, sete-lah kedua or-ang tuaku tiada, bah-kan Disha juga. Ki-ni aku serah-kan semuanya padamu, Rad-ja." suara Ranveer semakin terbata, kedua mata sayunya terlihat memohon pada Radja.
"Un-tuk Pa-man Vi-kar, a-ku minta maaf, ka-rena ti-dak bisa menja-di pria kuat, seper-ti yang pam-an inginkan, Mee-ra?" lanjut Ranveer
"Sudah jangan berbicara lagi, Kak Veer pasti sembuh. Aku akan membawa Kak Veer ke rumah sakit yang lebih bagus. Kak Veer harus kuat, aku tahu kalau Kakak ku ini pria kuat," ujar Meera bergetar, wanita yang tadi begitu agresif itu kini menangis.
"Ma-af, su-dah meno-lak-mu. Kau, wa-nita baik, cari-lah pria yang baik. A-ku meno-lak ka-rena aku menya-yangi-mu." ucapan terakhir Ranveer, sebelum mesin EKG yang terpasang ditubuhnya berbunyi nyaring, dengan garis lurus dilayar monitor.
"KAK VEER!" jerit Meera pilu
'Aku berjanji, akan selalu menjaga Lora, tanpa harus kau pinta Ranveer, selamat jalan, Ayah Saradha Lora Dewangga Mehra.' ucap Radja didalam hati
DIPART INI, OTHOR MENJELMA MENJADI MALAIKAT PENCABUT NYAWA HAHAHAAA( TAWA LUCIFER)