
Berliana terus saja sesegukan, bahkan saat dia tengah mengobati luka Radja. Berliana tidak mengizinkan orang lain untuk mengobati Radja, selain dirinya.
Walaupun terkesan lebay, tapi itulah hormon ibu hamil. Hal yang sepele saja bisa menjadi besar, bahkan hal besar pun menjadi sepele dimatanya.
"My Queen, sudah jangan menangis lagi, nanti si jagoan ikut nangis didalam sini." bujuk Radja, kala melihat Berliana terus saja mengusap air matanya kasar.
Bahkan tanpa ragu, si Ibu hamil itu menyeka air hidungnya, menggunakan kaos yang tengah dipakai Radja. Radja hanya diam, dia membiarkan sang Ratu melakukan apa yang dia inginkan.
"Kenapa mereka berantem dijalan, kenapa bukan dilapangan atau di ring tinju sekalian?" celoteh Berliana penuh kekesalan.
Dengan telaten Berliana mengobati luka sobek di pelipis suaminya, sedangkan Radja terlihat begitu menikmati wajah kesal sedih bahkan marah, yang tengah di tunjukan oleh sang Ratu.
Hormon kehamilan yang dialami oleh Berliana, menjadi hiburan tersendiri untuknya. Radja tidak pernah mengeluh dengan segala perubahan sifat Berliana selama hamil.
Justru Radja begitu menikmati masa masa ini, bahkan saat Berliana meminta makanan yang aneh, seperti makanan khas India dan Turki, dan harus langsung dari negara asalnya.
Tanpa berpikir dua kali, Radja pun segera terbang ke negara yang di inginkan oleh Sang Ratu. Tanpa peduli, dengan segala biaya yang harus dia keluarkan.
Bahkan saat Berliana meminta dia untuk memakan rujak ditengah malam, bahkan saat itu malam jum'at. Radja dengan senang hati menikmati rujak pedas manis, yang begitu membakar lidah.
Bagi Radja, ini belum seberapa dengan perjuangan antara hidup dan mati Berliana, saat nanti melahirkan buah cinta mereka berdua.
"Sayang, sudah jangan nangis, aku baik baik saja." Radja yang tersadar dari lamunannya, segera memeluk tubuh Berliana. Bahkan dia tidak peduli, saat Berliana terus saja menyeka air hidungnya pada kaos yang dia pakai.
"Tapi muka kamu berdarah, Ai." lirih Berliana sedikit tertahan, karena wajahnya tengah bersembunyi di ketiak Radja.
Radja terkekeh pelan, kala merasakan hembusan napas hangat Berliana di ketiaknya. Pria itu tidak henti hentinya mengecupi pucuk kepala sang Ratu. Untung saja, saat ini Lora tengah bermain bersama Ambar.
Karena Lora selalu terbangun dimalam hari, lalu tiba tiba pindah ke ranjang, yang tengah ditempati oleh Mommy dan Papanya. Bahkan secara tidak sadar, Lora selalu tidur diatas tubuh Berliana. Maka dari itu, balita itu seakan takut menyakiti calon adiknya, kalau tiba tiba dia terbangun dan tidur diatas perut Bell nya.
"Lora gak tidur sama kita?" tanya Berliana disela sela sesegukannya.
Bahkan si ibu hamil itu, tidak sungkan untuk mengecupi area leher serta pundak Radja. Membuat Radja, harus mati matian menahan gejolak panas dari dalam tubuhnya.
"Lora tidur dengan Ambar, kamu tau kan si gembul takut kalau sampai tidur di atas perut Mommynya lagi." kekeh Radja, dia tertawa sendiri kala membayangkan wajah bingung Lora saat terbangun, dan ternyata sudah berada diatas perut Berliana, yang kala itu masih hamil 5 bulan.
"Padahal aku kangen tidur sama Ola, kalau gitu biar aku aja yang tidur di kamar Ambar." ucapan Berliana sukses membuat kedua mata Radja membola, tidak dia tidak akan pernah menyetujui keinginan ibu hamil yang satu ini.
Radja rela keliling dunia setiap hari, asalkan Berliana jangan meminta untuk jauh dengannya, apa lagi saat tidur.
"Sudah ayo tidur! besok pagi saja ketemu Loranya!" paksa Radja tanpa ingin dibantah. Mau tidak mau si Ibu hamil kembali masuk kedalam dekapan Radja, dan ternyata baru beberapa menit berada didalam dekapan Radja, sang Ratu sudah terlelap.
**YUHUUUUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU TOMORROW
BABAYYYY MUUUUAAAACCHHHH**