
Raga menghela napasnya berkali kali, keringat dingin mulai menetes didahinya. Membuat Lovy, sang kembaran ikut mengusap keringat sang adik menggunakan tissue.
"Rileks aja Lang, kenapa sih tegang banget. Gak pantes sama umur tau gak." cibir Lovyna
"Kenapa ini lebih gugup, dari pada ngeretas keamanan kelompok mafia." gumam pelan sang calon pengantin.
Nagara yang berada tepat disebelah Lovy, terlihat menoleh pada Raga. Pria yang sangat irit bicara itu hanya menyungingkan senyuman tipis.
"Hati hati salah, air comberan sudah siap dibelakang kamu Ga!" ucap Nagara pada adik iparnya.
Lovy dan Raga menatap horor pada Nagara, namun pria bermata abu abu itu hanya mengedikan bahunya tak acuh.
"Abang jangan nakutin si Elang Bondol deh, kasihan tau. Lihat mukanya udah keringetan gini, kasian banget anak Papa Ilham, takut di siram air comberan ya." kekeh Lovy, ibu dari dua orang anak itu malah ikut menjahili si bujang lapuk, yang sebentar lagi akan melepas gelar besarnya.
Ragata semakin menghela napasnya kasar, sang kembaran memang selalu jahil padanya sejak dulu. Bayangkan saja, saat dulu Raga pertama kali mendapatkan honor dari Crishtian, Lovyna segera membegalnya dengan meminta sebuah mobil sport keluaran baru, yang harganya tidak murah.
Saudara kembarnya ini memang tidak menyayanginya, Lovy hanya menyayangi ATMnya, dan sialnya Lovt mengiyakan. Membuat Raga menggelengkan kepalanya dramatis kala itu.
Dan kini, disaat dia akan melakukan hal yang paling bersejarah didalam hidup untuk pertama kalinya, Lovy pun ikut menjahilinya.
"Ayo, Bapak Penghulu sudah datang!"suara interuksi dari Ilham, membuat ketiga anaknya menoleh.
Ilham mengulurkan tangan pada Raga, karena Mace Reina tengah sibuk dengan Elira, maka Ilham dan Gala yang menjemput Raga dikamar tamu saat ini.
"Ayo Pah!" sahutnya yakin
🍌
🍌
🍌
Disaat mereka semua menanti kedua calon pengantin keluar kandang, disana ada seorang wanita muda yang tengah menatap seorang pria tanpa berkedip, tengah berbicara dengan Barata.
Pria yang akan nenikahkan Omnya sebentar lagi, dia tidak menyangka kalau akan bertemu kembali dengannya disebuah pesta pernikahan.
"Ini pertemuan ke empat kita, Bapak Penghulu ganteng. Yang pertama di pesta Kak Bell, yang kedua ditaman, yang ketiga di pinggir jalan, dan yang ke empat dipesta pernikahan, lagi. Grecia bakalan pastiin, kalau pertemuan kita yang selanjutnya, kita akan bertegur sapa." gumamnya penuh harap.
Alunan lagu MELEPAS LAJANG mengalun, kala sepasang calon pengantin masuk keruang ijab kobul. Cia bahkan segera menempatkan dirinya disamping sang Papi, lalu merangkul lengan pria itu erat.
Keluarga Samudera berjalan dibelakang Raga, yang terlihat sangat gagah dengan balutan pakaian adat Palembang, mengikuti daerah asal sang Papa.
Bahkan Alvian dan Aryo pun, ikut menghadiri pernikahan Elira dan Raga. Alvian hanya melakukan tanggung jawabnya sebagai Ayah, untuk menikahkan putrinya, tidak lebih. Bahkan istri kedua, serta putrinya keduanya tidak hadir sama sekali.
Semua tamu berdiri, kala melihat Raga dan rombongan datang, disusul oleh Elira. Semua mata tertuju pada sepasang calon pengantin, yang tengah berjalan menuju kursi yang sudah disediakan.
Raga menghela napasnya berkali kali, kedua matanya menatap sang penghulu yang akan menikahkannya.
"Bagaimana? Tuan Raga sudah siap?" tanya sang Penghulu, bahkan penghulu itu tersenyum tipis pada Raga, membuat lesung pipinya terbentuk.
"Saya siap!" ucap Raga yakin
"Baiklah, karena wali nikah dari pihak calon pengantin wanita, menyerahkan semuanya pada saya. Jadi, saya yang akan menikahkan anda dengan putri kandung Bapak Alvian Pratama," ujar Bapak Penghulu
Raga menganggukkan kepalanya yakin, setelah mengikuti seluruh arahan Penghulu, akhirnya sampailah diacara inti.
Elira yang tengah duduk disebelah Raga, bahkan ikut menghela napas dalam, kala melihat kedua tangan pria yang ada didekatnya saling bersentuhan. Padahal sebenarnya, Elira ingin sekali sang Papa yang menikahkannya secara langsung.
"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ragata Elang Samudera, dengan Elira Dianty binti Alvian Pratama, dengan mas kawin satu set berlian dan sebuah rumah mewah berlantai tiga, dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Elira Dianty binti Alvian Pratama dengan mas kawin tersebut tunai!"
"Bagaimana para saksi, sah?"
"SAH!" seruan keras para saksi dan para tamu undangan serta keluarga, menggema pernikahan Elira dan Ragata.
"Alhamdulillah hirobillalamin."
Ragata berseru kencang, sembari mengangkat kedua tangannya. Membuat Elira mengalihkan pandangannya kearah lain, sembari bersemu merah.
"Haahaaa bujang tua udah sold out!" seru Mace Reina membuat para tamu menatap kearahnya.
**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
JANGAN LUPA BUAT LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH**