Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Nyiram Bibit Pisang


Hoek...


Hoek...


Berliana meraba sisi tempat tidurnya, dahinya mengerenyit kala merasakan tempat disebelahnya kosong. Kedua matanya terbuka, kala mendengar orang muntah dari dalam kamar mandi.


Bahkan Berliana masih menyempatkan diri untuk melihat Lora, yang masih tertidur pulas di ranjang kecilnya, sebelum dia berjalan menuju kamar mandi.


Tok


Tok


Tok


"Ai? kamu didalam?" panggil Berliana, bahkan wanita yang tengah hamil muda itu kembali mengetuk, kala tidak ada sahutan dari dalam.


"Ai? kamu ken...," ucapan Berliana terhenti kala melihat pintu kamar mandi terbuka.


Wanita cantik yang hanya memakai baju tidur tipis itu, segera menangkub  wajah Radja dengan kedua tangannya. Wajahnya menyendu kala melihat wajah pucat suaminya, ada rasa kasihan karena Radja harus mengalami ngidam, atau kehamilan simpatik.


Namun, ada rasa bahagia yang tengah menyelimuti hati Berliana, karena kata orang, kalau sang suami yang ngidam, itu tandanya sang suami begitu mencintainya.


"Capek ya muntah terus?" tanya Berliana prihatin, tidak bisakah ship muntahnya dibagi. Pagi bagiannya lalu sore atau malam bagian Radja, soalnya Berliana tidak tega melihat sang Radja seperti ini.


Biar pun berbadan besar dan berotot, kalau sudah gejala ngidam dan muntahnya datang, Radja akan lemas tak berdaya, seperti sekarang ini.


"Cium, biar capeknya hilang." pinta Radja, sembari menyatukan kedua dahi mereka.


Pria berambut gondrong itu terlihat memejamkan kedua mata, menikmati rasa mual yang masih mengaduk lambungnya. Namun Radja bertahan sekuat mungkin, agar tidak membuat Berliana semakin khawatir.


Bukannya tersiksa atau pun risih, justru Radja begitu menikmati masa masa ini. Berliana yang mengandung, dia yang ngidam dan muntahnya, cukup adil bukan. Kenapa harus selalu para calon ibu yang mengalami semua itu, seharusnya sang calon Ayah pum ikut menikmatinya.


"Mau cium?" tanya jahil Berliana pada suaminya, kedua tangannya pun sudah bertengger dibahu kokoh berotot tanpa pelapis.


Bahkan dengan nakal, Berliana meremas kepala belakang Radja. Wanita yang tengah hamil muda itu berjinjit, semakin merapatkan diri pada tubuh half naked suaminya.


"Mau cium dimana, Daddy?" bisik parau Berliana tepat didepan bibir Radja, yang sedikit terbuka.


"Semuanya." jawaban singkat Radja, membuat Berliana semakin mengembangkan senyum.


Keduanya semakin mendekat, bahkan kedua tangan Radja sudah mencengkram posesif pinggang kecil sang Ratu. Kedua mata hazel miliknya menatap penuh damba pada bibir tipis, yang selalu bisa membuat Radja melayang.


Tanpa menunggu Berliana siap, sang Radja sudah memulainya terlebih dahulu. Radja segera mengecup, bahkan sudah menyesap bibir atas dan bawah Berliana,tanpa ingin mengakhirinya.


Grep!


Sekali angkat, tubuh Berliana sudah berada didalam gendongan Radja. Sebelum perut Berliana semakin membesar, dan pastinya akan menyusahkan kala menggendongnya dalam posisi koala. Sepertinya, Radja akan selalu melakukan ini selama perut Berliana belum membesar.


"Mau main dimana? sofa? atau," tanya Radja jahil, bahkan pria itu tidak melanjutkan ucapannya. Radja lebih memilih kembali melanjutkan ciuman mereka.


Karena sepertinya, Sang Ratu tidak ingin mengakhiri tautan bibir serta lidah mereka berdua. Bahkan ciuman lembut Radja, sudah turun ke leher hingga bahu terbukanya. Berliana yang semakin kasar meremas rambut gondrong Radja.


"Jangan dikasur!" larang Berliana, kala Radja membawanya kearah tempat tidur.


"Mau dimana, hm?" goda Radja, dekapannya semakin mengerat karena gemas.


"Di sofa aja, tapi biarin aku yang nanam pisangnya, nanti kamu tinggal nikmati hasilnya." bisik nakal Berliana ditelinga Sang Radja.



ORANG GANTENG ORANG GANTENG, PAKE BAJU APA PUN TETAP AJA GANTENG