Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Tanpa Restu, Tidak Masalah


Disaat Radja dan Berliana tengah berjuang mempertahankan hak asuh Lora agar tidak jatuh pada Ranveer, Raga pun tengah berjuang untuk mendapatkan restu Alvian, calon Papa mertuanya.


Kini mereka berdua tengah berhadapan secara langsung, setelah hampir 6 jam lamanya Raga,Elira, Bara, Agatha serta kedua orang tua Raga, juga Lovy dan Gara melakukan perjalanan udara dari Jakarta menuju rumah Alvian.


Tanpa mengenal lelah dan tidak ingin membuang waktu lagi, Raga segera menemui keluarga Elira. Bahkan terlihat Rina dan Farhan pun sudah ikut bersama mereka, setelah Agatha mengabari kedatangan mereka semua.


"Jadi, kedatanganmu kesini ingin mempersunting putriku?" tanya Alvian, diam diam salah satu sudut matanya terlihat melirik pada Agatha yang tengah duduk disebelah Elira.


"Benar, saya datang kemari dengan maksud baik. Ingin meminta restu anda, dan izin untuk menikahi Elira secepatnya." tegas Raga, kedua mata elangnya menatap kedua mata pria yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya.


Alvian terlihat mengangkat sebelah sudut bibirnya, pandangannya beralih pada Elira yang tengah menatap kosong padanya.


"Apa kau sudah tidak bisa mendapatkan pria yang lebih muda darinya, Elira? usianya bahkan tidak jauh berbeda dengan Papa mu ini. Atau mungkin kau akan dijadikan istrinya yang kesekian?" ucapan Alvian membuat Elira yang tadinya menatap kosong, kini terlihat menatap dingin pada sang Papa.


"Setidaknya, walaupun aku akan menjadi istri kedua ketiga atau bahkan keempatnya, aku tidak akan pernah mempengaruhi suamiku untuk membuang darah dagingnya sendiri." ucapan menohok yang dilontarkan Elira, membuat sang Ibu tiri menatap tidak suka kearahnya.


Namun, Elira menanggapi tatapan tidak suka itu dengan senyuman tipis. Tatapan dingin miliknya masih terlihat kala Alvian juga menatapnya tidak suka.


"Baru beberapa bulan kau tinggal di kota besar, ucapanmu sudah lebih berani pada kami. Ingat Elira,tanpa restu dari ku kau tidak akan pernah bisa menikah dengan pria ini atau pria mana pun." ucapan Alvian sarat dengan ancaman dan peringatan, namun tidak sedikit pun membuat Elira gentar.


Wanita muda itu malah menyunggingkan senyuman tipis pada sang Papa. Bahkan Elira sudah memposisikan dirinya bangkit, lalu mendekat pada Raga dan duduk disebelah prianya.


Raga sedikit tersentak kala Elira meraih telapak tangannya, dan menggenggamnya erat. Bahkan Elira tersenyum tulus pada Raga, kala calon suaminya itu menatap teduh padanya.


"Dengan restu atau tanpa restu Papa sekali pun, kita berdua akan menikah. Sejujurnya aku tidak mengharapkan restu dari mu Papa, karena selama 20 tahun ini aku menganggap Papa kandungku sendiri sudah mati. Aku hanya memerlukan restu Pak Cik Bara, Mak Cik Tata, Nenek Rina danĀ  Kakek Farhan. Aku tidak butuh restu dari mu atau pun keluargamu, jadi kalau kau memang tidak mau memberikanku restu dan izin, itu tidak masalah,"ucapan Elira yang terkesan tenang membuat semua orang yang ada disana menahan napasnya.


Sedangkan Elira terlihat tenang, bahkan kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.


Elira tidak peduli dengan tatapan semua orang yang mengarah ke padanya. Dia tidak akan membiarkan Alvian berbuat semena mena lagi padanya, sudah cukup Elira diperlakukan tidak adil selama ini oleh sang Papa. Jadi apa salahnya kalau saat ini Elira menganggap Alvian sudah tiada bukan?


"Hati hati dengan ucapanmu itu Elira! kamu menganggap Papa kamu sudah tiada! lancang sekali kamu, benar benar anak tidak tahu diri!" sarkas sang Ibu tiri pada Elira


"Apa ada yang salah? bukannya mau ada atau tidak Bapak Alvian memang tidak pernah ada untuk saya, jadi lebih baik saya menganggapnya demikian bukan, saya rasa obrolan ini sudah cukup. Terimakasih sudah menyambut kedatangan kami, Ibu tiri. Kalau kalian sudi, silahkan datang kepernikahan kami. Tapi kalau tidak, aku juga tidak akan memaksa." balas Elira, dengan kedua matanya masih menatap datar dan dingin pada Sang Papa, yang sudah dia anggap mati sedari dulu.


Elira kira, kedatangannya kemari akan disambut baik oleh Alvian. Namun ternyata, perlakuan sang Papa sama saja. Selalu merendahkan serta memandangnya sebelah mata, bahkan terlihat jelas sekali kalau Alvian lebih bahagia dengan keluarga barunya.


"Ayo Bang, kita sudah tidak dibutuhkan lagi disini." ucap Elira tenang sembari meraih lengan Raga yang tengah menatap Alvian tajam.


Tanpa sepatah kata pun Elira lebih dahulu meninggalkan mereka,karena Raga dan yang lainnya tidak kunjung bangkit dari duduk.


"Terimakasih atas sambutannya Bapak Mertua, aku hanya ingin berpesan, kau jangan pernah menyesal bila suatu saat nanti kau sudah tidak bisa melihat putrimu lagi. Karena aku tidak bisa berjanji, kalau Elira akan tetap dinegara ini. Aku menanti kedatangan kalian berdua dipesta pernikahan kami nanti, mungkin bukan hanya memberikan restu, namun salam perpisahan." ucap tenang Raga membuat Alvian mematung, terlihat Raga segera bangkit dari dudu dan segera menyusul Elira.


"Kau akan menyesal karena sudah menyia nyiakan putrimu!" Agatha ikut menimpali, setelah itu dia pun segera keluar dari kediaman mantan kekasihnya itu, diikuti oleh Bara dan yang lainnya.


"Kami permisi, Bapak Alvian." pamit Ilham sopan sebelum dia menyusul langkah Reina, sang istri.



PENTUNG AJA PAKE SAPU BANG SI CAT ALVIANNYA, DEVINISI CALON BAPAK RUMAH TANGGA