
Setelah obrolan panjang mereka, kini Radja dan Berliana tengah berada dikerumunan para burung merpati putih yang tengah berebutan biji kacang hijau.
Radja sengaja membawa satu plastik kacang hijau dari rumahnya tadi, pria itu tertawa kecil saat melihat Berliana menjerit saat burung burung setia itu mematuki telapak tangannya yang berisikan biji kacang hijau.
"Minta lagi!" Berliana mengadahkan tangannya pada Radja yang berada disisinya.
"Sudah taruh saja dibawah, nanti mereka bisa mencarinya sendiri." Radja meletakan satu genggam biji kacang hijau diatas rumput.
"Ini Ibu kamu gak marah kacang ijonya di bawa sama kita, nanti kalau nyariin gimana? sayang banget, coba kalau dibikin bubur. Eh tapi aku gak suka bubur kacang ijo, sukanya kolak pisang." Satu tangan Berliana terulur untuk meraih satu burung merpati yang mendekat kearahnya.
"Ayo! lihat rok kamu kotor jadinya." Radja membantu Berliana untuk bangkit setelah biji kacang hijau yang ada diatas telapak tangannya habis.
"Nanti bisa dicuci." Jawab Berliana enteng, pandangan wanita itu beralih pada sekumpulan angsa liar yang tengah berteduh ditepi danau.
"Angsa nya banyak banget, kalau Kevin ikut pasti seneng ada temen satu jenisnya." Berliana menepuk roknya yang sedikit kotor, kedua kakinya membawa dia melangkah menuju sekumpulan unggas berbulu putih.
Radja yang tengah mengotak atik ponselnya tidak sadar kalau Berliana sudah menjauh darinya. Radja terlihat tengah membalas sebuah pesan dari seseorang.
"Queen kita makan siang du...," Ucapan Radja terpotong saat dia tidak melihat Berliana disisinya, kedua netra hazelnya membelalak saat melihat Berliana tengah berlari kecil menuju sekumpulan angsa liar.
"Queen jangan dekat dekat, mereka angsa liar bukan Kev...," seruan Radja kembali terputus
"AAAKKHHHHH PAPA BELL DIKEJAR ANGSA, HUSH HUSH HUSH." Berliana beryteriak, dia putar balik berlari kembali kearah Radja. Pria itu pun terlihat segera berlari menuju sang kekasih.
"RADJAAAAA!" Berliana merentangkan kedua tangannya saat melihat Radja berlari kecil menuju arahnya, Angsa jantan yang sedang mengejar Berliana pun masih mengejar wanita itu sembari memajukan leher panjangnya kearah belakang tubuh Berliana.
Greep!
Dengan satu lompatan Berliana sudah berada didalam gendongan Radja. Pria itu hampir saja terhuyung kebelakang akibat gerakan Berliana yang tiba tiba.
"Kan sudah aku bilang, mereka angsa liar bukan kayak angsa yang ada dirumah kamu Queen. Angsa jantan itu merasa kamu adalah musuh kelompoknya karena sudah berani masuk daerah teritorialnya" Radja terus saja berbicara sembari menghalau angsa jantan itu agar segera pergi.
"Aku kira sama aja, ya maaf. Tapi dia bener mau nyosor aku kayak Kevin sama Angel pas kecil dulu, sakit banget tau kalo disosor sama angsa." Berliana terus saja berbicara tanpa menyadari posisi mereka saat ini, wanita itu terlihat menikmati apa yang sedang dia lakukan pada Radja.
Kedua tangannya masih membelit leher serta kepala kekasihnya, sedangkan kedua kakinya membelit sempurna tubuh si Duku Mateng.
Jangan lupakan pakaian yang saat ini dipakai oleh Berliana, roknya tersingkab hingga paha, karena posisinya saat ini. Untung saja Berliana masih memakai hot pant selutut, kalau tidak mungkin auroranya sudah terlihat kemana mana.
Kedua lengan Radja pun terlihat dengan mudah menopang tubuh Berliana, Radja berjalan santai menuju pondok yang tidak jauh dari mereka.
Jder!
Suara guntur membuat Berliana mengadahkan kepalanya memandang langit. kening Berliana berkerut, kenapa langit tiba tiba mendung. Padahal dia masih ingin lama lama ditempat ini, Berliana menghela nafasnya pelan. Saat kepalanya menunduk, kedua netra hitamnya bersitubruk dengan netra hazel milik Radja yang juga tengah menatapnya.
Karena posisi tubuh Berliana sedikit lebih tinggi dari Radja, Berliana harus menunduk lebih lagi saat Radja tiba tiba menempelkan dahi mereka. Berliana bahkan memejamkan kedua matanya saat merasakan nafas hangat berbau mint menerpa wajahnya.
JDER!
Guntur semakin keras, keduanya kembali tersadar. Walaupun hanya menempelkan kening satu sama lain,namun Radja dan Berliana terlihat salah tingkah.
"Kita pulang, kelihatanya mau hujan badai." Radja mempercepat langkahnya menuju mobil saat mereka sudah melewati pondok.