Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Akibat Mengabaikan


Berliana menatap sengit pada Radja yang sudah berhasil melucuti semua pakaiannya. Wanita itu menatap malas pada sang suami, yang tengah tersenyum mesum padanya.


Entah kenapa selama beberapa hari ini emosinya selalu tidak terkendali, salah satu tangan Berliana meraih bantal, lalu melemparkannya pada Radja yang masih tersenyum misterius.


" Gak usah senyum kayak gitu ya! siniin baju aku!" Berliana berusaha meraih br*a yang tengah dipegang oleh Radja. Kedua mata Berliana semakin membuat kala melihat Radja hendak meraih underwear miliknya yang tercecer dilantai.


"Stop! maju selangkah lagi aku bakalan marah!" ancam Berliana pada Radja, wanita itu merangkak untuk meraih selimut yang sudah dicampakkan Radja kelantai.


"Diem disitu! jangan berani ngambil yang itu!" lanjut Berliana sembari menuruni tempat tidur, dia tidak peduli kalau saat ini dia tengah full naked.


"Ai! aku bilang jangan gerak!" pekik Berliana kala melihat Radja hendak menggerakkan salah satu kakinya.


"Jangan berisik My Queen, nanti Lora bisa bangun. Kamu gak mau kan kalau Lora kecil kita, melihat Mommy nya dalam keadaan," ujar Radja, bahkan dia menggantung kalimatnya sembari terus saja melangkah kecil menuju Berliana.


"Kamu nyebelin tau gak!" ucap Berliana kesal kala melihat Radja semakin mendekat padanya.


"Aku juga cinta sama kamu Queen." sahut Radja tidak nyambung.


Berliana semakin keki dibuatnya, namun mulut serta hatinya berdusta. Saat mulutnya berkata tidak, hatinya terus saja menyuruhnya untuk menatap penuh minat tubuh setengah telanjang Radja saat ini.


Berliana terus saja menghela napas berkali kali saat bisikan malaikat pencatat pahala terus saja mempengaruhinya.


'Pegang saja Berliana,'


'ayo peluk saja,'


' nikmati saja, itu kan suamimu,'


Kira kira begitulah rayuan maut sang malaikat pencatat amal baik, Berliana menggigit bibir bawahnya kala Radja sudah berjarak beberapa belas centi meter lagi denganya.


Kedua tatapan mereka beradu, bahkan Berliana seakan terhipnotis oleh tatapan lembut yang selalu Radja berikan padanya. Tatapan yang selalu membuatnya bersikap murahan pada pria itu. Benar saja, saat ini kedua tangan Berliana sudah menyusuri pundak kokoh suaminya, perlahan menyentuh lembut tengkuk Radja, laly berakhir di kedua rahang tegas pria itu.


Bahkan kedua mata Berliana sudah merambat turun menuju dada serta perut liat dan keras milik Radja. Secara sadar Berliana mulai menurunkan satu tangannya untuk menyusuri dada hingga perut sang suami.


Dengan gerakan sensual, Berliana berhasil membuat Radja menahan napasnya. Bahkan Berliana bisa melihat kalau saat ini jakun milik Radja tengah naik turun, minta disentuh.


"Dia udah tumbuh?" tanya Berliana sembari mengelus gundukan besar dibalik boxer ketat yang saat ini dipakai oleh Radja.


"Itu karena kamu, Queen." erang tertahan Radja saat merasakan salah satu tangan Berliana meremas pelan si pisang raja yang sudah siap berkebun.


Berliana semakin sengaja meremas penuh perasaan, senyuman jahil terbentuk disalah satu sudut bibirnya, kala melihat kedua mata Radja terpejam.


"Udah ya, aku mau mandi. Bye bye pisang Radja ku." bisik lembut Berliana tepat didepan bibir suaminya.


Bahkan Berliana dengan nakal memberikan kecupan singkat dibibir sang Radja,sebelum dia lari menuju kamar mandi.


Radja membuka kedua matanya kala sudah tidak merasakan apa pun lagi, pria berambut gondrong itu menyugar rambutnya frustasi.


"My Queen! Queenza buka pintunya, kamu harus tanggung jawab!" geram Radja saat melihat selangkangnya sudah siap menanam.


Sedangkan didalam kamar mandi, Berliana terkikik sendiri.


"Suruh siapa menelanjangi aku tapi gak di apa apain, enakkan?" monolog Berliana