Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Berharap Sebuah Kecupan


"Aku pulang dulu, ingat langsung tidur jangan begadang!" Radja terus saja berbicara, sedangkan orang yang dia ajak bicara lebih tertarik untuk menatap wajahnya dari pada mengiyakan semua perkataannya.


"Queen?" Radja memiringkan kepalanya saat dia melihat Berliana tersenyum sendiri sembari menatapnya tanpa berkedip.


Bukannya menjawab, Berliana malah ikut memiringkan kepalanya mengikuti gerakan Radja. Senyuman dikedua sudut bibirnya semakin melebar, senyuman yang selalu membuat Radja sulit untuk berpikir waras.


"My Queen?" Panggil Radja kembali, dan sepertinya kali ini Berliana tersadar dan kembali kealam nyatanya.


"Ah i-iya kenapa?" Berliana terlihat salah tingkah saat melihat wajah Radja begitu dekat dengan wajahnya. Kenapa mereka bisa sedekat ini, kalau sampai ketahuan sang Papa bisa bisa dinikahkan malam ini juga. Tapi bukannya bagus kalau dia dan Radja dinikahkan oleh Barata dan Agatha malam ini?


Senyuman Berliana kembali terbit, namun seperdetik kemudian dia menggelengkan kepalanya. Nikah tanpa rencana? tidak itu tidak boleh terjadi. Biarpun dia cinta sampai tidak waras pada Radja, kalau mereka menikah tanpa rencana matang, itu jangan sampai terjadi.


"Queen, kamu baik baik saja." Radja meraih wajah Berliana, kedua netra mereka bertemu dalam satu titik. Netra hazel milik Radja begitu terpesona dengan netra hitam bening milik Berliana.


"Entah kenapa rasanya aku pernah melihat mata ini sebelumnya, tapi dimana?" Radja menyentuh lembut kelopak mata Berliana hingga membuat kedua mata itu terpejam.


"Benarkah?" Berliana menjawab lirih


"Hm, tapi aku lupa." Radja terkekeh kecil, tapi dia berusaha mengingat dimana dia pernah melihat kedua netra yang mirip seperti milik Berliana.


"Aku juga merasa kalau kedua mata hazel milik mu itu tidak asing, rasanya aku pernah melihatnya waktu kecil, tapi entahlah aku juga tidak tahu siapa orang itu." Berliana menyedikan bahunya tak acuh, senyumannya kembali mengembang, kedua netra hitam beningnya pun kembali terbuka, menatap sebuah ciptaan Tuhan yang maha sempurna dihadapannya saat ini.


"Oke, ya sudah sekarang kamu masuk! ini sudah malam. Aku juga harus pulang, aku yakin Lora sudah tidur sedari tadi, dia pasti menungguku." Radja merapihkan anak rambut Berliana yang terbang ditiup angin malam.


"Siap My Queen!" Radja tersenyum tipis pada Berliana, pegangan tangan mereka terlepas saat Radja mulai melangkah meninggalkan Berliana yang masih terdiam diteras.


Tidak ada kecupan selamat malam, mungkin itu terlalu cepat, hubungan mereka bahkan baru terjalin beberapa jam yang lalu bukan. Berliana mengigit kukunya gemas, kenapa disaat semua hal yang berhubungan dengan Radja, otaknya pasti tidak waras. Contohnya saat ini, dia malah berharap kalau Radja akan mengecup keningnya sebelum pria itu pulang. Atau mungkin bibirnya, astaga dragon ball betapa murahannya hati dan tubuhmu kala berhubungan dengan sang Radja.


Berliana mengerutuki dirinya sendiri didalam hati, senyumnya dia kembangkan saat Radja melambaikan tangan padanya. Berliana pun dengan sepenuh hati membalas lambaian tangan kekasihnya.


Kekasih?


Astaga, Berliana langsung berjingkrak saat mengingat hal itu. Senyumannya semakin mengembang, bahkan dengan dramatis Berliana memeluk pilar yang ada didekatnya. Wanita itu terkikik sendiri, rasanya malam ini dia tidak akan bisa tidur. Apa lagi saat nanti Radja menghubunginya, mungkin Berliana akan meminta Radja untuk menelpon atau video call.


Berliana menepuk kepala sendiri dengan gemas, tanpa sadari kelakuannya itu sejak tadi diperhatikan oleh keluarganya dari balik pintu.


"Berlian mu mabok duda Mas." Agatha tertawa geli melihat kelakuan putrinya, putrinya yang selalu menginginkan duda sejak kecil. Oke jadi pesannya sekarang adalah jangan pernah berharap apa pun disaat kita kecil, karena saat kita besar nanti pasti terwujud. Contohnya Berliana, berharap mendapat suami duda saat dia dewasa nanti, dan kini keinginannya terwujud.


"Astaga kenapa aku harus berbesanan dengan Rajasa si angkuh , bisa darah tinggi aku kalau bertemu dengan si tua menyebalkan." Bara terus saja menggerutu, dari sekian rivalnya dilapangan Rajasa lah yang paling sering membuatnya darah tinggi hingga darah rendah bahkan asam urat dan encok saat mereka berdebat.



BONUS, SIAPA TAHU ADA YANG KANGEN🙈🙈