
Berliana terus saja menggerakan tubuh Lora kekiri dan kekanan mengikuti alunan lagu hindi yang diputar didalam mobil Radja. Saat ini mereka bertiga hendak menuju kesalah satu cafe yang lumayan jauh dari kediaman keluarga Radja. Cia ,Elira dan Yasmine mengajaknya untuk makan siang bersama sembari ngobrol cantik.
Sayangnya Radja kali ini tidak bisa ikut bersama dengan mereka berempat, dan kini menjadi berlima karena Berliana turut membawa sigembul Lora.
Radja tersenyum tipis melihat interaksi antara Berliana dan Lora, keduanya tidak terlihat ibu dan anak sambung. Berliana dan Lora terlihat seperti teman bermain, bahkan Lora ikut menggerakan kepalanya kala melihat Berliana mengajarinya bergoyang.
"Bell na Ola," ucap balita itu sedikit tidak jelas, namun Berliana mengerti apa yang tengah diucapkan oleh Lora padanya.
"Bell punya Lora, terus Papa punya siapa?" entah kenapa Berliana membiarkan Lora tidak memanggilnya dengan sebutan Mama atau pun Ibu.
Menurutnya, pendekatan secara batin lebih penting dari pada hanya sekedar panggilan. Suatu saat setelah Lora mengerti, pasti dia akan memangilnya dengan panggilan Maka atau Ibu.
"Papa na Bell," ucap Lora lagi, balita cantik itu menatap pada Radja yang tengah menyetir. Hot Papa itu hanya tersenyum tipis, dan menoleh sekejab pada kedua wanitanya.
"Papa memang sudah jadi miliknya Mommy kamu sayang, dari atas sampai bawah, bahkan luar dan dalamnya juga," ujar Radja pelan, bahkan pria itu terkekeh kala melihat wajah merona Berliana.
Tidak lama mereka akhirnya sampai dicafe, Berliana meminta Cia untuk mencarikan meja yang jauh dari jangkauan asap rokok, karena kali ini dia membawa Lora bersamanya.
"Nanti kalau sudah selesai, telpon saja oke! mungkin sekitar jam 3 meetingnya selesai," ujar Radja lembut
"Oke Papa!" ucap Berliana mengikuti suara anak anak, sedangkan Lora terlihat tertawa kecil saat Radja mengecupi kedua pipi gembulnya.
Bahkan Radja juga tidak lupa memberi dua kecupan di dahi serta bibir Berliana, sebelum sang istri keluar dari mobil.
"Dah Papa!" Berliana melambaikan tangan kecil Lora pada Radja saat mobil pria itu mulai meninggalkan mereka berdua.
Setelah mobil Radja sudah tidak terlihat, Berliana segera memasuki cafe. Wanita itu mengedarkan kedua matanya untuk mencari ketiga wanita yang mengajaknya janjian ditempat ini. Lora yang ada digendongannya terlihat ikut menatap kemana Berliana menatap.
"Tante Cia dimana sih?" monolog Berliana
"Maaf, saya tidak seng...,"
"Tidak apa apa, lain kali berhati hatilah!" ucapan Berliana terpotong oleh orang yang hampir saja ditabrak.
Bahkan Lora pun terlihat mendongak saat melihat Berliana tidak henti menatap orang yang hampir mereka tabrak.
"Kenapa matanya mirip sama...," ucapan Berliana terhenti, lalu dia menatap pada Lora. Lebih tepatnya kearah kedua mata Lora, warna mata yang terlihat sama dengan orang itu.
"Tatapannya dingin banget, pria yang aneh." monolognya lagi, Berliana pun kembali melanjutkan pencariannya.
"Ayo kita cari Tante Cia lagi!" seru kecil Berliana sembari mengangkat salah satu tangan kecil Lora.
Tanpa Berliana sadari, setiap gerak geriknya tidak lepas dari kedua mata dingin dan tajam seseorang dari salah satu meja Cafe. Bahkan orang itu menyunggingkan senyuman misterius pada punggung kecil Berliana.
"Akhirnya." gumamnya pelan
**HOLLA MET PAGI SIANG SORE MALAM GUYS
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART
MUUUAAACCHHH**