Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Dil Hai Tumhaara


"Baru pulang kamu?"


Langkah Radja terhenti saat mendengar suara sang Ayah, Radja yang baru saja masuk kedalam rumahnya, sedikit terkejut saat melihat Rajasa Ayahnya ternyata sudah pulang dari Rusia.


"Ayah sudah pulang?" bukannya menjawab pertanyaan Ayahnya, Radja malah balik bertanya pada Rajasa.


"Tadi sore Ayah pulang, bagaimana keadaan perusahaan kita disini?"


Rajasa meletakan majalah bisnisnya yang sedari tadi dia baca, pria paruh baya itu menepuk ruang kosong yang ada disebelahnya untuk diduduki Radja.


"Aku berhasil mengajukan kerjasama bagi hasil dengan ADAM CORP beberapa waktu yang lalu." Radja mendudukkan diri didekat sang Ayah, sebenarnya dia dan Rajasa Ayahnya sudah lama tidak mengobrol santai seperti ini. Dia dan sang Ayah akhir akhir ini lebih sibuk, mengurus perusahaan mereka yang mulai, menanjak setelah Radja berhasil memenangkan beberapa lahan di Martapura Kalimantan Selatan, yang akan mereka garap secepatnya.


Bahkan lahan kelapa sawit tua yang Radja sangka banyak mengandung bibit berlian biru, ternyata malah mengandung berlian hitam alias si batu bara. Alhasil, Radja mengajukan kerjasama dengan ADAM CORP. Entah kenapa padahal masih banyak perusahaan pertambangan batu bara yang sama besarnya dengan ADAM CORP, namun Radja malah memilih perusahaan yang dimiliki oleh rival sang Ayah dalam berebut lahan.


"ADAM CORP? perusahaan si Barata?" Rajasa terkekeh, ternyata putranya ini memilih perusahaan rivalnya untuk melakukan kerja sama dengan DEWANGGA GROUP.


"Baiklah, hati hati saja. Barata tidak akan mentolelir partnernya yang ketahuan main curang. Untung sedikit tidak masalah, yang penting kita jujur itu lebih baik. Kalau kamu sampai melakukan kesalahan sedikit pun terhadap ADAM CORP, Ayah yakin si Bara panas membara itu akan dengan mudahnya menjungkir balikan DEWANGGA GROUP dalam waktu beberapa hari saja."  Rajasa terlihat serius saat memperingati sang putra.


"Iya Ayah, aku akan selalu ingat pesan Ayah." Ucap Radja


"Bagus! oh ya, Ayah dengar Si Bara itu punya anak perempuan, kamu tidak melihatnya waktu melakukan kerjasama itu?" Rajasa memajukan tubuhnya agar lebih mendekat pada Radja.


"Tidak, aku hanya bertemu dengan Pak Barata dan Pak Damarta saja." Ucapan Radja membuat Rajasa menjauhkan tubuhnya kembali.


"Sayang sekali, Ayah yakin kalau kau bertemu dengannya pasti kau akan langsung jatuh cinta dibuatnya." Rajasa melirik Radja lewat sudut matanya saat melihat wajah malas Sang Putra.


"Ayah bicara apa sih, sudahlah aku mau lihat Lora dulu." Radja segera bangkit meninggalkan Rajasa yang terus memanggil namanya.


"Dasar duda primitif, disuruh lihat perawan cantik tidak mau!" Rajasa terus saja mengomel saat Radja tidak menanggapi ucapannya. Rajasa hanya ingin Radja kembali membuka lembaran hidupnya yang baru, Radja pantas bahagia setelah apa yang sudah banyak hal buruk yang terjadi padanya selama ini.


"Ayah harap kamu akan secepatnya menemukan kebahagiaanmu sendiri Nak, Ayah bahkan merasa menyesal karena sudah menyetujui perjodohanmu dulu." Ucap lirih Rajasa


Rajasa memejamkan kedua matanya sembari bersandar disandaran sofa, dia melakukan semua itu hanya karena ingin Radja diakui juga oleh Kakeknya sendiri. Setidaknya biarpun dia dibuang oleh sang Ayah, Radja tidak sampai mendapatkan perlakuan yang sama dengannya.


Namun ternyata Rajasa salah, Rohid sang Ayah hanya ingin memanfaatkan Radja saja. Hingga akhirnya saat Disha bunuh diri, dia dan keluarganya memutuskan untuk keluar dari rumah sang Ayah dan memilih untuk tinggal di rumah dua lantai yang memang cukup kalah jauh dengan rumah mewah milik keluarga MALIK.


Sedangkan didalam kamar sana, Radja terlihat membaringkan tubuhnya di peraduannya. Kedua matanya terpejam, namun entah kenapa kedua sudut bibirnya malah terangkat keatas.


"Queenza, bolehkah aku berharap padamu. Berharap sebuah rasa yang selama ini belum pernah aku rasakan sebelumnya, kau terlalu sempurna untukku yang sudah cacat ini. Tapi hati ini tidak bisa ingkar, dia terlalu nyaman saat berada didekat mu Queen. Bahkan nama kita seperti sudah ditakdirkan untuk berpasangan bukan? ini kebetulan atau memang sudah ditakdir Tuhan? semoga kau juga merasakannya Queenza."


Suara lirih Radja menggiring dia ke alam mimpi, bahkan dia lupa untuk menemui Lora yang ada dikamar Ibunya saat ini karena ketiduran.


Di sisi lain, seorang wanita tengah memandang langit malam di atas balkon kamarnya, sembari ditemani oleh dua boneka berwarna kuning kesayangannya.


"Radja, Dil hai tumhaara." (hati adalah milikmu)



**YUHUUUUUU JANGAN LUPA KLIK LIKE KOMEN VOTE HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT TOMORROW


BABAYYYYY MUUUUUAAAACCHHHH**