
"Kalian gak mau nunggu seminggu atau sebulan lagi gituh, pindahnya." ucap Bara pelan, pria paruh baya itu menatap sendu pada Berlian kesayangannya. Ada rasa tidak rela benar benar tidak rela kala putri cantiknya dibawa pergi oleh pria lain.
"Bell bakalan sering kesini Papa, udah dong mukanya jangan kayak gituh. Nanti Bell nangis kalau lihat Papa kayak gini." ucap Berliana sedikit merajuk agar Barata mau mengikhlaskanya pergi bersama Radja. Berliana yakin kalau Bara tidak akan membiarkannya menangis setelah kejadian beberapa tahun yang lalu. Bara kapok, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan membuat Berliana maupun Agatha menangis.
Bara menghela napasnya kasar, pria paruh baya itu meraih kepala sang putri, lalu memeluknya erar. Bahkan Bara memberikan banyak kecupan dipucuk kepala sang putri.
Selama 22 tahun mereka selalu bersama, kini harus terpisah jarak dan tempat tinggal. Ingatan Bara bergulir kemasa lalu, dimana saat itu Berliana lebih memilih mengajak dia ke pesta kelulusan sekolahnya, dengan bangga putrinya itu memperkenalkan dia kepada teman sekolahnya.
Disaat teman-teman sekolahnya membawa kekasih keacara itu, Berliana malah membawa Papanya. Namun ternyata, apa yang dilakukan oleh Berliana membuat banyak teman sekolah seangkatannya merasa iri karena dia begitu dengan sang Papa.
"Janji! udahlah gak usah pergi, mending kamu sama Radja disini saja jangan dirumah si Rajasa. Nanti kalau Papa punya cucu pasti si Rajasa duluan yang bakalan gendong cucu Papa." protes Bara kembali, Agatha yang ada disebelah Barata hanya memijat keningnya.
"Mas, Berlian kita sudah menikah. Jadi Radja sebagai suaminya berhak membawa Berlian kemana pun. Ingat, kamu juga bawa aku dari Ibu, mau kalau Ibu ngambil aku lagi?" Agatha menyadarkan suaminya agar merelakan Berliana dibawa pergi oleh suaminya, karena kalau tidak perdebatan ini tidak akan selesai sampai besok atau bahkan lusa.
"Jangan dong sayang, aku gak akan biarkan siapa pun ngambil kamu lagi dari aku, termasuk Ibu bahkan Tuhan sekalipun!" Bara segera melepaskan pelukannya dari tubuh Berliana. Pria paruh baya itu segera memeluk tubuh Agatha dengan posessive, tanpa memperdulikan kedua orang yang tengah menatap heran pada Bara.
"Jadi, Papa udah ngizinin Radja bawa Bell kan?" ucapan Berliana membuat Bara menoleh, kedua mata hitam legam itu menatap anak serta menantunya secara bergantian.
"Bawa aja, tapi ingat jangan sampai gores sedikit pun Berlian saya ya!" Bara berucap santai namun mengandung banyak makna. Entah sudah berapa puluh kali pria itu memperingati Radja agar jangan sampai membuat Berlian nya tergores apa lagi sampai retak dan pecah.
"Terimakasih Papa sudah mengizinkan aku membawa Queenza, aku berjanji akan selalu menjaga Berlian kalian. Aku tidak akan membiarkan dia tergores, retak apa lagi sampai pecah." ucap Radja penuh dengan keseriusan disetiap kata kata yang terucap dari bibirnya.
"Gavyn, Kakak titip Mama sama Papa ya? Kak Bell pasti kangen sama Gavyn nanti." Berliana mendekat pada bocah laki laki yang tengah menundukan wajahnya.
"Apa Gavyn boleh main kerumah Kak Radja?" tanya Gavyn ragu ragu, kedua netra dark coklat milik Gavyn menatap pada Kakak iparnya.
"Boleh dong, nanti Gavyn bisa main kesana. Bila perlu ajak Davyn juga, kakak tunggu kamu disana Jagoan." satu tangan Radja menepuk pundak adik iparnya, padahal sebenarnya Radja gemas ingin mengusap kepala Gavyndra, namun karena Gavyn tidak suka kalau ada yang mengusak rambutnya, Radja lebih memilih cara lakik.
"Kak Bell?" panggil Gavyn
"Jangan lupa uang jajan Gavyn ya, tiap minggu loh." ucap Gavyn apa adanya.
Tatapan sayang Berliana berubah menjadi tatapan sinis pada adik semata wayangnya.
"Tetap aja matrenya gak ilang!" gerutu Berliana
🍌
🍌
🍌
Setelah melakukan perjalanan selama 30 menit lamanya, kini mereka sudah sampai dikediaman keluarga Radja. Rumah dua lantai namun begitu luas ini, kini akan menjadi tempat tinggal Berliana mulai sekarang.
"Apa dirumah Ayah ada tamu?" tanya Berliana pada Radja yang juga tengah menyipitkan kedua matanya kala melihat dua mobil asing didepan kediamannya.
Radja segera keluar dari dalam mobil setelah pak Rahmat, supir Mama mertuanya sudah memarkirkan mobil dengan benar.
"Den, biar saya saja yang nurunin kopernya." Pak Rahmat meminta izin pada Radja
"Terimakasih Pak, kalau begitu saya sama Queen masuk duluan." Radja segera meraih tangan sang istri, mereka berdua mulai memasuki area dalam rumah.
Berliana memang sudah tidak asing dengan tempat ini, namun suara samar samar yang terdengar dari dalam rumah membuat Berliana menoleh pada Radja.
"Kami hanya ingin mengambil cucu kandung kami sendiri dari tangan orang asing, lalu salahnya dimana?" ucapan seseorang dari dalam rumah membuat Radja dan Agatha segera masuk tanpa permisi.