
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Tiga Hari sudah berlalu.
Hari ini Adelia sudah diperbolehkan pulang.
Elvino sudah mengemasi barang-barang selama mereka tinggal di rumah sakit sejak tadi pagi.
Sekarang tinggal menunggu Dokter Maya datang saja, karena dialah yang bertugas menjadi dokter dari nyonya Adelia Wijaya. Istri dari pengusaha Muda yang terkenal dengan ketampanan nya.
Selama Adelia di rawat di rumah sakit Hospital Center. Tante Mona dan Nyonya Risa selalu menemani saat malam hari. Namun, apabila sudah pagi baru mereka berdua pulang untuk kembali ke rumah.
Soalnya bila siang cukup Elvino saja yang menjaganya, karena si papa idaman bisa melakukan apapun pekerjaan yang berhubungan dengan istri dan anaknya.
Meskipun berat untuk melepaskan Elvino dan Adelia tinggal di rumah mereka sendiri. Apalagi sekarang ada si tampan baby Eza yang hampir sama seperti duplikat ayahnya. Yaitu si playboy cap kampak.
Demi kebahagiaan sang putra yang mau membangun rumah tangganya sendiri. Akhirnya Nyonya Risa mengizinkan juga.
Adelia memang belum tahu jika hari ini mereka akan langsung pindah ke rumah baru yang sudah dipersiapkan oleh suaminya. Di rumah tersebut sudah berkumpul keluarga Wijaya dan juga Paman Hasan beserta istri dan anaknya.
Ceklek!
Suara pintu yang dibuka dari luar. Sehingga membuat Elvino dan Adelia menoleh bersama.
"El, apakah semuanya sudah disiapkan?" tanya Nyonya Risa yang baru saja datang.
"Sudah, Ma! Itu sudah El ke-masi tanpa ada yang tertinggal." jawab Elvino seraya menunjuk pada tas di pojok ruangan kamar VIP tersebut.
"Oh, syukurlah! Biar pak Janwar yang membawanya keluar." Nyonya Risa menoleh kearah sopir pribadinya dan berkata.
"Pak, tolong barang-barangnya di bawa ke mobil, ya. Biar setelah Dokter Maya datang kita tinggal pulang saja." ucapnya dengan sopan.
"Baik, Nyonya. Saya akan membawa ke mobil sekarang." jawab pria tersebut langsung saja membawa barang-barang tersebut ke mobil yang sudah menunggu di depan lobby rumah sakit.
"Cucu Oma tidak tidur lagi," seru wanita setengah baya itu seraya mengambil alih mengedong cucunya.
"Nanti biar Mama yang membawa Eza," ucap beliau membawa sang cucu duduk diatas sofa.
"Apakah tidak apa-apa, Ma?" El yang bertanya karena jika Adelia hanya mengiyakan saja ucapan mertuanya.
"Tentu saja tidak apa-apa, kamu yang nakalnya minta ampun. Bisa Mama besarkan. Apalagi si tampan ini, dia tidak pernah menangis seperti mu." ujar Nyonya Risa yang membuat Adelia tersenyum karena sudah sering ibu mertuanya bercerita bahwa Elvino itu nakal sajak masih dalam kandungan.
Begitu lahir suka menangis sampai umurnya mau menginjak dua tahun. Namun, dikira beliau hanya cukup sampai di situ. Nyatanya Elvino akan menagis mau mengikuti papanya bekerja setiap hari selalu seperti itu.
Mana menagisnya tidak pernah sebentar, jika dibiarkan mungkin sampai sore. Yaitu sampai papanya pulang dari perusahaan lagi.
Apabila di bawa pergi bekerja oleh Tuan Arka. Maka si Elvino kecil minta pulang karena bosan tidak bisa berlarian sesuka hatinya. Sehingga sampai besar pun, ada saja kelakuannya.
Intinya Elvino bisa menjadi seperti sekarang karena sosok Adelia. Jadi makanya Nyonya Risa ikut menginap di rumah sakit karena takut baby Eza mengikuti papanya.
"Tentu saja berbeda, Eza tidak boleh mengikuti Elvino. Dia harus seperti mamanya." ucap Elvino tersenyum saja ketika dibilang nakal, karena memang kenyataannya seperti itu.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki sekertaris Demian baru datang menyusul tuan mudanya.
"Selamat siang, Tuan Muda, Nyonya," sapa si sekertaris sopan pada mereka bertiga.
"Iya, selamat siang juga." jawab mereka serempak. Baru saja Elvino mau bicara, pintu ruangan tersebut kembali dibuka pelan. Ternyata yang datang adalah Dokter Maya bersama perawat yang mendorong kursi roda untuk Adelia sampai ke mobil.
"Wah, si tampan baby Eza sudah mau pulang. Pasti kami akan kesepian setelah tidak ada si kecil ini." seru Dokter Maya tersenyum mengelus pipi si bayi yang belum juga tidur. Setelah itu barulah dia mendekati Adelia untuk kembali memeriksanya sebelum pulang.
"Nona, maaf ya, Saya periksa lagi." ucapnya karena ini sudah untuk kedua kalinya dia memeriksanya.
"Iya, Dok!" jawab Adelia tersenyum kecil. Sedangkan si tampan hanya diam saja seraya mengenggam salah satu tangan istrinya.
"Kerena semuanya berjalan normal, jadi Anda benar-benar sudah diperbolehkan pulang." kata dokter tersebut menggeser tubuhnya ke arah samping. Agar di perawat menaruh kursi rodanya dekat dari ranjang.
"Sayang, ayo," kata Elvino langsung saja merangkul tubuh istrinya dan dia dudukan pada kursi roda dengan pelan.
Tidak sempat istrinya menjawab tidak perlu, si tampan sudah main angkat saja. Sehingga membuat Dokter Maya tersenyum begitu pun dengan perawat yang bersamanya.
Ternyata tidak hanya di perusahaan saja, ketika mereka tinggal di rumah sakit pun. Elvino tetap saja menjadi perbincangan para kaum hawa, yang melihatnya merawat sang istri.
Sudahlah tampan, kaya, perhatian dan juga laki-laki yang menjadi suami maupun ayah idaman. Wanita mana yang tidak iri dan ingin berada di posisi Adelia.
"Mama yang akan menggendong baby Eza. Kalian ayo berjalan duluan. Mama menyusul di belakang," kata Nyonya Risa ikut berdiri dari sofa karena barang-barang mereka akan dibawakan oleh Sekretaris Demian dan Pak Janwar yang telah kembali lagi masuk ke dalam rumah sakit. Untuk membantu membawa sisa barang yang sudah diantar olehnya tadi.
"Iya, Ma," Adelia yang menjawab karena Elvino hanya mendorong kursi roda dengan pelan karena takut istrinya merasakan kesakitan.
Lalu setelah Elvino dan Adelia keluar dari ruangan tersebut. Disusul oleh Nyonya Risa bersama baby Eza dalam gendongannya.
Sedangkan di belakang beliau lagi, ada Sekretaris Demian bersama Dokter Maya dan juga kedua perawat.
Sepanjang perjalanan dari ruangan Adelia dirawat, sampai masuk ke dalam lift dan keluar lagi. Lalu sampai ke lobby rumah sakit. Yaitu tempat di mana mobil mewah Elvino dan Nyonya Risa menunggu.
Mata orang-orang yang melihat pasangan tersebut seakan-akan tidak bisa berkedip. Bagaimana mungkin mereka tidak terpana melihatnya. Adelia dengan kecantikannya. Elvino yang ketampanan yang sudah bersertifikat dan belum lagi bayi tampan yang sedang digendong oleh omanya.
Mereka benar-benar menjadi keluarga impian setiap pasangan di dunia pernovelan. Tidak ada kebahagiaan seperti yang sedang dirasakan oleh Elvino dan keluarganya saat ini.
Berita lahirannya calon penerus perusahaan Wijaya group. Sudah menjadi berita utama di beranda nomor satu. Kesuksesan Elvino menyelamatkan perusahaan Wijaya. Membuat dirinya semakin terkenal dan lebih banyak yang mencintainya. Bukan cuma para wanita yang menjadi mantan kekasihnya saja.
Akan tetapi juga para karyawan yang bergantung hidup pada perusahaan Wijaya. Selain dapat bayaran tinggi, Elvino juga dikenal sebagai bos paling baik dan tidak sombong.
"Sayang, ayo," ucap si tampan Elvino mau mengendong istrinya lagi. Namun, Adelia cepat-cepat menolaknya karena dia sudah sangat malu menjadi pusat perhatian sejak tadi.
"Sayang, suamiku yang tampan. Aku baik-baik saja dan bisa berjalan sendiri. Asalkan kamu membantuku dengan pelan." seru Adelia sengaja memuji suaminya yang sangat posesif.
"Huh! Yasudah! Pelan-pelan saja, biar aku bantu." Elvino akhir'mengalah membiarkan istrinya turun dari kursi roda.
Namun, tangannya langsung dengan sigap membantu Adelia masuk kedalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh pengawal Wijaya group.
"Terima kasih," ucap Adelia tersenyum kearah suaminya. El hanya balas tersenyum dan mengacak rambut sang istri dan setelah itu dia kembali berdiri melihat kearah mamanya dan Dokter Maya.
Soalnya kalau Sekertaris Demian lagi memasukan barang-barang yang ia bawa kedalam bagasi mobil Elvino.
"Ma, Mama mau satu mobil sama kami. Atau mau naik mobil sendiri bersama baby Eza?" tanya Elvino pada sang ibu.
"Mama mau naik mobil Mama sendiri. Tapi karena susu formulanya kita tidak bikin. Baby Eza sama kalian saja. Mama tidak mau dia sampai menangis karena mau minum susu." jawab wanita setengah baya itu mendekati pintu mobil.
Lalu degan sangat pelan beliau memindahkan lagi baby Eza pada pangkuan menantunya.
"Sayang, sama mama dulu, ya. Oma tidak mau kamu menangis karena haus." seru nya pada sang cucu.
"Dokter Maya, suster! Terima kasih karena sudah membantu merawat istri dan anak Saya selama berada di rumah sakit." ucap Elvino menjabat tangan Dokter Maya dan juga perawatnya.
Si suami dan ayah idaman, memang memperlakukan orang lain dengan sangat sopan, meskipun hanya kepada perawat. Elvino pun selalu mengucapkan kata terima kasih maupun kata tolong apabila dia membutuhkan bantuan.
"Sama-sama Tuan Muda, sudah menjadi tugas kami melayani keluarga Anda." jawab si dokter dan perawat secara bersamaan.
Begitu selesai berpamitan. Nyonya Risa dan Pak Janwar berangkat lebih dulu. Lalu setelah itu Elvino masuk ke dalam mobil, yaitu duduk bersama istri dan anaknya di bangku tengah. Sedangkan yang menjadi sopirnya adalah Sekretaris Demian.
"Sayang kenapa baby Eza tidak tidur juga? Apakah dia tidak mengantuk atau bagaimana?" El bertanya saat mobil mereka sudah meninggalkan rumah sakit.
"Entahlah! Mungkin dia tahu kalau kita akan pulang ke rumah. Jadinya dia tidak mau tidur karena ingin melihat jalanan ibukota yang ramai oleh kendaraan." Adelia tergelak sendiri mendengar jawabannya.
Ada-ada saja! Mana mungkin si kecil tidak mau tidur hanya karena ingin melihat jalan ibukota yang ramai.
Cup!
"Aku sangat bahagia melihat kalian baik-baik saja. Apalagi si kecil ini tidak rewel." seru El mencium pipi sang putra yang matanya melihat kearah Elvino. Seakan mengetahui bahwa laki-laki tampan itu adalah ayahnya.
Aku pun sama bahagianya," Adelia ikut tersenyum menatap pada putra mereka yang begitu tampan dan tidak rewel. Baby Eza hanya mendengarkan saja ke-dua orang tuanya berbicara. Seperti itulah selama di dalam perjalanan pulang.
"Sayang, ini kita mau kemana? Bukannya rumah mama kearah sana? Ini kenapa kita malah lewat jalan yang ini?" tanya Adelia yang melihat mobil mereka mengambil jalur kira dari rumah mertuanya.
"Ke rumah kita yang sudah aku beli sekitar satu bulan lalu." jawab Elvino memperbaiki duduknya dan ikut melihat kearah depan.
"Rumah baru? Apakah kita tidak pulang ke rumah mama, atau kembali ke Apartemen? Dan apakah mama sama papa tidak apa-apa kita pindah?" tanya wanita itu secara beruntun. Soalnya mengetahui sendiri seperti apa kedua mertuanya mengharapkan kelahiran baby Eza.
"Iya, rumah baru! Mama sama papa tidak apa-apa kita pindah. Lagian rumahnya tidak jauh dari sini rumah mama, sayang. Mereka, atau kita bisa saja bolak-balik kesini, atau kita yang akan kerumah mama." jelas si tampan merangkul bahu istrinya agar bersandar pada tubuhnya.
"Syukurlah jika memang mama dan papa tidak jadi masalah kita pindah. Aku tidak tega melihat mereka bersedih apabila kita tinggalkan sama Raya saja." jawab Adelia menghembuskan nafas dalam-dalam.
"Sudah, jangan bersedih, nanti apabila kamu memang tidak betah tinggal di rumah yang baru. Maka kita tinggal pindah lagi ke rumah mama."
"Huem, iya. Kita coba saja dulu," Adelia mengagguk setuju dengan keputusan sang suami.
Tiiin!
Tiiin!
Tidak berselang sekitar lima menit kemudian. Mobil yang dikendarai oleh sekretaris Demian pun sudah tiba di kediaman baru mereka.
"El, inikah rumahnya?" tanya Adelia tersenyum melihat rumah tersebut tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan rumah mertuanya. Namun, walaupun belum masuk ke dalam. rumah itu pasti nyaman untuk ditempati.
"Iya, inilah rumah baru kita. Apakah kau menyukainya?" El tersenyum seraya mengelus pipi istrinya.
"Aku menyukainya," jawab jujur wanita itu. Soalnya apabila rumah tersebut terlalu besar ada dia tidak menyukainya. Apalagi kalau hanya ditempati oleh mereka bertiga.
Tadi makanya ibu muda itu seperti tidak suka saat mengetahui mereka mau pindah, karena berpikiran bahwa suaminya akan membeli rumah yang besar dan mewah. Namun, ternyata si papa Elvino sangat mengerti seperti apa kepribadian sang istri. Sehingga dia pun tidak membeli rumah yang terlalu besar.
"Oke, karena kamu menyukainya. Kita turun sekarang." si playboy cap kampak langsung turun dari mobil lebih dulu, karena pintu mobilnya telah dibuka oleh Sekretaris Demian.
"Terima kasih, Demian." ucapnya pada si sekertaris pribadi, yang hanya dianguki oleh sekretaris tersebut.
Lalu Elvino sedikit membukukan tubuhnya ke arah dalam mobil dan berkata.
"Selamat datang istriku dan juga baby Eza putra ku yang tampan. Ini adalah rumah baru kita."
"El, sayang... kamu selalu membuatku ingin menangis karena merasa bahagia." seru wanita muda itu saat Elvino mengambil alih mengendong putra mereka yang belum juga tidur.
Lalu satu tangannya lagi merangkul bahu istrinya yang sudah turun dari mobil dengan pelan.
"Kamu tidak boleh menangis, jika bukan karena merasa terharu, sayang. Karena aku hanya ingin melihat kalian selalu bahagia." jawab Elvino membawa anak dan istrinya berjalan kearah pintu masuk rumah mewah tersebut.
Tante Mona dan keluarga yang lainnya memang sengaja tidak menyambut kedatangan Adelia dari mobil, karena mereka sudah mempersiapkan kejutan di dalam rumah.
Yaitu pesta keluarga untuk kelahiran baby Eza dan juga Adelia yang sehat saat melahirkan beberapa hari lalu.
"Diluar banyak mobil, tapi kenapa pintu rumahnya malah ditutup?" tanya Adel merasa ada yang aneh. Namun, Elvino yang mendengarnya hanya tersenyum saja.
Ceklek!
"Surprise!"
Ucap mereka secara bersamaan dengan penuh rasa bahagia.
"Selamat datang Baby Eza dan mamanya yang cantik." seru keluarga Elvino maupun Adelia saat pintu sudah dibuka oleh Sekertaris Demian. Sehingga membuat membuat Adelia tak kuasa menahan tangis bahagianya.
... BERSAMBUNG......