
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Dalam lebatnya hujan. Elvino yang mendapatkan berita bahwa adiknya mengalami kecelakaan dan belum bisa diselamatkan karena tubuhnya masih terjepit di dalam mobil. Mengendarai mobilnya dengan sangat kencang.
Sedangkan Sekertaris Demian dan para orang-orang Wijaya sudah berbagi tugas. Ada yang menyiapkan di rumah sakit. Ada juga yang menyusul ke lokasi tempat kejadiannya kecelakaan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya kurang dari tujuh belas menit. Mobil Elvino sudah tiba dan dia langsung berlari didalam derasnya hujan. Jantung pemuda itu seakan berhenti pada saat itu juga karena melihat keadaan mobil sang adik hancur tidak berbentuk.
"Raya... adikku." degan terburu-buru El keluar dari mobilnya.
"Tuan Muda, Anda sudah datang. Maaf kami masih---"
"Apakah kalian ingin adik Saya mati baru mau menyelamatkannya? Apa gunanya kalian berdiri disini. Jika tidak ada usaha untuk mengeluarkan adik Saya," bentak Elvino langsung menarik kasar kerah baju polisi tersebut yang hanya diam tidak bisa melawan.
"Raya." gumamnya baru sadar bahwa yang harus ia selamatkan. Sehingga El langsung melepaskan kasar polisi itu dan Elvino berlari mendekati mobil tersebut untuk mengeluarkan adiknya.
"Astaga! Raya, bertahanlah! Kakak mohon," seru El berusaha melakukan apa yang ia bisa. Tidak perduli tangannya terluka karena pecahan kaca mobil. Namun, si playboy cap kampak terus menarik paksa bagian-bagian mobil yang menghalagi untuk membawa Raya keluar dari sana.
Di bawah guyuran air hujan. Darah segar mengalir disekitar mobil yang telah bercampur dengan air. Sehingga Elvino semakin berusaha melakukan upaya untuk mengeluarkan Raya yang terlihat tidak sadarkan diri lagi.
Muka gadis cantik itu telah dipenuhi oleh darahnya sendiri. Benar kata orang-orang yang ada di sana. Bahwa untuk harapan hidup sangatlah kecil.
"Tuan Muda, tolong jangan seperti ini. Bila dipaksakan mobil ini akan meledak dan air hujan ini tidak akan bisa memadamkan apinya," ucap Pak polisi karena itulah mereka tidak berani bertindak sejak tadi.
Raya adalah putri dari seorang konglomerat bukan tidak mungkin bila mobilnya meledak sebelum gadis itu dikeluarkan. Maka pihak polisi takut keluarga Wijaya menuntut mereka.
"Jika tidak dikeluarkan sekarang, maka adik Saya tidak akan selamat," hardik El yang tidak bisa dicegah lagi. Sehingga Arya yang melihat Elvino berusaha untuk mengeluarkan istrinya. Langsung mendorong kasar polisi yang masih menahan tubuhnya agar tidak mendekati mobil tersebut.
"Kak," ucap Arya yang tidak dihiraukan oleh El karena fokusnya hanya ingin menyelamatkan Raya saja.
Gara-gara El tidak bisa dicegah lagi. Akhirnya para polisi dan warga yang lewat membantu untuk mengeluarkan Raya. Hampir sekitar dua puluh menit mereka baru berhasil membawa Raya keluar dari mobil dan bertepatan dengan ledakan besar langsung terjadi.
Arya pun ikut membantu mengevakuasi sang istri. Meskipun dia terus menangis melihat keadaan Raya yang sudah tidak baik-baik saja.
"Raya, Raya! Ayo bangun, Dek. Kakak mohon jangan seperti ini," panggil El yang mengedong tubuh adiknya. "Bawa mobilnya! Ayo cepat!" teriak El pada Arya karena ambulance maupun alat berat untuk membantu menyelamatkan Raya tidak bisa datang, karena jalanan pusat ibu kota terkena banjir akibat dari derasnya hujan.
Hal yang sangat jarang terjadi. Namun, malam ini seperti ada halangan besar untuk menyelamatkan Raya. Mungkinkah do'a gadis itu yang tidak mau selamat dari maut. Sehingga untuk melakukan evaluasi sangatlah sulit.
"I--iya," jawab Arya langsung masuk kedalam mobil Elvino diikuti juga oleh polisi yang menghubungi kediaman keluarga Wijaya. Sedangkan polisi yang lainya masih membereskan tempat tersebut.
Mobil mewah edisi terbatas yang Arya berikan sekarang telah terbakar habis oleh si jago merah. Derasnya hujan tidak menghalagi api tersebut untuk terus menyala dan membakar habis mobil tersebut.
"Raya, Raya. Ayo bagunlah! Ini Kakak," Elvino terus mencoba memangil adiknya. Namun, Raya sudah tidak sadarkan diri lagi. Baju kakak dan adik itu telah bersimbah darah segar.
Soalnya dari kepala dan bagian tubuh Raya yang lainya terus mengeluarkan darah segar. Jika Elvino bajunya kotor karena mengendong adiknya di depan dada. Mana mungkin dia membaringkan Raya pada kursi mobil.
Meskipun mereka sering bertengkar. Namun, El sangat menyayangi adiknya. Setelah mengetahui bahwa malam ini Arya makan malam dengan seorang wanita. El sudah berencana untuk menemui iparnya. Akan tetapi siapa sangka bahwa malam ini Raya mengalami kecelakaan.
"Tuan, tolong berhenti, Saya yang akan membawa mobilnya," ucap Pak polisi karena melihat keadaan Arya sangat kacau.
"Saya baik-baik saja. Saya ak---"
"Arya berhentilah! Biarkan Pak Setya yang membawa mobilnya," sela El yang merasa jika mobil tersebut jalannya mulai lain. Pertanda bahwa sopirnya sudah tidak fokus pada kemudinya.
"I--iya, Kak," Arya langsung menghentikan mobil tersebut dan pindah ke bangku sebelah tanpa turun dari mobil lagi. Lalu mobil tersebut dibawa oleh polisi bernama Setya ke rumah sakit Hospital Center.
Sekitar tujuh menit kemudian. Mobil El sudah tiba di depan Lobby rumah sakit. Brankar untuk membawa Raya telah disiapkan oleh Sekertaris Demian.
Ruangan untuk melakukan penyelamatan juga telah di steril kan. Agar tidak ada hambatan saat memalukan pertolongan pada putri bungsu Wijaya.
Begitu pula keluarga Wijaya yang lain. Mereka juga sudah menunggu di rumah sakit lebih dulu. Soalnya dari kediaman keluarga Wijaya ke rumah sakit Hospital Center tidak jauh. Berbeda dari tempat Raya kecelakaan. Sangat jauh dari sana.
Setelah pintu mobilnya terbuka lebar. El keluar dari mobil degan mengedong tubuh adiknya dan dibantu juga oleh Arya. Kedua pemuda itu sama-sama terlihat baik-baik saja. Padahal sudah sama-sama tidak kuat melihat keadaan Raya.
"Raya, Raya..." Nyonya Risa langsung pingsan setelah melihat keadaan putrinya. Jerit histeris dari adik-adik Tuan Arka maupun para keponakannya membuat Arya semakin takut bila sampai terjadi sesuatu pada istrinya.
"Ma, Mama," seru Adel memeluk tubuh ibu mertuanya yang hampir jatuh ke atas lantai. Sedangkan El hanya lagi fokus pada adiknya yang langsung larikan keruang operasi langsung.
Tidak perlu keruangan UGD lagi. Sebab bila terlalu lambat untuk bertindak nyawa gadis itu tidak akan selamat. Sudah hampir satu jam lalu dia mengalami kecelakaan dan sekarang baru tiba di rumah sakit.
Jadi sudah jelas sangat terlambat untuk melakukan penyelamatan. Seluruh keluarga hanya bisa berdo'a semoga ada keajaiban pada Raya.
"Suster tolong bawa kakak Saya," ucap Tante Anita pada perawat yang setengah berlari membawa ranjang tempat tidur pasien kearah mereka.
Lalu dengan saling membantu Nyonya Risa dibawa keruang VIP karena dokter tahu bahwa Nyonya Wijaya memiliki penyakit darah tinggi. Sehingga beliau langsung mendapatkan perawatan intensif.
Untungnya Tuan Arka tidak apa-apa. Beliau degan kuat menyusul Elvino dan Arya menuju ruang operasi.
"El, Arya" seru Tuan Arka pada putra sulung dan menantunya yang bersandar pada pintu ruang operasi. Sedangkan di dinding samping Elvino ada Arya yang sama bersandar juga.
Baju mereka juga sama-sama sudah basah dan kotor oleh darah. Keduanya saling diam dengan pikirannya masing-masing.
"Papa," jawab keduanya menoleh secara bersamaan.
"Bersabar dan berdoalah. Agar putri Papa bisa bertahan," ucap beliau yang terlihat sabar Namun, dibalik itu semua tentu sama saja seperti Arya dan Elvino.
"Iya, Pa," Arya dan Elvino sama-sama menjawab singkat.
"Raya... tolong bertahanlah! Aku mohon," tidak terasa Arya kembali menangis dalam diam. "Semua ini tidak akan terjadi bila aku tidak berhubungan sama Manda." sesal Arya hanya bisa meratapi penyesalan.
"Tuan Muda, Saya telah mendapatkan rekaman CCTV dari arah mana mobil Nona Raya dan... ini semua murni kecelakaan karena nona membawa mobilnya sangat kencang," ucap Sekertaris Demian yang telah melakukan penyelidikan sebelum para polisi bertindak lebih dulu.
"Demian, nanti saja, Nak. Sekarang kesembuhan Raya sangat dibutuhkan," jawab Tuan Arka karena beliau tentunya tahu bahwa permasalah tersebut ada hubungannya dengan Arya, karena sebagai seorang ayah. Beliau tahu jika tadi wajah putrinya seperti lagi memiliki masalah. Namun, karena Raya tidak mau jujur dan berkata bahwa baik-baik saja. Jadinya Tuan Arka hanya diam tidak mau memaksa sang putri untuk berkata jujur bahwa lagi ada masalah apa.
"Demian, benar kata papa. Tolong simpan saja dulu. Sekarang aku hanya ingin keadaan Adek baik-baik saja. Bukan masalah lain," jawab El tidak mau menatap kearah adik iparnya.
Takut tidak bisa menahan emosinya untuk tidak menghajar Arya. Sebab Elvino sangat yakin pasti gara-gara Arya lah adiknya sampai mengendari mobil degan kencang. Padahal lagi hujan besar.
"El, Arya. Bersihkan tubuh kalian di ruangan mama dirawat. Baju kalian basah dan bau darah," ucap Tante Anita menyusul ke depan ruang operasi.
"Mama bagiamana, Tan?" tanya Elvino menoleh pada tantenya.
"Mama mu sama seperti saat papa kalian kecelakaan. Keadaannya langsung drob. Sekarang pergilah bersihkan tubuh kalian. Om mu dan Arya sudah datang membawa baju ganti untuk kalian berdua," jawab wanita itu karena nama anak sulungnya juga bernama Arya.
"Arya, pergilah. Biar kami yang menunggu di sini," titah beliau yang melihat Arya hanya diam degan mata memerah karena menagis.
"Iya, Tan. Saya akan menunggu disini saja," tolak Arya yang tidak mungkin bisa meninggalkan istrinya yang lagi berjuang antara hidup dan mati.
"Elvino, Arya. Cepat bersihkan tubuh kalian. Papa yang akan menunggu Raya," sekarang Tuan Arka yang berbicara.
"Tapi, Pa---"
"Pergilah bersihkan tubuh kalian. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Jika rumah sakit ini tidak mampu. Maka Papa akan membawa Raya kemanapun agar dia bisa selamat," sela Tuan Arka yang tidak mungkin bisa dibantah lagi.
Meskipun berat hati Elvino pergi ke ruang perawatan VIP tempat mamanya dirawat lebih dulu. Sedangkan Arya masih bersandar pada tembok. Mereka berdua langsung terlihat seperti dua orang yang bermusuhan karena pada dasarnya Arya memang menganggap Elvino musuhnya.
Berbeda dengan El, si tampan itu memang tidak tahu jika Arya membenci dirinya dan ada dendam atas kematian kakak kandung Arya.
"Sayang... aku mohon. Jangan tinggalkan aku. Aku salah telah selingkuh sama Manda. Namun, percayalah bahwa aku tidak menyukainya. Aku mencintaimu, Ray," gumam Arya tidak menghiraukan hal lain. Dia hanya fokus memikirkan Raya saja.
"Arya, pergilah ke ruang tempat Mama Risa dirawat. Disana ada Arya putra Tante. Tadi dia sudah membawa baju untukmu. Jangan seperti ini. Raya pasti akan bersedih bila tahu keadaan suami dan keluarganya sangat kacau," ucap Tante Anita pada Arya.
"Tapi, Tan. Bagiamana bila dokter keluar dari ruangan operasi dan---"
"Ada Papa disini. Jadi pergilah bersihkan tubuhmu," jawab Tuan Arka tetap bersikap baik pada Arya. Sebab beliau adalah orang yang bijaksana dan tidak mau mengambil keputusan tiba-tiba menyalahkan Arya tanpa tahu apa penyebabnya.
Namanya berumah tangga pasti ada masalah. Jadi Tuan Arka akan bertanya nanti setelah keadaan putrinya selamat.
"Iya, kalau begitu Arya mau berganti pakaian dulu," Arya akhirnya pergi juga meninggalkan tempat tersebut menuju kamar rawat ibu mertuanya di dampingi oleh Sekertaris Demian.
Jika Elvino tidak perlu diantar karena sudah tahu dimana mamanya dirawat. Sebab mereka selalu menempati ruangan VIP yang paling mahal.
Namun, baru saja Arya dan Sekertaris Demian masuk kedalamnya. Elvino sudah selesai membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian yang bersih. Untuk beberapa saat tatapan mata mereka saling bertemu. Namun, Arya yang tahu jika Elvino pasti marah padanya hanya menunduk tidak bicara apa-apa.
"Arya, ini baju mu. Pergilah mandi," titah Arya putra Tante Anita dan dianguki oleh pemuda itu. Dia juga ingin cepat-cepat menunggu Raya di depan pintu operasi.
"Ya Tuhan... aku mohon! Tolong selamatkan istriku. Ambil saja nyawaku, asalkan dia baik-baik saja..Aku mohon padamu."
Tidak terasa dibawa guyuran air shower. Arya kembali menangis karena keadaan Raya memang sangat parah.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku, karena dendamku pada Elvino. Kamu harus mengalami semua ini." Arya terus saja berbicara di dalam hatinya. Namun, dia tetap membersihkan tubuhnya dengan buru-buru karena khawatir dengan keadaan istrinya.
Tidak sampai tujuh menit. Arya sudah selesai dan keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah bersih. Lalu karena Elvino sudah tidak ada disana. Diapun mendekati Adelia dan bertanya.
"Kak, bagaimana keadaan mama?"
"Keadaannya masih sangat lemah. Sabar ya, berdoalah agar adek dan mama baik-baik saja," jawab Adel mengelus bahu adik iparnya.
"Oya, Eza mana?" Arya kembali bertanya.
"Eza sama Tante Mona. Tadi sebelum menyusul ke rumah sakit, Tante Mona sudah datang dan bilang akan menjaga Eza. Tidak baik anak kecil bila terlalu lama berada dirumah sakit.
"Kak, tolong maafkan aku," ucap Arya karena saat ini dia benar-benar sangat menyesali perbuatannya yang berniat untuk balas dendam pada orang yang selalu baik padanya.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Kita sama-sama berdo'a agar semuanya baik-baik saja," Adel yang sudah menganggap Arya seperti mana adiknya sendiri langsung memberikan pelukan karena tahu bahwa Arya sangat terpukul atas kecelakaan Raya.
Adelia memang sudah diberitahu oleh Elvino saat mereka baru kembali ke kamar. Yaitu tentang Arya yang lagi makan malam bersama seorang wanita. Namun, untuk saat ini Adel pun sama tidak mau menyalahkan Arya.
Intinya keluarga Wijaya tidak mau menambah masalah baru lagi. Sekarang bukanlah saatnya saling menyalakan. Namun, harus saling memberi kekuatan satu sama lain.
"Kakak tidak tahu ada masalah apa antara kamu dan Raya. Namun, apapun itu semoga menjadi pelajaran berharga untuk mu dan semoga ada hikmah di balik musibah ini," Adel melepaskan pelukannya dan mengelus lengan Arya yang dianguki oleh pemuda itu.
"Iya, Kak. Terima kasih. Aku mau ke tempat operasi dulu," pamit Arya berjalan lagi menyusul keluarga istrinya. Mereka duduk di kursi depan ruang operasi dengan gelisah. Termasuk Arya anaknya Tante Anita, juga sudah ikut menunggu di sana.
Kleeek!
Baru saja Arya sampai di sana. Pintu ruangan operasi terbuka lebar dan ada satu orang dokter dan perawat yang keluar dari sana. Sehingga Arya langsung mendekat dan bertanya keadaan istrinya. Sama seperti Elvino.
"Dok, bagaimana keadaan adik Saya?"
"Dok, bagaimana keadaan istri Saya?"
Dokter bagaimana keadaan putri Saya?"
Ketiga pemuda itu bertanya serempak. Karena sama-sama mencinta dan menyayangi Raya.
Sebelum menjawab dokter tersebut menghela nafas dalam-dalam. Sehingga mereka semuanya tahu bahwa keadaan Raya tidak baik-baik saja.
"Keadaannya kritis. Kita membutuhkan darah golongan A. Stok dirumah sakit ini kebetulan lagi kosong. Jadi bila diantara kalian ada yang bergolong darah ini. Maka ikutlah bersama Saya untuk melakukan pemeriksaan dan pendonoran secepat mungkin. Kita tidak ada waktu lagi," papar dokter laki-laki yang ikut membantu mengoperasi Raya.
"Darah Saya golongan A, Dok dan ayo ambil darah Saya," ucap Tuan Arka, Elvino, Tante Anita dan Arya putranya. Sedangkan Arya suami Raya hanya diam semakin membisu setelah tahu jika keadaan Raya kritis.
"Bagus sekali. Kalau begitu mari ikut Saya," ajak dokter tersebut yang langsung pergi dari sana dan diikuti oleh Elvino, Tuan Arka dan yang lainya. Sehingga yang menunggu di sana hanyalah Arya, Sekertaris Demian dan Om Ari, suami Tante Anita.
"Raya... bertahanlah, sayang. Aku mohon, bertahanlah." do'a Arya bersandar pada tembok seperti tadi.
"Arya, duduklah," titah Om Ari karena melihat Arya tidak bicara sepatah katapun.
"Iya, Om. Saya berdiri saja," jawab Arya yang terus berdo'a dalam diamnya. Gara-gara terlalu khawatir pada istrinya. Pemuda itu lupa untuk mengunjungi kedua orang tuanya.
Ralat! Bukan hanya lupa itu. Namun, ponsel dan barang berharganya yang ada didalam mobil saja Arya susah tidak ingat.
"Sayang, aku mohon. Bertahanlah! Maafkan aku yang telah menyakitimu. Tapi sekarang aku sadar jika sebenarnya aku sangat mencintaimu. Aku mohon bertahanlah." Arya kembali bergumam karena setelah dokter dan perawat keluar tadi pintu ruang operasi kembali tertutup rapat.
Jadi tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Arya tidak banyak bertindak karena merasa bersalah pada istrinya dan Arya yakin bahwa Elvino pasti sudah tahu. Sebab tidak biasanya El bersikap cuek padanya.
Walaupun saat ini pikiran Elvino sedang kacau karena keadaan Raya. Tetap saja tidak mungkin menatapnya tajam. Jadi Arya bisa menebak bahwa kakak iparnya sudah tahu jika dia dan Raya ada masalah.
... BERSAMBUNG... ...