
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"El, kenapa kamu diam? Ayo cepat katakan apa yang membuatmu ingin bekerja?" Adelia kembali mengulangi pertanyaan yang sama. Sekarang gadis itu memang suka memaksa. Entah itu bawaan bayi atau bukan, yang jelas terkadang sangat menyiksa Elvino.
Pemuda yang sudah biasa hidup tanpa beban harus menyandang status sebagai suami dan ayah. Siap siaga apabila istrinya menginginkan sesuatu.
"Aaaaa! El gemas dan kesal yang menjadi satu akhirnya menarik hidung istrinya. Lalu dia menggeser kursi dan duduk disamping ranjang tempat Adel.
Tanpa mereka berdua sadari, jika sudah kembali lagi bersentuhan fisik. Walaupun hanya sebatas menarik hidung.
"Iis," seru gadis itu berdesis kecil sambil mengelus hidungnya.
"Aku mau bekerja karena dirimu," jawab El menatap Adel yang kebetulan gadis itupun menatap kearahnya. Sehingga terjadilah tabrakan mata yang sama-sama memiliki perasaan tidak menentu.
Mendengar pengakuan Elvino membuat Adelia menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Antara senang, malu dan haru sudah menjadi satu. Pria brengsek yang sudah memperkosanya. Malam ini rela direndahkan oleh orang tuanya sendiri, cuma untuk mendapatkan pekerjaan, dan itu semua hanya demi menafkahi Adel.
"Tapi---"
"Besok setelah mama datang, aku akan pulang ke apartemen untuk membuat proposal lamaran. Setelah itu baru berangkat ke perusahaan untuk mengajukan lamarannya, sesuai perintah papa tadi," sela Elvino yang sesekali melirik istrinya.
"Tapi jika kamu tidak bisa bekerja, jangan dipaksakan, El. Aku tidak mau menyusahkan mu," cicit Adel merasa ada yang aneh dengan ucapannya sendiri.
"Tidak terlalu merepotkan. Hanya saja kamu itu terkadang sangat menyebalkan," jujur pemuda itu yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.
"Kamu yang menyebalkan," balas Adel tidak terima dikatai seperti itu.
Sehingga membuat Elvino tersenyum kecil. Bila saja Adelia salah satu mantan kekasihnya. Maka sudah dia gigit sejak tadi, karena tidak tahan merasa gemas pada tingkah istrinya.
"Adel," panggil El setelah ada beberapa menit mereka saling diam.
"Huem, apa?" sahut Adelia kembali menoleh kearah suaminya.
"Apakah kamu..."
"Aku kenapa?" tanya Adel menunggu jawaban.
"Apakah kamu tidak mengantuk, ini sudah malam. Tidurlah duluan, biar aku temani," El mengurungkan pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
"Kalau begitu tidurlah! Ingat pesan dokter sama mama tadi, kamu harus banyak-banyak istirahat," Elvino menarik selimut untuk menutupi bagian kaki istrinya yang terbuka.
"Huem, kamu juga tidur saja di sana. Aku tidak apa-apa," titah gadis itu merasa tidak nyaman karena El selalu menatap padanya.
Elvino tidak menjawab lagi, karena bila dia terus berbicara. Maka Adel tidak akan bisa tidur.
Sambil menemani istrinya tidur. Elvino mengeluarkan ponselnya, karena sejak tadi benda tersebut terus bergetar. Puluhan pesan dari kedua sahabat dan kekasihnya.
💌 Hendra : "El, bagaimana keadaan Adel? mereka baik-baik saja kan?" pesan dari Hendra yang juga mengkhawatirkan keadaan istrinya.
💌 Aiden : "Men, jika membutuhkan sesuatu kasih tahu, ya. Adelia sama anak kita bagaimana?" lain pesan dari Hendra. Maka lain pula bunyi pesan dari Aiden. Pemuda itu tidak menyebutkan kata mereka. Namun berkata anak kita, karena tidak tahu bayi siapa yang dikandung oleh Adel.
Jujur saja sebetulnya Aiden sangat menyukai Adelia. Namun, gadis itu sudah dinikahi oleh sahabat mereka sendiri. Yaitu orang pertama yang menyentuh Adel.
💌 Elvino : "Enak saja anak kita. Dia anakku. Kalian berdua cuma bikin saja, giliran yang menikahinya aku sendiri." begitu membaca pesan dari Aiden. Pemuda itu langsung membalas pesan tersebut dan menolak kata anak kita. Benar juga apa yang dia katakan, yang menikahi Adelia cuma dia sendirian. Jadi sudah jelas bayi tersebut adalah anaknya.
Di saat dia masih terus berbalas pesan dengan Aiden dan Hendra. Beberapa pesan dari si Cica pun kembali masuk.
"Cica... gadis ini sepertinya benar-benar susah untuk dilepas," gumam Elvino melihat kearah ponsel dan Adelia yang terus menguap secara bergantian. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh Elvino.
Ting!
💌 Cica : "Sayang, kamu lagi dimana? Bagaimana keadaan Adel?" tanya Cica melalui sebuah pesan. Salah satu pesan yang dibaca oleh Elvino, selain itu ia abaikan begitu saja.
💌 Elvino : "Sudah agak mendingan, aku masih di rumah sakit, menjaganya." membalas pesan dari sang kekasih.
Setelahnya Elvino menyimpan kembali ponsel tersebut kedalam saku celananya.
"Huoom!" dengan perlahan tapi pasti. Adelia pun mulai memejamkan matanya, karena obat bius yang diberikan oleh dokter tadi masih bereaksi.
"Dia bisa tidur secepat ini," gumam El menatap lekat Adelia yang sudah tertidur pulas. "Apa dia bisa melahirkan anaknya secara normal? Tubuhnya kecil sekali. Keponakan papa yang badannya besar saja, sampai di operasi saat melahirkan Ega." kembali bergumam karena saat ini dia tidak memiliki teman berbicara.
Berhubung sudah larut malam. Pemuda yang biasanya selalu mabuk-mabukan itu menarik kursi yang dia duduki agar semakin mendekati tempat istrinya. Lalu is menaruh kepalanya di samping tangan Adelia dan tertidur di sana.
Bukan dia tidak mau tidur di atas ranjang khusus bagi pihak keluarga yang menemani pasien. Soalnya ruangan tersebut adalah ruangan VIP. jadi fasilitasnya sangat terjamin seperti mana hotel bintang lima.
Namun, El yang tidak mau tidur di sana. Bukan karena tidak nyaman. Akan tetapi dia takut sewaktu-waktu Adelia terbangun dan membutuhkan sesuatu.
...BERSAMBUNG......