Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Papa El, Payah.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Di perusahaan Wijaya group.


Elvino sedang memimpin rapat antar petinggi perusahaan. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ruangan yang biasanya sangat menegangkan. Hari ini menjadi begitu ramai oleh suara cadel Eza.


Akan tetapi tidak ada seorangpun yang bisa mencegah si calon pewaris Wijaya berikutnya agar tidak berisik. Jangankan para peserta rapat. Elvino sendiri juga tidak bisa mencegah si buah hati untuk tidak berisik.


Sudah hampir tiga jam mereka berada dalam ruangan tersebut. Namun, belum juga acaranya selesai. Sedangkan El sudah gelisah mau menemui istrinya yang menunggu di dalam kantornya.


"Begini jika menurut Saya, Tuan Elvino. Bagaimana menurut kalian semuanya. Apakah setuju atau tidak, karena produk ini belum ada," ucap salah seorang staf yang berdiri di depan infokus. Untuk memberikan penjelasan secara mendetil.


"Taya cetuju..." sebelum orang lain dan Elvino menjawab. Namun, si Baby Eza sudah bicara setuju dengan bertepuk tangan sendiri.


Sehingga membuat orang-orang menahan tawa mereka. Namun, tidak berani tertawa mengeluarkan suara.


"Aduh! Eza, Sayang. Kita tidak boleh asal bilang setuju. Harus dilihat dulu dari berbagai sisi. Apakah akan menguntungkan dan tidak merugikan perusahaan yang ada di sekitarnya," ucap Elvino kembali lagi memberi pengertian pada putranya.


Sebab ini bukanlah kali pertama Eza menyetujui secara tiba-tiba. Akan tetapi sudah berulang kali si kecil berbicara sebelum orang lain mengambil keputusan.


"Tapi ini dah bagus, jadi cetuju saja," jawab Eza yang matanya juga ikut menatap pada infokus begitu serius.


"Oke, baiklah. Sekarang Eza diam ya, biar Papa dan yang lainnya pertimbangkan dulu, oke. Jangan berisik," ucap El mengiyakan agar masalahnya cepat kelar.


"Baiklah! Pak Andes, Pak Romi. Kalian berdua tolong diteliti dulu. Saya akan keluar sekarang dan Sekertaris Demian yang akan mewakilinya. Bila Saya terus berada di sini, maka akan lama prosesnya, karena Eza tidak akan mau disuruh diam," lanjutnya memilih untuk meninggalkan ruangan rapat.


"Baiklah Tuan Muda, percayakan semuanya pada kami," jawab kedua laki-laki kepercayaan Elvino selain Sekertaris Demian.


Setelah itu si Playboy cap kampak pun meninggalkan ruangan rapat bersama putranya yang berjalan sendiri.


"Eza," panggilnya pelan.


"Iya, Pa?" si tampan berhenti berlari dan menatap pada papanya. "Papa tatut?" tanyanya dengan mata berkedip-kedip mengemaskan.


"Mau jadi yang paying tapan,"


"Astaga! Mau menjadi yang paling tampan itu bukan cita-cita namanya. Maksud Papa, Eza mau menjadi CEO perusahaan seperti Papa Elvino, atau mau menjadi polisi misalnya? Seperti tidak ada pilihan yang lain saja," seru El kaget degan cita-cita putranya.


"Ya, jadi tapan duga cita-cita," sahut Eza yang tetap tidak mau kalah pada pendirinya.


"Ya-ya! Terserah padamu saja kalau begitu," celetuk si playboy cap kampak tidak mau berdebat lagi.


"Kenapa Eza suka sekali menjawab bila sedang di tanyakan. Jika berdebat dengannya juga tidak akan menang. Apakah ini gara-gara aku dulu sering membuat Adel kesal saat mengandung dirinya?"


Gumam El di dalam hatinya sambil berjalan mengikuti Eza dari belakang.


Braaak!


Suara pintu ruangan Elvino yang dibuka oleh Eza sambil berlari. Sehingga menimbulkan suara yang cukup keras dan membuat Adelia terkejut mendengarnya.


"Eza, Papa... Apakah rapatnya sudah selesai?" tanya si ibu muda pada anak dan suaminya yang tersenyum lebar ke arah wanita itu.


"Tanyakan saja pada putramu. Dia sudah memutuskan semuanya dengan bicara setuju," jawab El sudah langsung memeluk istrinya.


"Haa... ha... benarkah? Wah, ternyata anaknya Papa Elvino benar-benar sangat pintar ya," tawa Adel mengelus punggung suaminya.


Sebab setiap kali Eza ikut rapat. Maka pasti El akan mengeluh karena semua keputusan selalu dibilang Eza setuju. Padahal para petinggi perusahaan saja tidak berani berbicara demikian.


"Sayang, benarkah tadi Eza ikut rapat?" Adel berpura-pura bertanya.


"Iya, itut lapat. Papa payah, jadi Eda biyang cetuju saja," jawab Eza tersenyum dan membuat papanya merengut karena sudah dibilang payah oleh anaknya sendiri.


"Haa... ha... Mama tidak tahu jika papamu sangat payah," lagi-lagi Adelia kembali tertawa.


Setiap hari hidupnya hanya dipenuhi dengan canda dan tawa. Memiliki anak yang sangat tampan dan pintar. Namun, Eza juga anak yang suka berbagi dengan orang lain. Apalagi ada sang suami yang begitu mencintainya dengan sangat tulus.


Sekarang Adelia benar-benar sudah bahagia. Pernikahan dulu yang diawali dengan keterpaksaan dan dilandasi kejadian di mana dia diperkosa oleh tiga orang pria. Namun, ternyata yang melakukan perbuatan bejat tersebut hanyalah Elvino seorang. Pemuda yang menikahinya.


Begitulah kehidupan. Manusia hanya bisa menjalani dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Sedangkan semuanya tetaplah Tuhan yang menentukan akan seperti apa kedepannya.


...BERSAMBUNG... ...