Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Jujur, Aku Kecewa. ( Raya )


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Selama dalam perjalanan menuju rumah orangtuanya. Arya hanya diam tidak banyak bicara. Sedangkan Raya lagi bermain ponselnya.


"Ayo turun," ajak Arya begitu mobil mereka sudah tiba di depan rumah mewah tempat tinggal papi dan mami nya. Dulu saat kakak perempuan Arya masih hidup. Mereka sangat jarang kembali ke negara tersebut dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri.


Namun, gara-gara kakaknya sudah tidak ada. Mereka malah pindah karena tidak tahan bila masih tinggal di luar negeri. Sebab kenangan bersama Almarhum sangatlah banyak.


"Iya," jawab Raya singkat. Kali ini dia turun sendiri karena Arya tidak membuka pintu mobil untuknya.


"Ar, koper bajunya bagaimana?" tanya Raya binggung. Soalnya Arya malah meninggalkan dia sendirian.


"Bawa saja, jika ada barang yang kamu butuhkan. Itu kan pintu mobilnya tidak aku kunci," jawab Arya sudah berlalu masuk duluan.


"Arya kenapa? Perasaan tadi baik-baik saja. Apakah aku sudah membuatnya marah?" tanya gadis itu menatap kepergian Arya dengan perasaan tidak menentu.


Raya tidak suka hal seperti ini. Hatinya sakit karena seolah-olah Arya lagi mengabaikan dirinya.


"Inikan bukan rumah kamu Raya. Tidak usah membawa kopernya masuk. Tidak masalah kamu membawanya sendiri. Asalkan Arya tidak meninggalkan dirimu sendirian seperti ini."


Raya kembali bergumam dan berjalan masuk degan langkah pelan. Dia tidak membawa koper bajunya. Padahal tadinya Raya berniat nanti malam mau belajar.


"Sayang, selamat datang." sambut maminya Arya begitu melihat Raya sudah masuk kedalam rumah mereka.


"Te--terima kasih, Mi. Arya mana?" tanya Raya karena tidak ada sosok Arya di ruang tamu. Tadinya dia mengira bahwa Arya akan menunggu di ruang tamu.


"Arya... mungkin kekamar nya. Tadi dia tidak bicara apa-apa dan langsung masuk saja. Apakah kalian bertengkar?"


"Tidak, Mi. Kami tidak bertengkar dan baik-baik saja." jawab Raya seraya mengelengkan kepalanya.


"Oh, mungkin dia lagi ada masalah di perusahaan. Sekarang kamu susul saja dia masuk kedalam, ya. Kamarnya ada dilantai atas. Hanya ada dua kamar diatas. Kamar Arya pintunya berwarna putih." titah wanita itu juga tidak tahu kenapa putranya kembali dengan aura dingin.


"Iya, Mi. Kalau begitu Raya susul Arya dulu, ya." pamit gadis itu setelah menyalimi ibu mertuanya. Soalnya jika mertua laki-lakinya pasti lagi istirahat.


"Iya, Nak. Selesaikan masalah kalian secara baik-baik. Mami tidak tahu juga kenapa dia bisa seperti itu. Tapi jika dia melakukan kesalahan yang menyakitimu. Bilang pada Mami, ya."


Mendengar pesan sang mertua. Raya hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Lalu gadis itupun semakin masuk kedalam rumah mewah tersebut. Bagitu tiba di tangga dia naik degan pelan dan memikirkan apa yang membuat Arya berubah seperti sekarang.


Raya biasa hidup bukan hanya bergelimang harta saja. Namun, juga berlimpah kasih sayang dari kedua orang tua, kakak dan keluar Wijaya yang lainya.


Jadi sikap Arya seperti ini dia sudah merasa tersakiti. Andai lah dia dan Arya belum menikah. Maka Raya akan langsung pulang kerumah orang tuanya.


"Kamarnya yang... oh itu." gumam Raya sambil mencari letak kamar yang pintunya berwarna putih.


Tok!


Tok!


Meskipun ragu-ragu. Namun, si cantik Raya tetap memaksakan untuk mengetuk pintu kamar suaminya. Seharusnya tidak seperti ini, kan? Biasanya saat pengantin wanita baru datang ke rumah mertuanya. Maka sang suami yang akan membawanya masuk.


Bukannya di tinggalkan di depan rumah. Seperti yang Arya lakukan hari ini.


Tok!


Ceklek!


Raya membuka pintu kamar dan menutupnya lagi. Gara-gara sikap Arya yang mendadak berubah cuek. Jadinya diantara mereka langsung seperti habis bertengkar.


Tidak mendengar langkah kaki berjalan masuk kedalam kamar. Membuat Arya menoleh kearah pintu dan berkata.


"Kenapa hanya berdiri di sana? Ayo ke sini." ajaknya yang lagi duduk di sofa sambil bermain ponselnya.


"Huem!" Raya hanya berdehem degan tersenyum kecil. Masih sama seperti saat menaiki tangga. Gadis itu melangkah pelan lalu duduk diatas sofa seperti mana orang lagi bertamu.


Namun, Raya tidak duduk disisi Arya. Gadis itu malah duduk dihadapan suaminya. Tak ubahnya seperti seorang karyawan lagi menemui CEO perusahaan.


"Ray, apakah kamu tidak jadi membawa kopernya?"


"Tidak!" menjawab singkat dengan rasa yang semakin nyeri dihatinya.


"Kenapa? Apakah tidak ada pelajaran yang mau kamu kerjakan?"


"Ada,"


"Jika ada kenapa tidak dibawa saja?" Arya kembali bertanya. Tanpa berpikir kenapa Raya tidak membawa koper nya masuk.


"Bawa kemana?" bukannya langsung menjawab si cantik Raya kembali melemparkan pertanyaan tersebut pada Arya.


"Tentu saja dibawa masuk. Memangnya mau dibawa kemana lagi. Kan aku sudah bilang, jika besok pagi-pagi sekalian berangkat kuliah. Kita mampir dulu ke Apartemen." ujar Arya yang membuat Raya langsung tersenyum sumbang mendengarnya.


"Ar, aku disini hanya tamu. Apakah aku gadis yang tidak tahu diri. Sehingga sudah kamu perlakukan seperti ini masih membawa koper baju ku masuk." jawab Raya membuang arah pandangan matanya agar tidak menjadi gadis cengeng.


"Raya, aku tidak pernah bilang kalau dirimu tam---"


"Kamu memang tidak pernah bilang. Tapi cara perlakuan mu lebih dari itu." tekan Raya karena tidak ingin Arya mengulangi kesalahan yang sama. Bila dia hanya diam saja.


"Astaga! Raya, aku tidak pernah memiliki pikiran kalau kamu hanya tamu..." Arya mengusap wajahnya kasar seraya merutuki kesalahannya yang meninggalkan Raya diluar rumah.


"Bodoh kamu, Ar. Kenapa buru-buru sekali." rutuk pemuda itu didalam hatinya.


"Ray, maaf! Tadi aku hanya---"


"Jadi seorang suami bukan hanya harus bersikap romantis, Ar. Tapi juga harus bisa menghargai satu sama lain, karena semuanya akan terjalin baik. Bila kita saling mengerti. Jujur aku... kecewa pada sikap mu," sela si cantik Raya menyeka air matanya yang tiba-tiba langsung menetes tanpa bertanya padanya terlebih dahulu.


"Raya, maaf! Tadi aku hanya lagi kesal setelah membaca pesan dari sekertaris ku di perusahaan. Dia mengatakan jika ada kesalahan pada dokumen kerjasama kami dengan perusahaan lain," dusta Arya langsung berdiri mendekati Raya untuk meminta maaf dan mengenggam tangan istrinya.


Namun, mungkin karena terlalu kecewa. Jadinya Raya masih tetap membuang mukanya. Agar tidak bertatap mata dengan Arya yang sudah duduk di sebelahnya.


"Apakah kau tahu, dua tahun lalu seperti apa perusahaan Wijaya group mengalami hantaman dari para petinggi perusahaan Wijaya sendiri. Sangat kacau dan pada saat bersamaan. Papaku dan Sekertaris Demian mengalami kecelakaan." Raya kembali menyeka air matanya sendiri.


Ternyata begitu menceritakan kenangan masa lalu membuat air matanya kembali menetes. Bahkan semakin deras.


"Sedangkan kakakku tidak bisa diandalkan. Dia tidak sehebat sekarang. Namun, dia tidak pernah melibatkan masalah pekerjaan pada kakak ipar, mama ataupun padaku. Justru bila lagi ada masalah dalam pekerjaannya. Kakak ku akan mencari istrinya karena disitulah dia mendapatkan ketenangan. Supaya bisa mencari jalan solusi dari masalahnya."


Mendengar perkataan Raya. Pemuda itu semakin terdiam karena ternyata Raya bukan semanja tingkahnya. Namun, jauh lebih dewasa dari yang Arya pikirkan.


"Jika kamu memiliki masalah dengan pekerjaan mu. Bukan berarti kamu menyeret ku untuk ikut kedalam masalah tersebut." ungkap Raya menepis tangan Arya secara kasar.


"Jika seperti ini sama saja kamu mencari masalah baru. Bukannya menemukan solusi dari masalah yang sudah ada." lanjut Raya lagi. Agar Arya bisa belajar menjadi seperti apa si playboy cap kampak, atau kakak laki-lakinya saat memiliki masalah.


...BERSAMBUNG......