
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Siang harinya. Nyonya Risa, Tuan Arka dan Adelia sedang pulang ke rumah. Nanti sore barulah mereka datang lagi. Soalnya keadaan Raya belum juga sadar. Namun, keadaan gadis itu baik-baik saja dan kata dokter tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Sedangkan Elvino juga lagi pergi ke perusahaan karena ada rapat mendadak yang tidak bisa diwakilkan oleh Sekertaris Demian. Setelah tadi dia dan Arya kena marah oleh Nyonya Risa. Gara-gara kata si tampan Eza. Om dan papanya yang membicarakan Dokter Rani.
Padahal mereka sama saja. Hanya si Baby Eza bisa lolos dari tuduhan tersebut. Karena dia masih kecil dan Tuan Arka yang mengetahui kebenarannya, hanya diam tidak mau menjadi saksi pada keadilan untuk anak dan menantunya.
Ternyata hubungan dia dan sang cucu memiliki kekuatan untuk melakukan kerjasama dengan sangat baik. Sehingga yang orang yang memiliki kekuasaan di perusahaan Wijaya group bisa terkena kasus juga.
Tadi kedua orang tua Arya dan Paman Hasan juga ikut datang untuk menjenguk sang menantu yang sudah lewati masa kritisnya.
Namun, jika Paman Abraham dan istrinya belum datang lagi. Yaitu orang tua Sekertaris Demian. Berita si putri bungsu Wijaya yang sudah melewati masa kritisnya benar-benar menjadi berita besar nan membahagiakan untuk semua orang.
Sore ini ruang rawat intensif tempat Raya. Sudah pastinya akan ramai oleh keluarga Wijaya lagi. Soalnya sudah ada pemberitahuan dari group chat bahwa mereka akan datang sore ini.
Jadilah saat ini Arya sendirian saja menunggu istrinya. Akan tetapi meskipun dia mengantuk tidak ada selangkah pun Arya meninggalkan istrinya.
Padahal ada ranjang tempat tidur untuk keluarga pasien istirahat. Arya malah memilih tidur di kursi samping ranjang istrinya. Dengan tangan menggenggam lembut tangan sang istri. Agar bila Raya siuman dia bisa tahu. Seperti itulah tujuan pemuda itu.
Sampai hampir satu jam kemudian. Tepatnya jam dua siang.
"Eum..." Raya meringis menahan rasa tidak karuan pada seluruh tubuhnya. "Augh!" kembali melenguh kecil seperti gumaman. Namun, Arya yang berada di sana langsung terbangun karena dalam ruangan tersebut hanya ada mereka berdua.
"Sayang!" seru pemuda itu terbangun menatap lekat istrinya yang belum membuka mata. Akan tetapi jari-jari tangan gadis itu mulai bergerak-gerak pelan. Begitu pula kepalanya bergerak seperti mana orang lagi gelisah.
"Eum... mama..." lirih Raya untuk pertama kalinya setelah tiga hari, tiga malam tidak sadarkan diri.
Sehingga membuat Arya langsung menekan tombol hijau pada dinding sesuai perintah Dokter Mirza tadi pagi. Agar Tim dokter segera memeriksakan keadaan istrinya.
"Sayang... sayang ini aku," panggil Arya meneteskan air matanya. Karena merasa tidak tega bila melihat Raya bersedih, setelah mengetahui begitu banyak luka di tubuh gadis itu. Belum lagi kakinya yang patah dan sudah pasti tidak bisa berjalan dalam waktu singkat.
"Sayang... Raya, ini aku, Arya," ucapnya lagi karena melihat Raya kembali tenang tidak memanggil mamanya lagi. Akan tetapi mata gadis itu mulai mengerjap pelan.
Kleeek!
Tap!
Tap!
Suara langkah sepatu para Dokter yang berlari masuk setelah pintunya mereka buka dari luar.
"Tuan Muda, apa yang terjadi? Apakah Nona Raya sudah siuman?" tanya Dokter Mirza yang kebetulan masih ada di rumah sakit dan belum pulang. Karena satu jam lagi dia mau melakukan operasi pada pasiennya yang sama mengalami kecelakaan juga.
"Iya, Dok. Tapi istri Saya sepertinya lagi menahan sakit," jawab Arya memberikan ruang untuk Dokter Mirza dan timnya memeriksa keadaan sang istri.
"Tidak apa-apa. Merasakan sakit itu sudah pasti. Jadi tunggu kami periksa dulu, ya," imbuh Dokter Mirza langsung melakukan pemeriksaan.
"Nona Raya... apakah Anda bisa melihat Saya?" tanya si Dokter seraya melambaikan tangannya dihadapan Raya karena melihat gadis itu menatap seperti pandangan yang kosong.
Namun, Raya tidak menjawab nya. Melainkan hanya mengangguk kecil yang nyaris tak terlihat. Akan tetapi dari isyarat itu tentu para dokter sudah tahu jawabannya.
"Dokter Febi, bawa sini airnya," kata dokter wanita yang ikut memeriksa keadaan Raya. Dia adalah Dokter kandungan. Setelah menerima airnya. Ia meneteskan beberapa tetes pada bibir Raya agar basah saja.
Meskipun tahu ada Arya di sebelah kanannya yang sejajar dengan bahunya. Raya tidak mau menoleh kearah sana.
"Sus, coba buka selimut pada bagian kakinya," titah Dokter Mirza membawa alat khusus untuk memeriksa kaki gadis itu yang bukan hanya patah tulang saja. Akan tetapi juga ada luka di sana. Walaupun hanya lima jahitan tetap saja rasanya sakit dan perih.
"Bagaimana, Dok? Apakah istri Saya keadaanya baik-baik saja?" tanya Arya tidak mampu menahan diri bila hanya diam saja.
"Keadaannya baik-baik saja. Namun, kita tidak bisa memberinya minum atau mengajak bicara dengan cepat karena tubuhnya pasti sedang terasa tidak karuan. Biarkan dia siuman sampai beberapa menit," jawab Dokter Mirza yang sudah selesai memeriksa kaki si putri bungsu Wijaya.
"Do--dok, Saya mau..." Raya tidak melanjutkan ucapannya. Akan tetapi dia melirik kearah gelas yang masih dipegang oleh Dokter Arsinta. Yaitu Dokter kandungan.
"Iya, oh! Anda mau minum lagi," jawab dokter muda itu yang langsung memberi Raya minum menggunakan sendok teh. Akan tetapi tentu saja hanya beberapa sendok dan setelah itu di jeda lagi. Seperti itulah sampai kurang lebih sepuluh menit kemudian.
"Apakah Nona Raya tahu, kenapa bisa berada di rumah sakit?" tanya Dokter Mirza begitu melihat Raya sudah agak mendingan.
"Sa--saya mengalami kecelakaan mobil," Raya menjawab pelan. Karena dia memang mengingat segalanya. Walaupun kepala gadis itu mengalami benturan cukup keras. Syukurnya tidak membuat dia hilang ingatan dan geger otak.
"Iya, benar sekali. Anda mengalami kecelakaan tunggal dan karena hal itu sudah tiga hari Anda tidak sadarkan diri," jelas si dokter dengan pelan.
Sebelum memberitahukan pada Raya bahwa kaki gadis itu mengalami patah tulang, dan kemungkinan tidak akan bisa berjalan dalam waktu dekat ini.
"Saya ingat, Dok. Apakah anak Saya baik-baik saja?" tanya gadis itu membuat Arya merasakan nyeri dihatinya. Karena sang istri tidak ada menghiraukan dia.
Apalagi setelah mendengar bahwa Raya menanyakan calon anak mereka.
"Iya, calon bayi Anda baik-baik saja dan keadaannya sangat sehat walaupun mamanya sedang berjuang untuk tetap hidup," saat ini yang menjawa adalah Dokter Arsinta.
"Syukurlah, Dok. Terima kasih karena sudah menolong kami," Raya memaksa untuk tersenyum kecil. Walaupun wajahnya pucat dan terdapat luka-luka kecil bekas kaca. Tetap saja tidak mengurangi kadar kecantikannya.
"Oya, Dok. Apakah keluarga Saya tidak ada disini?" lanjutnya lebih baik bertanya pada orang lain daripada suami yang begitu banyak menoreh luka.
"Sayang, mama sama papa lagi pulang. Begitu pula Kak Adel dan Eza. Sedangkan Kak Elvino lagi ada rapat di perusahaan Wijaya," Arya yang menjawab sehingga meskipun terpaksa Raya menoleh kearah suaminya.
"Oh," hanya dua kata itulah yang Raya ucapkan. Setelah itu dia kembali lagi diam dan menatap pada para dokter.
"Nona, untuk saat ini keadaan Nona dan calon bayinya baik-baik saja. Namun, buat sementara waktu. Kaki Anda tidak bisa untuk perjalanan. Jadi apabila ingin ke kamar mandi ataupun sebagainya, harus dibantu oleh suami Anda. Ataupun keluarga lainnya," jelas Dokter Mirza. Karena walau bagaimanapun. Mereka harus memberi tahu keadaan si pasien.
"Kenapa? A--apakah kaki Saya lumpuh?" tebak Raya yang langsung menangis.
"Bukan-bukan! Anda tidak mengalami lumpuh. Akan tetapi mengalami patah tulang dan ada luka jahitan di bagian yang patahnya," Dokter Mirza menjawab cepat.
"Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena mungkin paling lama dua atau tiga bulan. Anda pasti sudah bisa berjalan seperti semula lagi," hibur si dokter muda itu sedikit tersenyum. Agar Raya tidak larut dalam kesedihan.
"Baiklah, Dok. Terima kasih," ucap si putri bungsu sedikit lega bila dia memang tidak lumpuh.
"Tuan Muda, setengah jam dari sekarang Anda boleh memberikan bubur khusus untuk nona yang akan diantarkan oleh Dokter rumah sakit ini. Untuk sekarang jika mau memberinya minum cukup mengunakan sendok," jelas Dokter Mirza pada Arya yang diiyakan oleh pemuda itu.
"Nona Raya... kami mau permisi dulu. Apabila Anda butuh bantuan atau sebagiannya. Katakan pada Tuan Muda Arya. Agar dia menekan tombol hijau lagi," dokter tersebut kembali bicara pada Raya dan gadis itu juga hanya mengangguk kecil.
Setelah para dokter keluar semuanya. Dalam ruangan tersebut hanya ada Raya dan Arya saja. Sehingga cuma ada keheningan karena mereka sama-sama diam.
Untuk saat ini Raya merasa canggung pada suaminya sendiri. Karena Raya malu pada dirinya yang mau saja dibodoh-bodohi oleh Arya. Sampai dinikahi dan hamil anak pemuda yang memiliki dendam pada kakaknya.
Sakit sekujur tubuhnya tidaklah seberapa bila Raya bandingkan dengan luka hatinya. Jadi gadis yang biasanya periang sekarang hanya memilih untuk diam membisu.
"Jangan menangis Raya... nanti dia malah bersikap baik karena mengasihani keadaanmu. Cukup sudah dibohongi satu kali. Walaupun sangat sakit untuk berpura-pura kuat. Akan tetapi itu jauh lebih baik, daripada hidup dalam kebohongan." Raya bergumam didalam hati sambil memejamkan matanya.
...BERSAMBUNG......