
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Elvino," sapa salah satu wanita yang berjalan mendekati Elvino. Mereka ada tiga orang dan ketiganya adalah mantan kekasih Elvino.
"Riska, Aprilia, Yuswandari," seru Elvino yang tidak menghentikan pergerakannya yang lagi memotong daging untuk istrinya.
"El, siapa dia?" tanya Riska menggebu-gebu, dia adalah wanita yang dianggap beruntung oleh gadis lain. Soalnya dia lah satu-satunya wanita yang bisa berpacaran paling lama degan Elvino.
Yaitu selama empat bulan lamanya. Jadi dia dinilai sebagai wanita yang paling beruntung. Riska ini adalah mantan pacar Elvino satu tahun lalu. Mereka juga kuliah di universitas yang sama.
"Dia Istriku, ada apa?" si tampan Elvino menjawab santai karena dia memang tidak ada urusan lagi dengan ketiganya.
"Elvino, kamu jangan bercanda, ya. Nggak lucu tahu nggak," sambung Yuswandari menatap lekat kearah Adel yang hanya diam saja.
"Ini sayang! Kunyahlah pelan-pelan," ucap Elvino menyuapi istrinya. Dia sampai mengabaikan pertanyaan mantan kekasihnya.
"El, kamu juga makan," jawab Adel karena tahu jika suaminya pasti lapar sama seperti dirinya.
"Elvino, apakah benar dia istrimu?" kali ini Riska yang bertanya karena mendengar Elvino menyebut Adel dengan sebutan sayang.
"Kalian bertiga mau apa? Kami mau makan malam, kenapa malah kalian bersikap tidak sopan seperti ini," El yang tidak senang ada yang menganggu waktu bersama sang istri. Akhirnya marah menatap ketiga mantannya secara bergiliran.
"Elvino, kami hanya ingin menanyakan apakah dia istrimu atau hanya saudara perempuan mu?" tanya Aprilia ikut menimpali percakapan kedua temannya.
"Iya, dia Istriku. Memangnya ada apa?" jawab Elvino cuek dan balik bertanya pada ketiga mantannya.
"Jangan bohong deh, El. Kamu tidak mungkin sudah menikah kan? Lagian jika dia memang istrimu, kenapa tidak ada berita tentang pernikahan kalian," ujar Riska tetap tidak bisa menerima kenyataan pahit bahwa Elvino sudah menikah.
Selama ini dia selalu mengincar Elvino. Meskipun tahu bahwa mantannya sudah memiliki pacar yang baru lagi.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak, yang jelas dia adalah istriku. Kalian pikir dia bisa hamil sendiri, jika bukan aku yang menjadi suaminya." jawab Elvino langsung tutup poin saja. Sehingga membuat mata Adelia membola mendengar ucapan suaminya.
"Kalaupun dia saudara perempuan ku, jelas suaminya akan marah aku membawanya ketempat seperti ini. Sudah pergi sana! Kami mau makan," usir Elvino yang tidak pernah ada manis-manisnya bila bicara pada wanita yang tergila-gila padanya.
Akan tetapi sikap cueknya itu menjadi poin tambahan bagi mereka yang tergila-gila pada ketampanannya.
"Be--benarkah dia istrimu," seru Yuswandari merasa kecewa dengan kenyataan tersebut. Laki-laki yang membuat mereka semagat kuliah dan tampil cantik. Malam ini dengan terang-terangan mengakui telah menjadi suami dan calon ayah.
"Hei... apakah kamu istrinya Elvino? Dia pasti lagi berbohong kan?" kata Apria memastikan sendiri.
Sebelum menjawabnya, Adelia menatap pada suaminya terlebih dahulu. Jujur Adel binggung ingin menjawab seperti apa, karena dia malu pada kecantikan yang dia miliki.
Sedangkan ketiga wanita yang menatapnya seperti musuh itu, tampil dengan pakaian modis dan dandanan yang sangat cantik. Adelia yang perempuan saja sangat kagum pada mereka semuanya.
"Eum... iya, aku istrinya. Apakah ada masalah?" tanya si ibu hamil meskipun sempat ragu untuk menjawabnya.
"Tentu saja ada masalah! Kami bertiga adalah mantan kekasih suamimu," sahut Yuswandari degan sengitnya.
Dia tidak perduli meskipun Elvino menyaksikan sendiri perlakukan bar-bar mereka. Seakan-akan Adelia adalah penjahat yang sudah merebut Elvino dari mereka semua.
"Lalu, jika kalian mantannya kenapa? Apakah ada yang salah? Kalian hanya mantannya, kan?" entah keberanian dari mana Adelia yang kesal karena ke tiga wanita itu bersikap tidak sopan akhirnya balas menatap mereka dengan tatapan tidak menentu.
Namun, satu hal yang membuat Elvino tersenyum karena Adelia justru semakin menempel pada suaminya. Seperti lagi memperlihatkan pada para mantan yang meresahkan bahwa Elvino adalah miliknya.
"Ck, apa yang membuatmu bersikap sombong seperti ini? Jagan kamu pikir karena sudah menikah dan hamil anaknya. Maka Elvino akan mencintaimu. Aku rasa kamu belum kenal siapa sebenarnya suamimu, kan?" decak Riska karena dia tahu pasti Elvino sudah mengkhianati istrinya.
Meskipun mereka masih gadis, tentunya tahu jika saat ini hamil Adelia sudah besar. Itu berarti Elvino sudah lama menikah dan baru beberapa bulan lalu Elvino masih berpacaran dengan gadis bernama Cica. Jadi intinya Riska menyimpulkan sendiri.
Bahwa Elvino mungkin menikahi Adelia karena wanita itu hamil. Bukan karena saling mencintai. Makanya dia berbicara degan sangat percaya diri.
"Aku rasa kalian yang tidak tahu seperti apa suamiku. Aku percaya diri karena aku tahu Elvino sangat mencintaiku. Jadi pergilah dari sini, karena kalian sudah membuat selera makan ku hilang." usir Adel degan tatapan nyalang.
"Kau," tunjuk Siska tersulut emosi. Dia sudah maju dua langkah kedepankan Adelia. Namun, Elvino sudah berdiri dari tempat duduknya dan berkata.
"Siska! Pergilah sebelum aku panggil Manejer Restoran ini agar membawamu pergi. Kalian ada masalah apa? Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi jangan mengaggu waktu ku," ucap Elvino yang sudah cukup diam saja karena tadi dia penasaran kira-kira Adel akan percaya padanya atau akan terkena hasutan mantan kekasihnya.
"El, aku nggak terima kamu putusin aku. Harus berapa kali aku mengatakannya. Aku tidak ingin kita putus, El." seru Siska ingin menyentuh Elvino.
Namun, Langsung ditepis oleh pemuda itu degan kasar, karena jangankan sekarang. Saat mereka berpacaran saja, Elvino tidak terlalu suka bila Siska atau mantan lainya menyentuh tubuhnya. Jika bukan dia sendiri yang ingin melakukannya.
"Astaga! Siksa! Kita sudah putus sejak satu tahun lalu atau lebih dari itu. Jadi berhentilah mengaggu diriku. Aku tidak pernah mencintai wanita manapun. Kecuali Istriku ini," sergah Elvino sambil meletakan tangan kanannya pada bahu sang istri.
"Tapi aku tidak mau kita putus, Elvino," teriak Siska sehingga orang-orang yang ada di sekitar mereka melihat ke meja Elvino dan Adelia.
"Hei kau! Apakah kau tidak tahu jika beberapa bulan lalu Elvino pacaran sama wanita lain? Percaya sendiri sekali kau bahwa Elvino mencintaimu." tidak bisa membuat Elvino menjadi miliknya, membuat Siska mencoba mempengaruhi Adel.
"Sayang, jangan pernah mendengar perkataan mereka. Dia ini hanya---"
"Aku lebih percaya pada suamiku sendiri, El. Ayo duduklah! Nanti makanannya bertambah dingin," ajak Adelia tersenyum manis pada suaminya.
Dia tidak marah bisa bertemu mantan kekasih suaminya. Justru dia merasa senang karena Elvino membela dirinya.
"Huem, iya! Maaf sayang, aku tidak tahu jika makan malam kita menjadi berantakan seperti ini." ucap Elvino benar-benar merasa bersalah.
Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Siska. Salah satu mantan kekasihnya yang paling rusuh dan terus mengejarnya sampai saat ini.
Cup!
"Ayo makan lagi, biar aku suapi," lanjut Elvino mengecup kening istrinya dan kembali lagi menyuapi seperti tadi.
Sehingga membuat Siska dan gadis lainya menjadi kecewa berjamaah. Elvino mencium kening istrinya dan menyuapi Adel seperti anak kecil. Hal yang sudah biasa dia lakukan.
"Elvino, aku bena---"
"Tuan Muda, Nona Muda. Tolong maafkan Saya atas ketidak nyamanan ini..Saya berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi," ucap si Manejer Restoran bersama dua orang keamanan Restoran tersebut.
Dia baru saja mendapatkan laporan bahwa ada keributan di meja yang dipesan oleh Elvino bersama istrinya.
"Tidak apa-apa, tapi sekarang tolong Anda bawa mereka pergi dari sini, karena mereka bertiga sudah menganggu makan malam kami," jawab Elvino menatap Siska tajam.
"Tentu, Tuan. Sekali lagi tolong maafkan kami," sahut pria itu menoleh kearah Siska da juga kedua sahabatanya.
"Mari Nona, kalian mau pergi sendiri, atau ditarik oleh keamanan di sini?" ucapnya yang tidak bisa dibantah.
"Enak saja! Kami tidak perlu Anda bawa keluar dari sini, karena kami akan pergi sendiri," sentak Siska langsung meninggalkan tempat tersebut, karena meja yang mereka pesan ada dilantai bawah.
Tadi mereka hanya tidak sengaja mendengar teman-teman satu kampusnya membicarakan Elvino yang datang bersama wanita hamil.
"Huh! Akhirnya mereka pergi juga. Lama-kelamaan mereka akan aku siram pakai minuman mu," keluh Adel menghembuskan nafas panjang.
"Sayang, maaf ya! Aku benar-benar tidak tahu bisa bertemu mereka di---"
"Eum... tidak apa-apa! Mau sampai kapan juga aku harus bersembunyi karena takut bertemu para mantan kekasihmu. Karena cepat atau lambat aku harus siap bertemu mereka satu-persatu." sela si ibu hamil yang sudah tahu seperti apa Elvino sebelum mengungkapkan perasaan padanya.
Jadi baik buruknya masa lalu Elvino. Dia harus menerima semuanya, karena Adel tidak mendengarkan kata orang lain. Dia cukup merasakan perlakuan dan kasih sayang dari Elvino. Jadi buat apa masalah kecil harus dibuat besar.
Seperti itulah kiranya yang ada di dalam pemikiran wanita hamil itu. Makanya sejak awal menikah dia dan Elvino tidak banyak memiliki masalah. Secara tidak langsung mereka sama-sama saling mengerti.
Begitu pula dengan Elvino. Seberapa kesalnya dia karena Adel sering meminta yang tidak-tidak dari semenjak mereka tinggal berdua di Apartemen. Pemuda itu tidak pernah memiliki pemikiran buruk tentang istrinya. El selalu meyakinkan bahwa semua itu hanyalah bawaan dari bayi yang dikandung Adelia.
"Terima kasih! Kamu sudah mengerti diriku. Percayalah aku tidak akan pernah berpaling arah pada wanita manapun, karena aku sudah menemukan gadis yang sempurna. Dia adalah calon ibu dari anakku." Elvino tersenyum tampan.
Sambil menyuapi dirinya dan Adel secara bergiliran. Sebetulnya mereka hanya pindah tempat makan saja, karena akhirnya mereka makan seperti di dalam kamar juga.
Elvino tidak perduli menjadi tatapan orang lain. Dia dan Adel terus menikmati waktu berdua dan menganggap bahwa orang lain hanya mengontrak. Sedangkan mereka berdua adalah penduduk pribumi asli.
Jadi tidak merasa terusik pada pengunjung Restoran yang lainya. Sesekali mereka berdua tertawa karena Elvino mendengar istrinya bercerita. Begitulah seterusnya sampai makanannya habis tak tersisa.
Setelah hampir dua puluh menit setelahnya. Elvino dan Adelia pergi meninggalkan Restoran tersebut karena hari sudah semakin malam.
El tidak mau bila istrinya tidur tidak teratur. Sesuai perkataan Dokter Arsinta yang mengatakan bahwa kesehatan Adelia adalah faktor kandungan wanita itu menjadi lemah. Makanya si calon ayah yang siaga sangat menjaga istrinya. Dari situlah awalnya Elvino berubah menjadi sangat posesif.
Akan tetapi semua itu tentu karena dia sangat mencintai Adelia dan calon anaknya.
...BERSAMBUNG......