
💝💝💝💝💝💝
... HAPPY READING... ...
.
.
"A--apa yang mau kau lakukan?" tanya Olivia dengan jantung berdebar-debar. Namun, si tampan Eza tidak menjawab. Pemuda tersebut terus berjalan mendekati istrinya. Lalu begitu jarak mereka sudah dekat, dia menarik pinggang ramping Olivia. Sehingga membuat tubuh mereka saling menempel.
"Ka--kau mau apa? Awas jangan macam-macam. Kalau tidak aku akan---"
"Aku akan menghukum mu, karena sudah lancang mengerjai ku dan juga berani menantang ku,"
"Aku tidak bersalah! Kau duluan yang mencari masalah dengan ku?" Olivia yang bar-bar tentu tidak akan diam begitu saja. Walaupun di dalam hatinya merasakan ketakutan luar biasa.
Ya, takut, karena Olivia pernah dua kali hampir diperkosa. Termasuk saat malam Eza menolongnya.
"Benarkah? Jika begitu biarkan aku membuat kesalahan yang lebih fatal lagi." Eza semakin mendekat. "Tidak perduli siapa yang salah dan benar. Namun, yang jelas kau harus menerima konsuensi atas keberanian mu." lanjutnya.
Olivia menatap Eza penuh kebencian. Begitu pula sebaliknya. Mereka berdua seolah-olah kembali mengibarkan bendera perang.
Akan tetapi lama-kelamaan menatap muka masing-masing. Membuat keduanya seakan terhipnotis. Pelan tapi pasti muka Eza maju beberapa senti hendak melakukan silaturahmi bibir.
"Di--dia mau apa? Apaka---"
Gleeek!
Olivia menelan Saliva nya sendiri. Nafasnya semakin memburu naik turun. Seperti lagi lari meraton di sore hari.
Si calon pewaris tersenyum menyeringai. "Memalukan, kau pikir aku tertarik padamu? Meskipun kau hampir mati dan membutuhkan nafas buatan, aku tidak akan pernah mau menolong mu," celetuk Eza mendorong tubuh Olivia agar menjauh darinya.
Sampai-sampai tubuh gadis itu menabrak pintu kamar. Akan tetapi Eza tetaplah Eza yang tidak akan pernah merasa kasihan pada musuhnya.
"Aku tidak rela bibir ku menyentuh bibir gadis seperti mu. Kau bukan level ku yang sepadan," setelah menjatuhkan kata-kata kasar bagaikan sebuah boom. Eza langsung mengangkat panggilan telepon dari mamanya.
📱 Adelia : "Za, kamu dimana, Nak? Kenapa kata pengawal, kamu pergi sejak tadi malam?"
📱 Eza : "Eza lagi di rumah kita, Ma. Sebentar lagi akan langsung pulang ke rumah opa," jawab Eza karena malas untuk kembali ke hotel. Melihat kamar hotel yang dirias seperti kamar pengantin, membuatnya merasa muak.
📱 Adelia : "Apa yang terjadi? Lalu kemana Olivia? Kamu tidak menyakitinya, kan?" cecar Adel karena dia takut anaknya yang belum bisa menerima Oliva akan menyakiti gadis itu.
📱 Eza : "Dia juga ikut bersama Eza, Ma. Tadi malam kami jalan-jalan dan memutuskan untuk pulang ke rumah kita. Mama tidak perlu khawatir karena Eza tidak mungkin menyakitinya," pemuda itu menatap tajam kearah Olivia. Seakan-akan sorot matanya mau mengatakan. "Apa? Kau diam saja dan awas bila berani bercerita pada orang tuaku." Seperti itulah kira-kira yang bisa terbaca dari sorot matanya.
📱 Adelia : "Oh, syukulah! Jika begitu pulang lah dan bawa istrimu ke rumah. Sebentar lagi Mama dan papa mu juga akan pulang." titah Adelia yang langsung memutuskan sambungan telepon mereka.
"Kau mau kemana?" Eza mencekal lagi tangan Olivia.
"Aku mau---"
"Ikut pulang bersama ku!" sela Eza cepat. "Jika kau berani menolak maka aku akan bilang pada mama ku, bahwa kau kabur setelah mencuri sesuatu dari rumah ini," ancamnya.
"Brengsek! Kau ini benar-benar manusia gila. Aku tidak mau ikut bersama mu, lepaskan aku!" Olivia terus memberontak. Namun, tentu saja tidak berhasil karena Eza memilih tenaga yang sangat kuat.
... BERSAMBUNG... ...