
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Ar, wajahmu kenapa seperti itu?" tanya Afdhal setelah berada dihadapan Arya. Namun, bukannya langsung menjawab Arya justru semakin menunjukkan wajah kesalnya. Akan tetapi Afdhal hanya mengikuti saja kemana langkah kaki Arya yang sangat terlihat lagi galau.
"Apa yang harus aku lakukan? Benarkah Raya berubah karena mencurigai aku selingkuh? Atau ada hal lainnya lagi. Tapi bukannya tadi dia bilang masalahnya ada diantara kami." Arya terus saja bergumam sambil berjalan mengarah pada Taman kampus.
Dia akan masuk jam sembilan. Jadi masih ada waktu untuk menenangkan pikiran dan hatinya.
"Hey... ada apa? Aku tanya malah hanya diam saja," tegur Afdhal menepuk pundak Arya dan ikut duduk disisi sahabatnya.
"Raya," jawab Arya hanya sekedar menyebut nama istrinya saja. Tidak mengatakan hal lain lagi.
"Raya! Raya kenapa? Apakah kamu sudah melakukan balas dendam konyol mu itu?" seru Afdhal disertai sesalnya.
"Belum," menjawab seperlunya lagi dengan pandangan lurus ke depan.
"Lalu? Apa yang membuatmu seperti ini? Aku lihat Raya keluar dari mobil dengan cara berlari. Tidak seperti biasanya kalian selalu berjalan dengan bergandengan tangan," Afdhal kembali bertanya.
"Aku tidak bertengkar dengan nya. Hanya saja sudah dua hari ini dia mulai berubah," jawab Arya jujur karena setiap ada masalah dia selalu bercerita pada Afdhal.
"Berubah? Berubah seperti apa? Arya, ceritakan degan benar. Aku tidak bisa menebak sendiri apa yang sudah terjadi diantara kalian,"
"Afdhal, aku... Agh!" Arya tidak jadi melanjutkan ucapannya dan malah menguyar kasar rambutnya ke depan. "Afdhal, Raya lagi marah padaku. Tapi aku tidak tahu kenapa," lanjutnya menunduk dengan tangan menutup mukanya sendiri.
"Marah kenapa? Apakah dia sudah tahu bahwa kamu berpacaran dengan Manda?" tebak Hanif yang membuat Arya kembali duduk seperti semula dan menatap kearah Afdhal.
"Tidak!" jawab pemuda itu cepat. "Bukan karena hal itu. Tapi... mungkin hal lain yang entah aku juga tidak tahu," keluh Arya benar-benar tidak bisa berpikir dengan benar.
"Tidak? Tapi kenapa dia marah kamu juga tidak tahu? Aneh-aneh saja. Arya, setahuku setiap pasangan bertengkar, itu sudah pasti ada masalah yang terjadi. Begitu pula dengan istrimu. Raya adalah gadis yang sangat baik
Tidak mungkin dia tiba-tiba marah tanpa sebab,"
"Itu dia yang membuatku binggung. Kami tidak bertengkar. Tapi Raya lebih banyak diam. Dia akan bicara saat ditanya. Itu yang membuatku binggung," ungkap pemuda itu.
"Arya, kamu pasti lebih mengenalnya daripada orang lain, karena kalian sudah bersama hampir satu tahun kan. Jadi Raya seperti itu berarti lagi memiliki masalah. Coba kamu tanyakan padanya,"
"Afdhal, aku sudah bertanya sejak tadi pagi. Namun, Raya hanya menjawab bahwa dia ingin menenangkan pikirannya. Aku kan jadi bingung dan bagaimana bila dia tahu jika aku selingkuh sama Manda?" Arya kembali mengeluh atas perbuatannya sendiri.
"Bukannya itu bagus. Agar dia tidak lebih sakit lagi, setelah mengetahui kenapa kamu menikahinya. Tujuanmu berpacaran dengan Manda agar bisa menyakiti Raya, kan. Lalu apa yang membuatmu galau seperti ini?"
"Aku tidak mau dia mengetahui jika aku berpacaran dengan Manda. Aku tidak tahan melihat wajahnya yang seperti lagi menahan kesedihan. Aku akan balas dendam dengan cara lain. Bukan seperti ini," jawab Arya yang membuat Afdhal tertawa mengejek mendengarnya.
"Haa... ha... Ar, sudahlah lupakan dendam mu pada Elvino. Lebih baik kamu mengikhlaskan apa yang terjadi pada kakak mu. Jagan sampai kamu menyesali semuanya, Ar," nasehat Afdhal seperti biasanya. Walaupun tahu jika Arya tidak akan pernah mendengar ucapnya.
"Aku akan mengakhiri hubunganku dan Manda, bagiamana menurut mu? Aku akan menyakiti Raya degan cara menduakan nya. Aku tidak ingin....," Arya langsungnya diam tidak melanjutkan lagi apa yang hendak dia katakan.
"Ar, kamu sudah jatuh pada permainanmu sendiri. Jadi lupakan acara balas dendam mu pada Elvino. Kamu putusin Manda dan jalani pernikahan kalian. Agar hidupmu bisa tenang,"
"Tidak! Aku akan tetap membalaskan dendam ku pada Elvino. Namun, bukannya degan cara menduakan cinta Raya. Aku akan mencari jalan yang lain. Kamu kan tahu bahwa aku menikahi Raya bukan karena mencintainya. Tapi karena ingin membalas dendam atas kematian kakakku," jawab Arya yang tidak tahu jika Raya berdiri sekitar empat meter dibelakang mereka berdua.
Tes!
Raya yang menyusul suaminya karena ingin meminta kartu akses Apartemen mereka. Harus mendengar pengakuan dari mulut Arya yang menikahinya untuk balas dendam pada Elvino kakaknya. Langsung terdiam tidak mampu untuk bergerak.
"Ternyata aku saja yang mencintaimu, Ar. Aku begitu menyanjungi pemuda yang aku anggap juga mencintaiku." Raya bergumam sambil menyeka air matanya.
"Jangan menangis sayang, kamu kuat." berulangkali Raya menarik nafas dan dia hembuskan secara perlahan. Agar tetap berpura-pura tidak tahu. Raya ingin melihat seperti apa Arya membalas dendam pada kakaknya. Maka dari itu Raya masih berusaha tegar.
"Ar," panggilnya setelah merasa lebih baik. Sehingga membuat Arya dan Afdhal sama-sama berdiri dan menoleh kearah belakang. Kaget! Tentu saja mereka berdua sama-sama kaget dibuatnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Arya seperti maling ketahuan dan langsung berjalan kearah Raya.
"Andai senyummu tulus, Ar. Pasti rasanya tidak akan sesakit ini." gumam Raya yang menatap Arya degan tatapan kecewa. Namun, masih memaksakan untuk terlihat baik-baik saja.
"Aku lupa, jika kartu akses punyaku ada didalam mobilmu," jawab Raya jujur karena memang karena itulah dia mencari Arya.
"Oh, kenapa tidak menelepon saja. Biar aku yang ambilkan," Arya langsung mengeluarkan kartu yang ada di dompetnya lalu diberikan pada Raya.
"Ini, nanti kartu yang itu biar aku yang bawa," Arya memberikan kartu tersebut pada istrinya dan Raya pun menerimanya dengan tersenyum kecil.
"Terima kasih," jawab Raya singkat. "Kenapa kalian malah seperti orang lagi pacaran saja. Pagi-pagi sudah duduk di taman?" goda Raya karena dia tahu bahwa Afdhal dan Arya terlihat sangat tegang.
"Kami lagi membahas pekerjaan," jawab Arya lebih dulu sebelum Afdhal menjawab pertanyaan Raya.
"Oh, yasudah! Lanjutkan. Aku duluan, ya," pamit Raya sudah mau berbalik arah. Namun, pertanyaan Afdhal membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
"Raya, apakah kamu datangnya baru saja? Atau sudah sejak tad---"
"Aku baru datang, tadi sudah cepat-cepat masuk kedalam. Eh tahu-tahunya malah kunci untuk masuk ke Apartemen ketinggalan di mobil Arya," jawab Raya menyakinkan kedua pemuda itu.
"Sayang, bukannya kita juga akan pulang bersama? Kamu akan ikut ke Perusahaan bersama ku," ingat Arya takutnya Raya lupa pada perkataannya tadi.
"Maaf Ar, jangan hari ini ya, soalnya aku mau kerumah mama dan mungkin juga akan kerumah mami. Besok pagi saja, aku berjanji padamu," jawab Raya tersenyum sebelum pergi dari sana.
"Aku masuk duluan, ya. Kamu belajar yang rajin," sebelum pergi Raya masih tetap melempar senyum pada pemuda yang telah menipunya. "Afdhal, aku duluan," pamit Raya kepada Afdhal juga.
"Ar, Raya tidak mungkin mendengar pembicaraan kita, kan?" tanya Afdhal setelah kepergian Raya.
"Tidak! Jika dia mendengar pembicaraan kita pasti akan marah," jawab Arya yang masih menatap punggung istrinya yang berjalan semakin menjauh dari mereka.
"Aku berharap ini hanya mimpi. Namun, semuanya nyata. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" gumam Raya sambil menahan sesak di dadanya.
Ingin rasanya Raya berteriak memaki Arya. Namun, dia belum tahu dendam seperti apa yang mau dibalas oleh suaminya dan apa yang membuat Elvino terlibat atas kematian kakak suaminya itu.
"Aku harus mencari tahu lebih dulu, jangan gegabah, karena aku tidak ingin dia malah menyakiti kakakku maupun keluarganya. Bila seperti sekarang Arya hanya akan menyakiti diriku. Itu tidak masalah karena semuanya sudah terlanjur." sepanjang berjalan masuk ke kelas nya. Raya terus saja berbicara sendiri didalam hatinya.
"Sekarang aku sudah menyerahkan seluruh hidupku padanya. Arya telah berhasil membalaskan dendam pada kakak. Tapi jika balas dendamnya hanya sekedar menikahi ku itu sangatlah tidak mungkin. Pasti Arya memiliki tujuan lain juga. Jadi aku harus mencari tahu lebih dulu." putus Raya untuk menyelidiki apa yang telah terjadi.
Saat pelajaran pertama di mulai. Raya belajar degan sangat tenang. Tidak perduli jika ada beberapa orang gadis yang melihat kearahnya sambil berbisik.
Tanpa bertanya pun, Raya sudah tahu bahwa semuanya pasti ada hubungan dengan Arya dan Manda. Sebab sudah dua hari belakangan para mahasiswa menceritakan bahwa Arya selingkuh bersama Manda. Anak jurusan design.
Namun, Raya tidak percaya begitu saja. Akan tetapi pagi ini dia telah mendengar semuanya dari mulut Arya sendiri yang mengatakan bahwa sangat takut bila Raya tahu dia selingkuh.
Walaupun sudah jelas dia menikahi Raya bukan karena cinta pada gadis itu. Tapi melainkan karena ingin balas dendam pada Elvino.
Hampir dua jam duduk di dalam kelas. Raya dan teman-temannya yang lain. Memiliki waktu untuk istirahat dan waktu tersebut dia pergunakan untuk pergi ke Taman belakang kampus bertaraf internasional itu.
"Raya, tunggu!" teriak salah satu gadis yang tadi juga ikut berbisik.
"Iya, ada apa, Ge?" jawab Raya tersenyum pada gadis bernama Gea.
"Eum... maaf, Ray. Aku tidak bermaksud apa-apa. Tapi seluruh anak-anak kampus sudah tahu bahwa Arya berpacaran dengan Manda. Aku memberitahumu karena Manda sudah biasa merebut kekasih orang lain. Tapi kali ini berbeda, dia telah menggoda suamimu," ungkap gadis itu karena dia dan Manda memang bermusuhan sejak awal kuliah.
"Oh, soal itu. Terima kasih! Aku juga sudah mendengar dari anak-anak di kantin kemaren. Tapi aku rasa semua itu tidak mungkin karena aku sangat tahu bahwa Arya begitu mencintaiku," jawab Raya yang tidak ingin suaminya di bilangan selingkuh. Padahal semuanya memang benar.
"Tapi---'
"Ge, maaf, jika pun benar Arya selingkuh dengan Manda. Biarkanlah kami menyelesaikan masalah ini dirumah. Terima kasih karena kamu sudah memberitahu," sela Raya yang kembali lagi berjalan menuju Taman belakang kampus.
Soalnya di sana sangat sepi. Raya sekarang butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Maka dari itu dia pergi ke Taman belakang saja. Jika ke kantin sudah pasti para mahasiswa akan semakin membicarakan dia dan Arya.
"Huh! Aku yang diselingkuhi. Tapi mereka yang sibuk," Raya duduk di sebuah bangku kosong. Sedangkan diatasnya ada pohon kecil yang sengaja di tanam oleh pengelola kampus. Agar para murid yang lagi pusing saat ada pelajaran yang sulit. Bisa rileks di tempat tersebut.
"Arya," gumam kecil Raya seraya tersenyum memandang foto suaminya dari ponsel. "Kenapa kamu tega melakukan ini semua?" ucapnya lagi penuh sesal.
"Tidak aku sangka tangan yang selalu memeluk dan memberikan kehangatan padaku. Ternyata hanya sedang bersandiwara. Agar bisa membalaskan dendamnya pada kakak ku," Raya terus menggulir semua foto kebersamaan dia dan Arya yang langsung dihapus satu persatu secara permanen.
"Kamu berpura-pura mencintaiku seperti tidak ada dusta sama sekali. Sehingga aku terperangkap pada cintamu, Ar. Sekarang bertahan sakit dan pergi pun sulit. Aku tidak ingin kamu melukai keluargaku. Jadi harus bertahan sampai dimana aku mampu menahannya," Raya terus saja menghapus semua kenangan yang indah bersama Arya dari awal mereka berpacaran.
Untuk apa juga dia menyimpannya, karena akan menambah luka yang ada.
"Tapi setelah kamu lakukan semua ini. Masih juga bertanya, kenapa aku berubah diam. Tidak ada jiwa yang mau disakiti, Ar. Apa kurangnya aku selama ini. Hingga kamu tega mengkhianati cinta dan kepercayaan ku padamu," Raya menaruh ponselnya kedalam tas karena tiba-tiba hatinya semakin sakit melihat Arya tersenyum di setiap mereka foto selfi bersama.
Namun, Raya tetap tidak menangis karena sakit yang diberikan oleh Arya benar-benar menyakitinya sangat dalam. Sehingga air mata yang mau menetes selalu dia tahan.
Ttttddd!
Ttttddd!
Saat Raya lagi termenung. Ponsel miliknya berdering kecil karena ada yang menelepon. Lalu Raya mengambil ponsel tersebut untuk melihat siapa yang meneleponnya.
"Kakak ipar!" bagitu melihat nama Kakak cantikku. Raya langsung menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
📱 Raya : "Iya Kak," ucap Raya begitu menempelkan pada telinganya.
📱 Adelia : "Nanti pulang ke rumah, ya. Kakak membuat kue dengan resep baru,"
📱 Raya : "Baiklah! Onty Eza yang cantik akan pulang ke rumah," jawab Raya tersenyum lebar karena meskipun Arya telah mengkhianati cintanya. Raya masih memiliki keluarga yang mencintainya dengan tulus.
📱 Adelia : "Oke, Onty nya Eza yang paling cantik. Jangan sampai lupa karena Eza juga terus bertanya kapan kalian akan datang,"
📱 Raya : "Iya, Kak. Hari ini Raya memang sudah berniat mau pulang ke rumah. Oya, si bayi kemana? Tumben sekali tidak ada suaranya?"
📱 Adelia : "Dia ikut ke perusahaan. Mungkin sekarang baru tiba. Makanya pagi-pagi Kakak bisa membuat kue. Kalau ada Eza Kakak mana bisa masuk dapur, ataupun memasak," jawab Adel tersenyum kala mengigat putranya yang sangat aktif hari ini ikut suaminya bekerja.
📱 Raya : "Haa... ha.. Raya sudah menduganya. Baiklah Kak, nanti setelah pulang kuliah. Raya akan pulang ke rumah utama. Salam pada mama dan papa, ya. Raya sayang kalian semua," pamit Raya sebelum menutup panggilan bersama Kakak ipar yang serasa kakak kandungnya sendiri.
"Wah, si bayi lagi apa, ya?" tanya Raya tersenyum sambil mengetik sesuatu pada ponselnya.
💌 Raya : "Kak," bunyi pesan dari Raya yang memilih mengirim pesan saja. Takutnya sang kakak sedang rapat karena sekarang jam bekerja kakaknya.
💌 Elvino : "Apa Onty jelek?" balas El yang senang sekali mengatai adiknya jelek.
💌 Raya : "Eh, enak saja. Kalau Raya jelek. Maka Kakak El lebih jelek lagi, karena Raya adeknya Kakak,"
💌 Elvino : "Tidaklah! Kakak paling tampan. Ada apa?. Kapan pulang? Kenapa semenjak menikah kalian belum pernah menginap di rumah utama?" tanya El yang saat ini baru keluar dari mobil bersama putranya yang berjalan sendiri tidak mau digendong, karena kata Eza dia sudah besar, bukan bayi lagi.
💌 Raya : Mungkin Minggu ini, Minggu kemaren menginap di rumah orang tuanya Arya. Kata kakak ipar Eza ikut bekerja ya? Mana dia, coba kirim fotonya,"
💌 Elvino : "Orang tua Arya, sudah jadi orang tua adek juga. Jadi jangan bicara seperti itu lagi," tegur El tidak setuju saat adiknya mengatakan bahwa orang tua Arya. Sebab El sendiri selalu menghormati Paman Hasan dan Tante Mona seperti mana pada mertuanya sendiri.
💌 Elvino : Foto Eza buat apa? Foto orang tampan mahal. Tidak bisa asal disebar luaskan."
💌 Raya : "Iya Kakak ku sayang. Raya tidak akan bicara seperti itu lagi." balas Raya bisa menghilangkan rasa sedihnya setelah berbalas chat dengan kakak terhebatnya.
💌 Raya : "Cepat kirim foto Eza. Takutnya si bayi, sudah Kakak jual saat mau menuju ke perusahaan," Raya tergelak saat menuliskan pesan tersebut.
💌 Raya : "Kak, cepat kirim! Nanti bayarnya boleh pakai satu mobil yang ada di rumah mama," desak Raya tidak sabar untuk melihat wajah tampan keponakannya.
💌 Elvino : "Eh, enak saja. Mana mungkin Kakak menjual calon pewaris ketampanan Kakak," balas El menarik tangan putranya masuk kedalam lift.
"Eza diam ya, biar Papa foto dulu karena Onty ingin melihat foto anak Papa yang tampan," ucap El yang anguki oleh putranya.
"Dini, Tan?" tanya Eza yang selalu tebar pesona pada orang-orang yang melihatnya. Sepertinya Elvino telah memiliki pewaris yang bukan hanya tampan saja. Namun, juga tebar pesonanya.
"Nah betul sekali, biar Onty jadi merindukan Eza dan pulang kerumah," jawab Elvino mengambil beberapa foto buah hatinya degan gaya berpose ala Eza. Si titisan dari playboy cap kampak.
"Eda butan bayi, Pa," ucap Eza karena ontynya selalu bilang bayi Eza.
"Iya, Eza bukan bayi lagi. Tapi calon CEO perusahaan Wijaya group," El tersenyum sambil melihat tingkah putranya.
💌 Elvino : "Ini, sekarang kami lagi berada didalam lift. Awas jangan lupa bayar pakai mobil mewahnya. Kan wajah Eza mahal. Jadi walaupun sama Onty sendiri harus tetap dibayar," El langsung mengirimkan foto anaknya pada sang adik.
💌 Raya : "Iya-iya! Astaga! Kenapa Raya bisa memiliki kakak yang sangat pelit," balas Raya semakin tersenyum lebar setelah melihat foto Eza yang sangat lucu dan tampan.
Namun, senyum itu langsung hilang setelah melihat siapa orang yang berdiri di hadapannya. Mungkin karena terlalu sibuk pada ponselnya . Raya sampai tidak tahu jika ada orang yang datang.
...BERSAMBUNG......