
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Setelah hampir selama tiga jam menjadi model dadakan. Elvino baru bisa kembali ke ruangan kerjanya untuk makan siang, istirahat sebentar lalu kembali lagi melanjutkan pekerjaannya sebagai CEO perusahaan Wijaya Group.
Sungguh tidak disangka-sangka, bahwa ketampanannya yang sudah bersertifikat. Langsung berhasil saat melakukan pemotretan pertama sampai selesai.
Berbagai macam pose pun dilakukan. Ada yang Elvino sendiri dan ada lagi berpasangan dengan model terkenal bernama Alisa. Yaitu dari agensi ternama pula.
Tujuan Elvino yang ingin langsung memakai model terkenal adalah. Agar produk mereka langsung dilirik oleh masyarakat. sehingga bisa bertahan di pasaran yang membuat produk-produk itu laku terjual.
Elvino yang merupakan seorang mantan Playboy cap kampak. Tentu tidak susah untuk melakukan foto seperti seseorang yang lagi tebar pesona.
Sebab tanpa ia tebar pesona pun, tentu para wanita sudah tergila-gila padanya. Apalagi hari ini Elvino memakai pakaian kantor. Jadi kemungkinan produk mereka akan laku terjual sangatlah besar.
Lalu setelah menyelesaikan pekerjaannya tadi sore. Si tampan Elvino pun langsung pergi meninggalkan Perusahaan Wijaya group dan menuju ke rumah sakit. Karena Raya sang adik, telah memberitahunya bahwa ayah mereka akan melakukan operasi ulang tepat jam tujuh malam.
Jadinya Elvino memilih untuk langsung ke rumah sakit terlebih dahulu dan apabila operasinya berjalan lancar. Lalu keadaan papanya pun stabil. Barulah pemuda itu akan pulang untuk menemani istrinya di rumah.
Sungguh sangat melelahkan, apabila tidak menjalaninya dengan penuh semangat dan niat untuk membahagiakan orang-orang yang dia sayangi.
Akan tetapi kegigihan hati Elvino yang mau membahagiakan kedua orang tuanya, sang adik dan istri tercintanya. Membuat El memiliki seribu cara untuk melawan para pengkhianat perusahaan Wijaya Group.
Di sinilah dia sekarang, yaitu di depan ruangan operasi sejak kurang lebih dua jam yang lalu. Bersama sang ibu dan adiknya. Namun, satu jam lalu adik dari Tuan Arka dan keponakan beliau pun ikut menunggu di sana. Termasuk juga Paman Abraham.
Semuanya menunggu sambil berdoa. Agar Tuan Arka baik-baik saja dan bisa keluar dari ruangan tersebut dalam keadaan selamat. Soalnya kondisi beliau yang terkadang drop secara tiba-tiba. Membuat tingginya resiko saat operasi berlangsung begitu besar.
"El, kenapa operasinya lama sekali, Nak? Apakah sudah terjadi sesuatu pada papamu?" tanya Nyonya Risa dengan gusar.
"Mama tenang saja. Papa pasti akan baik-baik saja dan sembuh seperti sedia kala." hanya kata-kata itulah yang mampu Elvino ucapkan. Agar sang ibu tidak kembali drop seperti waktu itu.
"Iya, tapi kenapa lama sekali, ini sudah hampir tiga jam. Namun, satupun belum ada dokter ataupun perawat yang keluar dari dalam." keluh beliau sambil menyeka air matanya.
"Itu karena yang dioperasi adalah bagian kepala belakang, Ma. Jadi tentunya mereka tidak bisa bertindak gegabah." jawab si tampan menarik sang ibu untuk dia peluk.
Di rumah sakit El mengkhawatirkan keadaan papanya. Sedangkan di satu sisi, El juga mengkhawatirkan keadaan sang istri yang belum lagi bertemu dengannya sejak tadi pagi.
Walaupun di rumah mereka memiliki begitu banyak para asisten rumah tangga. Tetap saja sebagai seorang suami yang istrinya lagi hamil besar, Elvino merasa khawatir. Pikirannya tentang Adelia menaiki tangga untuk ke kamar mereka yang ada di lantai atas saja sudah membuatnya tidak tenang.
Padahal hal tersebut tidak mungkin terjadi, karena Adelia mana mungkin melanggar larangan yang sudah dibuat oleh sang suami.
"Paman Abraham, Om Sam. Duduklah! Entah berapa lama papa baru bisa keluar dari dalam ruang operasinya." ucap Elvino pada kedua laki-laki yang sudah dianggapnya seperti ayah sendiri.
"Iya, jangan pikirkan kami." jawab Paman Abraham gelisah sama seperti keluarga Wijaya yang lainya.
Tuan Arka adalah partner kerjanya hampir dua puluh dua tahun. Jadi hal wajar Paman Abraham sangat mengkhawatirkan keadaan beliau. Mereka dulu sama-sama memperjuangkan Perusahaan Wijaya group agar bisa menjadi perusahaan raksasa.
Sayangnya setelah besar seperti sekarang. Para pengkhianat yaitu orang-orang serakah. Tapi malas berusaha, begitu banyak. Jadi dari celah sedikit saja mereka sudah membuat Tim pemberontak untuk melawan pemilik aslinya.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki di lorong rumah sakit Hospital Center.
"Selamat malam semuanya," sapa Aiden dan Hendra yang baru bisa datang karena harus menghadiri acara penting. Sekarang semenjak Elvino taubat ke jalur sebenarnya. Dua orang sahabatnya juga sudah mulai menjadi orang yang berguna bagi orang tuanya masing-masing.
"Hendra, Aiden! Kalian berdua juga datang," seru Elvino melepaskan pelukannya pada sang ibu, karena menyambut kedatangan kedua sahabatnya.
"Iya, maaf kami berdua terlambat karena di jalanan tadi macet." Hendra yang menjawab dan dibenarkan oleh Aiden.
"Tidak apa-apa, kalian sudah mau datang saja aku sangat berterima kasih."
"El, Apakah Om Arka masih berada dalam ruangan operasi? sudah berapa lama papamu di dalam sana?" tanya Aiden setelah melepaskan pelukannya pada Elvino. Sebagai bentuk penyemangat agar temannya bisa tegar menghadapi ujian tersebut.
"Papaku masih berada dalam ruangan operasi, dan sudah hampir tiga jam dia belum keluar juga." terdengar suara si tampan sangat berat ketika menyebutkan bahwa ayahnya belum juga keluar.
"Yang sabar, ya. Om Arka adalah orang yang sangat baik dan kuat. Beliau tidak akan kalah hanya karena operasi di kepalanya." hibur Hendra menepuk pelan pundak Elvino.
"Huem, iya! Papaku pasti akan baik-baik saja." El menganggukkan kepalanya. Bahwa Ayah pasti akan baik-baik saja.
"Tante, yang sabar, ya. Om Arka pasti akan baik-baik saja." Hendra dan Aiden yang memang sangat dekat dengan orang tua Elvino pun. Langsung memberikan pelukan hangat terhadap Nyonya Risa.
"Iya, Nak! Terima kasih, karena kalian berdua sudah mau repot-repot datang ke sini yang selalu menjenguk Om Arka." jawab wanita setengah baya itu yang kembali lagi menangis.
Menangis karena takut apabila terjadi sesuatu pada suaminya. Sebab dalam situasi perusahaan yang seperti saat ini. Apabila sampai terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.
Maka sudah pasti akan terjadi musibah besar untuk seluruh keluarga Wijaya. Nyonya Risa tidak takut apabila mereka kehilangan harta saja. Namun, yang ditakutkan oleh beliau adalah keadaan menantunya yang sedang hamil besar.
Tidak mungkin Elvino akan tinggal diam bila para pengkhianat perusahaan mengambil alih perusahaan Wijaya Group. Sudah pasti ada perlawanan dari sang putra pada musuh-musuh mereka.
Kleeeek!
Suara pintu pintu terbuka.
Disaat mereka sama-sama menunggu hampir satu jam kemudian. Tepatnya pukul sebelas malam. Pintu ruangan operasi terbuka dengan lebar. Beserta Tuan Arka yang didorong di atas bragkar rumah sakit.
"Dokter Mirza! Bagaimana keadaan Papa Saya, Do? Apakah operasinya berjalan lancar?" Elvino bertanya lebih dulu pada dokter yang menjadi ketua Tim saat operasi ayahnya berlangsung.
"Operasinya berjalan dengan sangat lancar, Tuan Muda. Anda beserta keluarga yang lainnya tidak perlu khawatir. Ini kami akan langsung memindahkan Tuan Arka ke ruang rawat inap intensif lagi, karena beliau tidak mengalami kritis seperti operasi sebelumnya." jawab Dokter Mirza yang langsung meninggalkan Elvino beserta rombongan keluarga Wijaya lainnya.
"Mama, Raya. Semuanya, kalian dengar kan. Operasinya berjalan lancar dan sekarang kita tinggal bergantian menemui papa dalam ruang rawat intensif." seru Elvino yang tidak bisa membendung rasa bahagianya.
Sehingga membuat mereka semua berjalan menuju ruang tempat dimana Tuan Arka di rawat. Namun, begitu tiba di depannya. Mereka masuk secara bergantian, karena dalam ruangan tersebut terbatas buat orang banyak.
Apalagi keadaan Tuan Arka baru saja keluar dari ruang operasi. Jadi semuanya haruslah steril.
"El, sayang! Masuklah duluan bersama mama dan adikmu. Jika papa baik-baik saja, kamu bisa pulang. Kasihan istrimu pasti mengkhawatirkan keadaan papa kalian." ucap Tante Anita mengelus pundak keponakan tampannya.
"Iya, Tan. Elvino memang mau masuk duluan. Bila keadaan papa baik-baik saja dan stabil. El akan langsung pulang. Soalnya bila malam Adel susah tidur." jawab Elvino juga ingin masuk duluan buat melihat keadaan papanya.
"Pasti, sekarang hamilnya sudah besar. Jadi pasti Adel akan merasakan hal itu. Kamu pulang saja setelah melihat keadaan papamu. Jangan khawatir karena Tante sama Om akan menginap di sini buat menjaga papamu." timpal Tante Anis, adik bungsu Tuan Arka.
"Baiklah, terima kasih sebelumnya. El masuk sekarang." jawab pemuda itu langsung masuk karena para perawat dan sebagian dokter sudah keluar dari ruangan VIP tersebut.
"Tuan Muda, keadaan Tuan Arka sangat baik dan stabil. Tapi karena efek dari obat biusnya, kemungkinan subuh beliau baru sadar. Namun, Anda dan keluarga tidak perlu khawatir. Hal seperti ini biasa terjadi." terang Dokter Mirza sebelum Elvino bertanya padanya.
"Iya, terima kasih atas kerja keras kalian semuanya. Terutama pada Anda Dokter Mirza, karena semua ini berkat Anda yang memeriksa keadaan papa begitu teliti. Sehingga tahu bahwa papa Saya harus dioperasi ulang."
"Sama-sama Tuan, Anda tidak perlu sungkan karena ini memanglah pekerjaan kami." jawab dokter tersebut seraya melirik jam pada pergelangan tangannya lalu dia pun berkata. "Baiklah! Berhubung ini udah hampir tengah malam. Jadi Saya permisi dulu karena mau istirahat di ruangan kerja Saya. Dan apabila membutuhkan bantuan para dokter. Kalian hanya perlu menekan tombol yang berwarna hijau seperti biasanya."
"Iya, kami mengerti, sekali lagi terima kasih, Dok." ucap Nyonya Risa dan Elvino secara bersamaan. Sedangkan Raya lagi duduk di samping tempat ayahnya.
"Sama-sama Nyonya, kalau gitu Saya pergi sekarang," pamit si dokter yang sangat lelah hampir selama lima jam sibuk mengurus Tuan Arka.
"Mama," Elvino langsung memeluk ibunya yang tersenyum padanya. "Mama jangan banyak pikiran. Papa baik-baik saja, kita semua sudah mendengarnya." ucap si tampan mengelus punggung sang ibu.
"Iya, Nak. Mama bahagia sekali. Sekarang kamu sapa papa sebentar dan setelah itu pulanglah minta antar pada Adiden dan Hendra. Mama tidak bisa tenang, bila kamu pulang sendirian."
"Iya, Ma. Tapi El akan pulang sendiri saja. Tidak akan---"
"El, sekali ini saja, Nak! Mama sangat khawatir padamu. Jadi pulang minta antar pada kedua sahabat mu. Mama, Adel, Raya dan papa. Membutuhkan pahlawan hebat yang bisa melindungi kami semua." seru wanita setengah baya itu karena dia sangat mengkhawatirkan apabila para musuh mereka kembali menyerang Elvino
"Huem, baiklah! El akan minta diantarkan oleh Aiden dan Handra. Sekarang El mau menyapa papa dulu." tidak mau membuat mamanya khawatir. Elvino pun setuju pulang bersama kedua sahabatnya, karena dia pun juga tidak mau sampai kenapa-napa.
"Pa, cepat sembuh, ya. Papa adalah papa terhebat kami. Jadi pasti bisa melewati semua masa sulit ini." El tersenyum kecil seraya menggenggam pelan tangan ayahnya yang terlihat sangat pucat. Bagaikan tidak memiliki darah.
"Malam ini Tante Anis sama, Om Sam akan menemani mama dan Raya. Untuk menjaga papa, karena El tidak bisa menginap di sini. Soalnya menantu dan calon cucu Papa tidak ada yang menemani di rumah. Tapi besok pagi-pagi, El akan datang ke sini lagi." lanjutnya yang sangat terpaksa harus meninggalkan orang tuanya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Dek, Kakak pulang dulu, ya. Apabila ada sesuatu, segera kabari agar kakak datang ke sini lagi." ucap Elvino mengelus kepala adiknya.
"Iya, Kakak hati-hati! Nanti apabila sudah sampai di rumah, tolong kirim pesan pada Raya." si cantik Raya hanya tersenyum kecil.
"Ma, El pulang sekarang, ya." karena hari sudah bertambah larut. Pemuda itu pun langsung berpamitan untuk pulang. Setibanya di luar ruangan tersebut.
Tidak banyak bicara Elvino mengajak Aiden dan Hendra pergi meninggalkan rumah sakit untuk mengantarnya pulang. Seperti mana permintaan ibunya tadi.
Setibanya di dalam mobil milik Hendra.
"El, bagaimana pekerjaanmu menjadi model hari ini. Apakah perjalanan sukses?" tanya Aiden yang bertugas seperti biasa. Yaitu selalu menjadi sopir kedua sahabatnya.
"Ck, kamu bertanya karena ingin mengejekku atau memang ingin tahu hasilnya seperti apa." decak El yang membuat kedua sahabatnya langsung tertawa.
"Haa... haa.. kamu ini sensitif sekali. Sudah seperti ibu-ibu hamil saja." tawa Hendra yang diikuti oleh Aiden juga.
Tiga orang sahabat yang satu frekuensi. Namun, semenjak Elvino menjadi suami dan ayah siaga. Mereka bertiga tidak pernah lagi kepergian seperti saat ini.
"Tentu saja karena kami ingin tahu hasilnya. Mana mungkin hanya untuk mengejek dirimu." Aiden yang menjawab. Sambil memperhatikan jalan raya yang terlihat sudah sepi di depan mobil mereka.
"Eum... sedikit melelahkan, karena aku harus mengikuti instruksi dari fotografernya."
"Wah, aku kira tidak seperti itu! Tinggal berfoto sambil memegang produk yang akan kita promosikan. Setelah itu masalah akan selesai." imbuh Hendra yang sangat terkejut saat mendengar Elvino mengatakan bahwa dirinya menjadi model pengganti.
"Jika segampang itu, mungkin sudah banyak yang menjadi model terkenal." jawab Elvino mengacungkan jempol pada para model yang melakoni pekerjaan tersebut, karena tidak semudah yang dipikirkan oleh orang-orang.
"Semoga saja lelahku ini akan terbayar setelah produknya laku dipasaran, karena hanya inilah harapanku satu-satunya." ungkap si tampan pada ke-dua sahabatanya.
"Semoga saja, aku dan Aiden hanya bisa mendoakan terbaik atas usahamu ini." kata Hendra tetap memberikan semangat.
Tidak terasa karena jalanannya yang sepi membuat mereka tiba di rumah keluarga Wijaya, lebih cepat dari biasanya.
... BERSAMBUNG......