
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Sayang, aku mohon bertahanlah!" pinta Arya yang gelisah melebihi istrinya. Padahal Raya malah biasa-biasa saja.
Sebetulnya bukan Raya tidak merasakan sakit, tapi si putri bungsu keluarga Wijaya itu bisa menahan rasa sakit dan mulesnya.
"Aku baik-baik saja, Ar. Kamu tidak usah khawatir seperti ini," jawab Raya tersenyum simpul.
Para dokter yang menyaksikan dimana drama Arya yang terlihat seperti merasakan sakit. Padahal istrinya yang mau melahirkan hanya tersenyum dibalik masker mereka.
"Arya, jika kamu tidak kuat atau takut, maka jangan dipaksakan, Nak. Biarkan Mama yang menemani istrimu," usul Nyonya Risa malah khawatir pada menantunya, bukan pada sang putri.
"Tidak apa-apa, Ma. Arya baik-baik saja," dusta Arya yang sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Oke, jika kamu kuat dan tidak apa-apa. Mari kita temani istrimu, agar dia segera melahirkan anak kalian," kata wanita setengah baya itu lagi. Arya hanya mengangguk mengerti.
Soalnya jika bukan karena Arya maka sudah dari tadi Raya melahirkan anak mereka. Namun, tadi ketika Raya sudah mau kontraksi untuk melahirkan. Arya malah sibuk tidak karuan karena pemuda itu juga merasakan kontraksi melebihi istrinya.
"Nona, sepertinya kita sudah bisa coba lagi, ya," ucap dokter kandungan yang akan membantu persalinan Raya.
"Iya, Dok, saya juga sudah merasakan mules lagi," rintih Raya karena sang bayi memang kembali minta untuk segera keluar.
Lalu atas bimbingan sang dokter, Raya kembali lagi mencoba melahirkan anaknya secara normal.
"Aaah! Huh!" suara Raya terus berusaha dan Arya yang berada di sampingnya juga ikut meringis menahan sakit.
"Aaaaahh... Huh-huh.." Raya semakin mendorong kuat si buah hati, karena selain memang sudah bawaan mau melahirkan. Ada obat perangsang yang disuntikan oleh dokter. Yaitu agar sang ibu diberikan bantuan.
"Aduh... Dokter, Saya juga merasakan mules yang tidak terkira," keluh Arya yang lagi-lagi membuat fokus orang-orang teralihkan.
"Eum... Dok, tolong bantu persalinan anak Saya saja. Soal menantu Saya, biar Saya yang urus," ujar Nyonya Risa tidak mau ambil resiko. Takutnya malah putrinya harus dioperasi karena sang menantu juga ikut-ikutan merasakan kontraksi.
"Tapi, Ma---"
"Nak, ayo Mama antar keluar. jika seperti ini tidak baik untuk kalian berdua," ajak Nyonya Risa sudah membantu Arya untuk meninggalkan ruangan persalinan.
"Setelah mengantar mu, Mama akan kembali kesini untuk menemaninya," jawab wanita itu lagi.
"Sayang, tunggu sebentar, ya, Mama akan mengantar Arya keluar. Kasihan kamu dan dia malah mau melahirkan semua seperti ini," ucapnya pada sang putri dan Raya tentu saja langsung mengiyakan.
"Ar, kamu tunggu diluar saja, ya. Biarkan Mama nanti yang akan menemaniku," ucap Raya menatap kasihan pada suaminya yang terlihat begitu pucat.
"Aduh... Aaah... Ba-baiklah. Tolong maafkan aku, sayang. Tidak bisa menemanimu," jawab pemuda itu malah semakin terlihat meringis menahan sakit dan Raya justru biasa-biasa saja.
Setelah tidak ada pilihan lain. Arya pun akhirnya setuju untuk keluar dan Raya untuk sementara ditemani oleh para dokter dan perawat.
"Mama, Arya... Apa yang terjadi? Adek baik-baik saja, kan?" tanya Elvino melihat adik ipar dan mamanya malah keluar.
"El, Arya juga mengalami kontraksi mau melahirkan, apabila dia terus berada didalam, maka Raya tidak akan bisa melahirkan secara normal," jawab Nyonya Risa karena Arya langsung duduk di kursi tunggu dengan keadaan sangat memprihatinkan.
"Berarti Arya hamil juga, Ma?" tanya El bingung. "Bagaimana mungkin Arya juga mau melahirkan? Akan keluar dari mana baby nya?"
"Aah, sudahlah! Mama mau menemani adik mu. Kamu dan Adel bantu Arya sampai Fanya---"
"Kami sudah datang. Apa yang terjadi? Apakah Arya juga mengalami kontraksi?" tebak Nyonya Fanya tersenyum menatap putranya yang terus meringis sakit.
"Fanya, kamu tahu dari mana?" tanya Nyonya Risa berhenti didepan pintu masuk keruang bersalin.
"Saat aku mau melahirkan kakaknya dulu, papi Arya juga mengalami kontraksi," jawab beliau sudah duduk di samping Arya karena tidak ada obatnya.
"Nanti setelah bayinya lahir. Maka akan sembuh sendiri. Jadi kalian tidak perlu khawatir. Kamu tolong temani putri kita, biar akau yang mengurus Arya," lanjut Nyonya Fanya tidak khawatir pada keadaan anaknya.
"Oh, seperti itu. Pantas saja Arya malah terlihat lebih sakit daripada Raya," imbuh Nyonya Risa yang langsung masuk ke dalam. Akan tetapi begitu masuk. Malah Raya sudah selesai melahirkan.
Oooee!
Oooee!
Tangis si bayi membuat Nyonya Risa seakan tidak percaya bahwa putrinya melahirkan begitu mudah.
"Dok.. Ini benar-benar cucu Saya, kan?" wanita setengah baya itu menangis melihat cucunya sudah lahir dalam keadaan sehat.
"Benar, Nyonya. Ternyata nona muda melahirkannya tidak sulit," jawab dokter yang sedang membersihkan bayinya. Sedangkan Raya juga lagi dibersihkan oleh dokter yang satunya dibantu oleh perawat.
...BERSAMBUNG......