
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Adel, jika kamu mau menunggu Paman Hasan pulang itu entah kapan. Paman mu kan sedang bekerja. Kamu bisa sakit bila menunggu dia pulang," ucap El tidak ingin Adelia sakit hanya gara-gara mau makan rujak mangga Pak RT.
"Tapi aku mau makan setelah makan rujak mangga Pak RT. Kenapa kamu malah memaksaku," seru Adel tetap pada pendiriannya.
"Cepat ganti baju, kita pergi beli mangga Pak RT," ajak El berjalan mundur beberapa langkah dari hadapan istrinya.
"Tapi mangga Pak RT tidak dijual, El. Terserah mau ngambil berapa aja," jawab Adelia tidak paham maksud Elvino begitu pula sebaliknya.
"Lalu kita akan mencari di mana mangga Pak RT? Tidak mungkin nggak ada jualnya. Kecuali jenis mangga nya yang langka. Aku saja baru kali ini mendengar nama mangga aneh seperti itu," ungkap El karena merasa heran. Aneh-aneh saja nama mangga kok Pak RT. Begitulah kiranya yang ia gumam di dalam hatinya.
"Ha... ha... El, coba kamu ulangi. Ini kamu yang bodoh atau bagaimana? Maksudku bukan nama mangga nya, Elvino. Tapi aku mau mangga yang ada di samping warung. Nah yang punya mangga tersebut Pak RT," tawa Adel setelah dari tadi mendengar ucapan suaminya yang mutar-mutar mengatakan jenis mangga Pak RT.
"A--apa! Kenapa kamu tidak bilang dari tadi," seru El merasa malu karena dia tidak bisa mencerna perkataan istrinya dengan benar.
"Aku kan sudah bilang mangga Pak RT. Lah kamu nya ngomong terus, aku kan jadi bingung mendengarnya," jawab Adel sudah berhenti tertawa dan kembali duduk di sisi ranjang seperti tadi. Namun, baru saja ia duduk Elvino sudah menarik pergelangan tangannya agar tetap berdiri.
"El," seru Adelia marah tangannya di sentuh dan cepat-cepat pemuda itu melepasnya. Soalnya El melakukannya juga refleks bukan disengaja.
"Maaf, aku tidak berniat melakukannya," ucap El sudah tahu jika istrinya tidak bisa dia sentuh apabila bukan sedang muntah-muntah. Adelia seperti memiliki duplikat menyerupai dirinya. Sebab bila dia sedang muntah-muntah, meskipun El memijit kaki maupun pundaknya dia tidak merasa takut ataupun sebagainya. Namun, akan beda cerita bila seperti saat ini.
"Huem, sudah tidak apa-apa," jawab Adel sambil menyelipkan anak rambutnya yang tidak diikat. "Aku tidak akan bilang apa-apa pada mama sama papa, jadi kamu boleh pulang sekarang," usir Adel karena dia bingung mau istirahat apabila ada Elvino di dalam kamarnya.
"Kenapa malah mengusir ku? Cepat ganti baju kita beli mangga Pak RT ya kamu inginkan," titahnya tidak terima di suruh pulang. Padahal El baru saja datang.
"Aku bukan mengusir mu, tapi kamu kesini hanya ingin mengatakan agar aku tidak mengadu pada mama jika kamu bolos kuliah, 'kan," jawab Adel tidak mungkin berkata jujur bahwa dia tidak nyaman karena kehadiran El. Setelah diam sejenak Adel bicara lagi. "Pak RT sudah bilang ambil saja. Tapi harus ambil sendiri, karena dia tidak bisa manjat,"
"Sudah gampang jika begitu. Aku sangat jago bila hanya memanjat mangga setinggi itu," menyombongkan diri karena Elvino memang pintar memanjat pohon. Dia nakal sejak kecil, jadi jangan heran. Elvino bukan seperti para tuan muda di dunia novel yang tidak bisa memanjat pohon saat istrinya mengidam ingin buahan segar.
"Benarkah? Ayo kita pergi sekarang!" dengan semagat empat lima gadis itu berjalan ingin keluar dari kamar. Akan tetapi pinggir daster yang ia pakai sudah ditarik oleh Elvino.
"Eh, mau kemana?" ucap El masih memegang erat baju Adelia.
"Kan kita mau minta mangga pada Pak RT. Ini lepas, kenapa kamu seperti anak kecil naik-naik baju aku,"
"Ganti baju dulu, jangan pakai daster seperti ini," jawab El tidak mau lekuk tubuh istrinya dilihat oleh orang di luar sana.
"Kita ini cuma mau minta mangga, bukannya pergi jalan-jalan,"
"Adel, cepat ganti! Atau kita tidak akan minta mangga nya," ujar El tidak mau tahu.
"Aku bukan malu, tapi di pinggir warung begitu banyak laki-laki yang hanya duduk nongkrong. Mereka akan melihat tubuhmu yang memakai kain seperti ini," ungkap Elvino akhirnya mengatakan juga alasannya.
"Apa!" seru Adel sedikit tersenyum di sudut bibir atasnya. Entah mengapa hatinya sedikit senang mendengar El melarang karena tidak mau pria lain melihat tubuhnya.
"Baiklah! Sebentar," jawab Adel berjalan kearah lemari dan mengambil switer didalam lemari.
Sedangkan El hanya diam saja karena setidaknya pakai switer jauh lebih baik daripada hanya memakai baju daster biasa.
"Ayo," ajak Adel berjalan lebih dulu dan diikuti oleh El.
"Nak, kalian mau kemana?" tanya Tante Mona yang kebetulan lewat dari depan membawa sayuran ditangannya.
"Mau ke depan, Tan. Adel mau mangga Pak RT," El yang menjawab lebih dulu.
"Tapi siapa yang akan memanjatnya?" tanya Tante Mona yang sudah tahu jika Adel ingin membuat rujak mangga.
"El yang akan mengambilnya," tunjuk Adel tersenyum. Dia benar-benar merasa bahagia karena tidak perlu menunggu pamannya pulang.
"Memangnya bisa? Kalau tidak bisa biar Tante meminta tolong pada Yosep dan teman-temannya yang lagi ada di warung," tawar wanita paruh baya itu tidak mau El sampai jatuh gara-gara tidak bisa manjat.
"Tidak perlu Tante, biar Saya mengambilnya sendiri," tolak Elvino.
"Jika minta tolong pada mereka, nanti aku malah dibilang suami yang tidak becus apa-apa. Lagian Adel mungkin lagi hamil anakku,"
Gumam El merasa gengsi dan takut jika ngidam Adel karena ulah anaknya.
"Oh, yasudah! Pergilah! Tapi hati-hati, jika tidak bisa jangan dipaksakan," kata Tante Mona sebelum meneruskan niatnya untuk masakan siang buat mereka.
"El, ayo," Adelia kembali berjalan menuju ke rumah Pak RT yang hanya berjarak sekitar tiga puluh meter dari rumah Paman Hasan.
"Adel," sapa Pak RT yang kebetulan sedang duduk di teras rumahnya. "Apakah mau mengambil mangga?" tanya beliau lagi.
"I--iya, Pak. Saya mau minta sekarang saja. Biar suami Saya yang mengambilnya," jawab Adel menyebut kata suamiku.
"Oh, bagus sekali! Ambil saja sebanyak yang kamu mau," ujar si Pak RT menatap Elvino yang hanya diam saja.
"Iya, kami ambil dulu ya, Pak." kata gadis itu karena tadi pagi Tante Mona juga sudah mengatakan jika Adelia mau membeli mangga. Namun, kata beliau ambil saja tidak perlu beli.
"El, apa kamu yakin mau memanjatnya sendiri? Jika tidak bisa biar aku minta tolong sama Kak Yosep atau---"
"Cepat duduk di sana, nanti malah ketimpa sama buah mangga," titah El tidak menghiraukan ucapan sang istri.
...BERSAMBUNG......