Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Satu Piring, Berdua.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"Aku masih kenyang, makanya tidak mau makan. Tapi jika kamu kan hanya makan kue saja," ucap Elvino sambil mengambil makanan diatas meja. Lalu setelah diisi dengan lauk pauknya. Dia berjalan lagi ke arah sang istri dan duduk di tempat sebelumnya.


"Aku hanya tidak mau kamu sakit," jawab Adel jujur. Selama ini Elvino sudah baik kepadanya. Maka dari itu Adelia ingin berbuat baik juga kepada suaminya.


Selama mereka menikah baru hari inilah Adelia melihat wajah lelah Elvino. Tanpa bertanya pun gadis tersebut sudah bisa menebak bahwa semua itu pasti karena pekerjaan sang suami.


"Apakah kamu mengkhawatirkan keadaanku?" tanya Elvino menatap ke arah istrinya. Dengan perasaan tidak menentu.


"Eum... iya," kembali lagi berkata jujur. "Tentu saja aku mengkhawatirkan keadaanmu," lanjut Adelia.


"Jika aku boleh tahu, kenapa kamu khawatir?" El sampai menunda makanya karena begitu penasaran dengan jawaban sang istri.


"Aku khawatir karena jika dirimu sakit, lalu siapa yang akan merawatku di sini," cicit Adel tersenyum kecil.


"Ck, kamu ini jujur sekali. Kenapa tidak berbohong dan mengatakan bahwa kamu khawatir bukan karena tidak ada yang menjagamu," decak Elvino mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.


"Itu karena aku tidak biasa berbohong sepertimu. Kalau dirimu kan memang tukang bohong," seloroh Adelia yang asal bicara. Namun, sangat mengena di hati suaminya.


"Ya sudahlah tidak usah dibahas lagi," ujar El karena setiap perkataan istrinya sangatlah jujur sehingga dia merasa tersindir.


"Kenapa? Apa mau makan nasi juga, ini tidak pedas. Sepertinya mama sengaja memesan yang tidak pedas. Agar kamu juga bisa memakannya." sudah kurang lebih dua bulan hidup bersama. Sedikit banyaknya El sudah tahu, disaat Adelia menginginkan sesuatu.


"Ini," karena tidak ada jawaban dari Adelia. El pun tiba-tiba langsung menyodorkan makanan miliknya ke mulut sang istri.


"El, aku bisa---"


Leap!


Di saat Adelia berbicara, pada saat itulah El memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulut gadis itu. sendok yang ia gunakan juga untuk dirinya tadi.


"Elvino, apa yang kamu lakukan!" seru Adelia menutup mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Sudah, makan saja jangan banyak protes," jawab Elvino tersenyum karena merasa lucu melihat pipi istrinya yang mengembang karena makanan yang dia suapkan terlalu banyak.


"Tapi tidak sepenuh ini. Kamu pikir aku ini kelaparan apa," Adel memanyunkan bibirnya setelah semua makanannya habis.


"Ha... ha... maaf, maaf! Aku tidak pernah menyuapi siapapun. Jadi hal wajar bila saat suapan perdanya gagal," tawa El tanpa sadar karena hal tersebut, sudah menghilangkan lelah yang ia rasakan.


Belum lagi bekerja, tapi El sudah kelelahan. Apa ceritanya bila nanti dia sudah mulai bekerja di perusahaan. Disela kesibukan kuliahnya juga yang harus menyelesaikan skripsi.


"Nggak lucu," jawab Adel masih mengerucutkan bibirnya.


"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya." Elvino kembali meminta maaf. Lalu dia kembali lagi menyuapkan satu sendok yang tidak penuh seperti tadi.


"Ayo makan lagi, ini sudah aku kurangi isinya,"


"Tidak! Kamu makan saja, nanti Jika kamu sudah selesai tolong isikan saja untukku biar aku makan sendiri," Adelia kembali menolak.


"Ini saja, kita bisa berbagi makanannya. Nanti setelah habis tinggal nambah lagi. Lagian kata Almarhum nenek, bila makanan sudah berbeda piring. maka rasanya pun akan berubah," Elvino terus memaksa sehingga gadis itu pun tidak menolak.


Apa yang diucapkan Elvino memang benar. Tadi sebetulnya Adelia sudah makan makanan tersebut bersama adik dan ibu mertuanya. Namun, rasanya berbeda tidak senikmat sekarang.


"Kamu makan juga," titah Adel karena Elvino malah berfokus menyuapinya saja.


"Iya, tunggu aku tambah lagi makanannya," pemuda itu pun kembali mengambil makanan tersebut. Soalnya tadi dia memang hanya mengisi sedikit. Dikiranya hanya untuk dirinya sendiri.


"Minumlah!" Elvino sudah seperti seorang ayah yang lagi menyuapkan anaknya.


"Terima kasih, maaf ya aku jadi merepotkan mu," ucap Adel dengan tulus.


"Tidak apa-apa, kamu memang tanggung jawabku," Elvino kembali lagi menyuapi Adel dan dirinya sendiri secara bergantian.


Begitulah seterusnya, mereka makan dengan serius. Tidak banyak berbicara hal lain, karena Elvino pun hanya diam saja. Pemuda itu takutnya nanti malah tiba-tiba Adel merasa mual.


Jadi lebih baik diam saja, karena mencari aman. Agar istrinya bisa makan terlebih dahulu. Semenjak mengetahui betapa menderitanya Adel. Gara-gara kehamilannya, membuat Elvino merasa senang apabila istrinya bisa makan sampai kenyang.


"Mau nambah lagi?" tanya El, karena satu piring makanan yang diisi penuh sudah habis oleh mereka berdua.


"Tidak, aku sudah kenyang," Adel menggelengkan kepalanya cepat. "Tapi jika kamu masih lapar makan saja," titah Adel karena takutnya El tidak kenyang karena menyuapi dirinya.


"Aku juga sudah kenyang, apalagi ketika melihatmu makan dengan lahap. Perutku seakan ikut terasa penuh," jawab Elvino tergelak.


Sehingga tawanya menular pada Adelia. Gadis itu juga ikut tertawa karena apabila bisa makan tidak mual. Maka dirinya makan yang banyak. Soalnya bila si bayi barulah, maka sampai dua atau tiga hari Adelia akan terus merasakan mual setiap mencium bau makanan.


Namun, yang jelas entah mereka berdua sadar, atau tidak. Hari ini sudah makan satu piring dan mengunakan satu sendok yang sama pula. Bahkan Elvino sendiri yang menyuapi istrinya.


"Istirahatlah! Aku mau menyimpan piring bekas makan kita," ucap Elvino berdiri dari tempat duduknya.


"Huem," Adelia hanya berdehem kecil. Sambil menatap punggung suaminya.


Sejahat dan apapun Elvino, yang sudah merenggut mahkotanya secara paksa. Tetap saja Adelia merasa kasihan, soalnya setelah mereka berdua menikah dan tinggal satu Apartemen. Elvino tidak pernah menyakitinya lagi.


Malah yang ada dia selalu menyusahkan pemuda itu, karena ingin makanan yang tidak ada di Apartemen.


"El," panggilnya melihat sang suami lagi mengetik sesuatu pada ponselnya. Saat ini Elvino masih berdiri di dekat sofa.


"Huem, apa? Kamu mau apalagi?" tanya El menyimpan ponsel tersebut kedalam saku celananya. Lalu berjalan mendekati sang istri.


Padaha dia sedang berbalas pesan pada kedua sahabatnya. Agar mengirimkan contoh skripsi punya mereka berdua.


"Apakah kamu lagi ada masalah? Kenapa wajahmu terlihat sangat lelah? Jika ini karena pekerjaan mu, maka berhenti saja. Aku tidak mau kamu mengalami kesusahan karena aku," tanya gadis itu yang tidak tahan bila hanya diam saja dan berpura-pura tidak tahu apa yang dialami oleh suaminya.


"Kenapa?" Namun, bukannya menjawab. Tapi Elvino malah balik bertanya. "Kamu tenang saja, ini semua tidak ada hubungannya dengan dirimu." lanjutnya lagi karena tidak ingin Adelia merasa bersalah, karena sejatinya memang bukanlah kesalahan sang istri. Melainkan salah dirinya yang tidak tahu cara bekerja dan melalaikan kuliahnya. Hanya karena terlalu larut dengan dunianya sendiri.


Sehingga sekarang baru kena batunya, di saat sudah memiliki tanggung jawab sebagai seorang suami yang sebentar lagi akan menjadi Ayah juga.


"Tapi aku tidak percaya, kamu pasti lagi berbohong karena tidak mau aku merasa bersalah karena hal ini, kan?" tuduh Adelia penuh selidik.


"Astaga! Kenapa dia bisa membaca pikiranku. Apakah naluri seorang istri itu bisa mengetahui hal semacam ini juga," gumam El sambil duduk di atas ranjang samping paha istrinya. Bukan pada kursi seperti tadi.


Soalnya ranjang tempat tidur Adelia bukan seperti tempat tidur pasien lainnya, karena dia berada di ruangan VIP yang harga satu malamnya saja sama seperti menginap di hotel bintang lima.


Hanya orang-orang seperti keluarga suaminya lah yang mampu menggunakan fasilitas tersebut.


"Ayo cepat cerita, aku ingin tahu apa masalahmu," desak gadis itu lagi yang sifatnya bisa berubah-ubah dalam waktu bersamaan. Makanya selama ini Elvino selalu mengatakan bahwa perubahan sikap istrinya adalah, karena sibayi yang ingin balas dendam padanya.


"Sebetulnya ini bukan masalah pekerjaan saja. tapi tentang skripsiku yang belum juga selesai sampai saat ini," jawab Elvino jujur. Lagian tidak ada gunanya juga ia berbohong pada sang istri.


"Kalau begitu tinggal kerjakan saja, kenapa kamu malah bingung?" sahut Adelia enteng. Dia lupa bahwa otak suaminya hanya dipenuhi oleh pacar-pacarnya dan minuman saja.


"Aaah! jika otakku mampu, maka aku tidak akan bingung Adelia," Elvino mengarahkan tangannya ingin mencubit pipi istrinya karena tidak tahan menahan gemas. Namun, dia turunkan lagi.


"Kamu pasti bisa, asalkan belajar lebih giat lagi dan kurangi minum-minuman keras. Soalnya selain kamu menjadi malas-malasan. Juga tidak baik untuk kesehatan tubuhmu," nasehat Adel karena sebetulnya sudah lama dia ingin berkata seperti itu. Namun, takut apabila Elvino marah karena dia terlalu ikut campur urusan suaminya.


"Huem," El hanya berdehem degan pikirannya."Tapi aku tidak yakin akan bisa. Jika kali ini aku gagal lagi, maka aku akan di DO oleh pihak kampus. Sialnya lagi, bila hal itu sampai terjadi. Maka papa mengancam akan mengambil semua fasilitas yang aku miliki," ungkapnya degan wajah berat menahan beban tersebut. Beban masalah yang dia perbuat sendiri.


"Kamu harus semagat, apa yang papa lakukan karena tidak ingin dikemudian hari nanti kamu mengalami kesusahan. Sekarang kamu boleh merasa tidak akan terjadi apa-apa, mau bekerja ataupun tidak. Maka keluarga Wijaya tidak akan bangkrut sampai beberapa keturunan." kata gadis itu yang langsung membuat El menatap kearahnya.


"Tapi aman itu bila ada yang mengelola harta kalian. Umur manusia tidak ada yang tahu, El. Bagaimana jika sebelum dirimu mampu mengendalikan perusahaan. Papa sudah pergi meninggalkan kita semua? Kira-kira apa yang akan terjadi setelahnya?" Adel sengaja berbicara seperti itu. Siapa tahu Elvino masih memiliki pemikiran yang benar.


"Tapi aku tidak bisa---"


"Kamu pasti bisa!" sela Adelia cepat. "Kamu tidak bisa karena belum pernah mencobanya dengan serius kan?" mendengar ucapan istrinya El langsung terdiam.


"El, maaf sebelumnya! Aku tidak bermaksud ikut campur masalah pribadimu. Aku hanya tidak ingin melihat kamu seperti orang paling menderita di dunia ini. Padahal masih banyak manusia yang lebih menderita dan susah daripada dirimu." terdiam sesaat sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Contohnya diriku sendiri. Jujur, dulu aku sempat berpikir bahwa tidak akan bisa hidup tanpa kedua orang tuaku. Namun, nyatanya setelah aku mencoba untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Aku bisa melewati semuanya sampai hari ini."


"Adel," seru Elvino menatap istrinya degan tatapan tidak terbaca.


"Iya, seperti diriku lah contohnya. Di saat baru mengalami kejadian malam itu. Aku kembali lagi merasakan hal yang sama. Jika bukan karena Tante Mona dan pamanku. Mungkin sekarang aku sudah tidak berada di sini lagi," gadis itu tersenyum kecil sambil mengurus perutnya yang sudah mulai membesar.


"Lalu sebesar apa masalah hidupmu? Sehingga baru disuruh mengerjakan skripsi dan diancam oleh papa saja kamu sudah terlihat lemah seperti ini. Seakan-akan dunia sudah mau kiamat saja." cibir Adel karena ingin Elvino semagat tidak mengeluh sebelum mencobanya.


"Apakah aku lemah? Tapi apa yang dikatakan oleh Adel benar, aku belum mencobanya. Kenapa sudah mengeluh lebih dulu." gumam Elvino tidak merasa tersinggung dengan ucapan istrinya.


"Baiklah! Aku akan mencobanya! Terima kasih untuk dukunganya. Setelah mendengar ucapan mu, pikiranku menjadi lebih tenang. Tidak takut seperti tadi karena memikirkan bila papa benar-benar mengambil semua fasilitasku dan aku diusir dari rumah. Maka aku akan kerja apa," jawab El tersenyum merasa bersyukur juga memiliki istri seperti Adelia.


"Semagat! Kamu pasti bisa," Adel mengangkat tangannya ke atas sebagai penyemangat untuk Elvino.


"Aku yakin, jika kamu pasti bisa, El. Asalkan mengerjakan dengan bersungguh-sungguh," mereka berdua saling bergumam di dalam hatinya masing-masing.


Beberapa menit kemudian.


"Adel, apakah kamu mau tidur?" tanya Elvino karena melihat istrinya sudah menguap sejak tadi. Namun, sepertinya sengaja ditahan karena mereka berdua masih mengobrol serius.


"Heum, iya! Aku mau tidur," jawab si ibu hamil mulai memperbaiki bantal kepalanya. Akan tetapi dengan sigap Elvino turun dari ranjang dan memperbaiki letak bantal tersebut agar istrinya bisa tidur dengan nyaman.


"Tidurlah! Aku akan menjagamu," titahnya agar Adelia istirahat.


"Tapi... kamu juga tidur saja, El. Sejak tadi malam kamu menjagaku dan tidak bisa istirahat dengan tenang,"


"Iya, aku akan tidur setelah kamu tidur lebih dulu," diiyakan saja yang penting Adel segera tidur. Itulah yang Elvino lakukan.


Mungkin karena terlalu mengantuk jadinya tidak membutuhkan waktu lama. Si ibu hamil pun sudah masuk ke alam mimpinya dengan damai. Nafasnya mulai terdengar teratur.


"Ternyata meskipun umurmu jauh lebih muda dariku. Tapi cara berpikir mu lebih dewasa dariku. Terima kasih karena dukungan darimu benar-benar bisa mengembalikan kepercayaan diriku sendiri." ucap pemuda itu memperbaiki selimut pada tubuh istrinya.


Dengan gerakan ragu-ragu dan sedikit gemetar tangan Elvino terangkat untuk menyentuh perut Adelia sambil berkata. "Jika kamu memang benar anakku, maka aku yakin semuanya pasti akan diberikan kemudahan. Sehat-sehatlah bersama mamamu, karena aku akan menjaga kalian berdua." bisik El yang seperti gumaman kecil.


Lalu karena tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia pergi ke arah sofa yang tidak jauh dari sana. Untuk merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Bukan Elvino tidak mau tidur di atas ranjang khusus buat keluarga yang menunggu pasien.


Hanya saja dia takut tidur terlalu lelap. Sehingga tidak bisa mengetahui bila Adelia menginginkan sesuatu. Elvino tidak mau istrinya sampai mengalami hal seperti tadi malam lagi.


...BERSAMBUNG......