Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Bukan Hamil Anak Mantan.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"Arya, kamu ini kenapa?" tanya Elvino yang belum bisa menghilangkan rasa khawatirnya.


"Aku tidak kenapa-kenapa, Kak. Tadi setelah minum obat. Aku langsung tidur dan tidak tahu jika sudah malam," jawab Arya seperti sedang diintrogasi.


Padahal pemuda itu tidak melakukan kesalahan apapun. Dia hanya tidur karena matanya mengantuk setelah minum obat dan gara-gara morning sickness yang ia alami membuat Arya malas untuk melakukan hal apapun.


Tidak ubahnya seperti mana seorang ibu hamil muda. Maka seperti itulah Arya saat ini. Maunya hanya berbaring diatas tempat tidur. Untuk makan pun pemuda itu sudah malas.


"Apakah kamu tidak tahu semua orang sangat khawatir padamu? Kenapa kamu kekanakan seperti ini. Jika kamu marah padaku, maka tidak usah membawa orang lain. Bikin kerjaan saja," kata Raya menatap kesal pada suaminya.


Jika tahu Arya baik-baik saja, tentu dia tidak akan mau mendatangi apartemen seperti saat ini.


"Aku tadi hanya minum obat, tapi---"


"Ck, kamu salah obat, Ar. Lain kali jika mau bunuh diri seperti kakak mu. Bukan minum vitamin dan obat mual. Ada-ada saja," decak Elvino yang terdengar seperti ejekan.


Sehingga para pengawal Wijaya menahan tawa mereka. Termasuk Sekertaris Demian.


Padahal sudah jelas Arya hanya meminum tiga tablet dari tiga macam obat. Jadi mana mungkin bila Arya melakukan tindakan bunuh diri.


"Ayo kita tunggu di luar, Tuan Muda Arya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ajak sekertaris pribadi tersebut karena tidak ingin bawahannya mendengar perdebatan tuan mereka.


"Apa kamu puas sekarang sudah membuat semua orang khawatir? Seperti anak kecil saja pakai acara minum obat segala. Apa kamu pikir degan bunuh diri kamu akan tenang? Bodoh! Justru dirimu akan semakin menderita," cecak Raya yang akhirnya menangis karena dia tadi benar-benar sangat takut bila Arya mati bunuh diri.


Nyatanya pemuda itu malah enak-enakan tidur dalam gelap. Padahal dari siang semua orang khawatir pada keadaannya.


"Iya, Ar. Benar kata Raya. Kamu kalau mau meluluhkan hati adikku bukan dengan cara bunuh diri seperti ini. Bagaimana bila kebablasan, kamu mati beneran dan keponakan ku jadi yatim dong," keluh Elvino yang sebetulnya mau tertawa karena dari kejadian ini dia tahu bahwa Raya adiknya masih mencintai Arya.


"Ray, Kak... aku bukan mau bunuh diri. Tapi aku---"


"Tapi kamu mau mencoba dulu, kan? Aiiis! Mau mati kok coba-coba. Sudahlah ayo cepat bangun. Mama dirumah sedang pingsan karena tensinya naik lagi. Mama khawatir kamu terjun ke laut gara-gara adek mengajukan surat gugatan cerai," sela Elvino yang benar-benar bikin orang kesal bila mendengar ucapannya.


Padahal yang mengatakan mungkin saja Arya terjun ke laut adalah dia sendiri. Sehingga membuat semua orang semakin panik.


"Apa, mama sakit? Astaga jam berapa ini? Sayang kamu jangan menangis karena aku tidak sengaja melakukannya. Aku tidak tahu bahwa---"


Hoek!


Sebelum menyelesaikan ucapannya. Arya kembali muntah dan dia langsung secepat kilat berlari masuk kedalam kamar mandi.


Hoek!


Hoek!


"Arya, kamu kenapa?" tanya Raya menyusul masuk kedalam kamar mandi dan sejauh ini belum ada yang menyadari bahwa si putri bungsu sudah bisa berjalan tanpa tongkat.


Hoek!


Hoek!


Arya yang kembali merasakan tidak enak pada perutnya tidak langsung menjawab pertanyaan Raya. Namun, setelah selesai membasuh mukanya. Dia menoleh kearah belakang.


Tepatnya menatap Raya yang matanya masih merah karena menangis. Raya kesal pada Arya yang dia anggap sengaja melakukan semuanya.


"Arya... kamu muntah-muntah? Anak siapa yang kamu kandung? Apakah ini penyebabnya adikku menggugat mu? Pantas saja lah, aku dulu selingkuh juga. Tapi aku masih bisa menjaga kehormatan ku sebagai seorang suami. Aku tidak pernah disentuh oleh siapapun, jadi tidak sampai hamil," seloroh Elvino yang lagi-lagi membuat Raya ingin marah dan menangis secara bersamaan.


"Kakak! Kak El kenapa sih suka sekali menjadi kompor?" sentak Raya kesal dan langsung meninggalkan Arya bersama kakaknya.


"Eh, malah marah, Kakak kan hanya sedang menyampaikan kekecewaan mu pada Arya," Elvino tergelak. Lalu menatap pada Arya.


"Ayo pulang! Nanti mama semakin khawatir bila kamu tinggal disini sendirian," ajaknya pada Arya tanpa ada rasa bersalah sudah memanasi Raya sejak tadi.


Sudah tahu Raya dan Arya lagi ada masalah. Namun, El malah dengan sengaja membahas gugatan cerai dan perselingkuhan Arya. Benar-benar kakak ipar terluknut pokoknya.


"Huh! Iya," Arya hanya menghembuskan nafas panjang karena bila bukan kakak ipar. Mungkin dia sudah memukul Elvino.


"Eh, Ar... kamu kenapa? Apakah itu sebabnya kamu meminum obat mual?" El berdiri di depan pintu kamar mandi untuk bertanya pada adik iparnya.


"Aku lagi mengidam," jawab Arya singkat karena dia masih lemas dan kepalanya juga pusing.


"Apakah kamu mengalami morning sickness, atau hamil simpatik gara-gara adek lagi hamil?" tebak Elvino mengikuti Arya dari belakang dan ternyata di dalam kamar tersebut sudah tidak ada lagi Raya.


"Tentu saja, aku adalah papa idaman yang tahu segalanya. Saat kakak iparmu hamil Eza. Aku banyak membaca buku ibu hamil," jelas Elvino sedikit menyombongkan dirinya.


Walaupun apa yang ia katakan adalah benar. Si playboy cap kampak memang sangat hebat dan sosok ayah idaman.


"Ck, jika Kakak sudah tahu, tadi kenapa bicara seperti itu di depan Raya. Kakak lihat kan, dia jadi bertambah marah," decak Arya mencari baju kaos untuk ia pakai. Lalu adik dan kakak ipar itu keluar bersama.


"Aku hanya lagi menggoda Raya. Tau-taunya dia malah marah," degan ketampanannya El berjalan dengan tangan dimasukan kedalam saku celananya.


"Adek, kamu sudah bisa berjalan?" seru Elvino karena yang memegang tongkat adalah pengawal Wijaya.


"I--iya," jawab Raya saling tatap dengan Arya. "Kamu sakit apa? Kenapa minum obat dari rumah sakit?" tanya gadis itu sudah memegang kresek obat suaminya untuk dibawa pulang ke rumah utama.


"Itu obat penghilang rasa mual karena---"


"Dek, Arya lagi mengidam, tadi Kakak salah. Sudah suudzon padanya. Arya bukan hamil anak kekasihnya, jadi jangan cemburu," sela Elvino tersenyum lebar.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Memangnya mau anak kalian mirip sama Kakak. Eh, tapi tidak apa-apa mirip juga. Kakak kan sangat tampan," sepertinya Arya dan Raya harus banyak-banyak bersabar agar anak mereka tidak mirip dengan si playboy cap kampak.


"Arya, ayo pulang lah ke rumah utama. Mama lagi sakit, dia mengira jika dirimu benar-benar bunuh diri," ajak Raya mengabaikan ucapan kakaknya.


"Cie-cie! Yang lagi bertengkar mulai baikan nih. Takut ya, kalau Arya benar-benar bunuh diri," goda Elvino pada adiknya.


"Haa... ha... sudahlah, ayok kita pulang," tawa Arya seraya mengelengkan kepalanya. Arya saja menjadi salting mendengar ucapan kakak iparnya. Apalagi Raya yang diejek. Maka dari itu dia mengajak semuanya untuk pulang lebih dulu.


"Adek, ayo pulang, jangan sampai nanti malah dirimu yang minum obat tidur," kata Elvino tergelak mengikut Sekertaris Demian dan pengawal mereka.


"Sayang, ayo. Jangan dengarkan ucapan Kak El, dia hanya bercanda," degan lembut Arya menarik tangan istrinya keluar dari Apartemen.


"Kalian duluan saja, aku tidak apa-apa," imbuh pemuda itu yang menutup pintu Apartemennya lebih dulu.


Tidak banyak bicara lagi. Elvino dan yang lainya berjalan keluar Apartemen meninggalkan adik dan iparnya.


"Sayang, jangan marah. Aku tidak sengaja melakukannya. Tadi setelah minum obat aku langsung tidur dan ponselnya ada diluar. Jadi tidak tahu jika ada yang menelpon," ucap Arya masih memangil istrinya degan sebutan sayang.


"Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi," jawab Raya berjalan pelan juga karena kakinya yang patah, masih merasakan ngilu.


"Raya, semoga kamu tidak melanjutkan perceraian kita. Aku benar-benar tidak sanggup bila harus kehilangan mu." gumam Arya setelah mereka tiba di lobby gedung Apartemen tersebut.


"Tuan Muda, bagaimana bila mobilnya Saya yang bawa?" tanya Sekertaris Demian yang memegang kunci mobil Arya.


"Tidak perlu. Terima kasih sebelumnya. Aku sering muntah-muntah. Rasanya tidak nyaman bila ada orang," tolak Arya karena dia hanya ingin bersama istrinya.


"Oh, iya. Tidak apa-apa. Namun, Apabila Anda sudah tidak kuat. Maka segera berhenti," pesan si sekertaris pribadi seraya memberi kunci mobilnya pada Arya.


"Huem, tenanglah. Jangan khawatir," Arya tersenyum. Lalu dia menatap pada Raya dan berkata.


"Ayo masuk," titahnya karena pintu mobil sudah di buka oleh pengawal. Raya tidak menjawab. Tapi gadis itu masuk kedalam mobil suaminya.


"Sebentar ya, aku pasang sabuk pengamannya," ucap Arya setelah menyusul masuk kedalam mobil.


"Ar, kau sakit apa?" tanya si putri bungsu pada saat Arya sedang memasang sabuk pengaman padanya.


"Aku tidak sakit. Tapi lagi mengalami morning sickness karena ini. Karena buah hati kita. Begitulah kata dokter tempat aku periksa tadi pagi," Arya menyentuh perut istrinya yang masih datar dan tersenyum melihat raut terkejut Raya.


"Dia juga anakku. Jadi jangan kaget," ucapnya santai.


"Ar, kata Paman Abraham. Kamu kirim saja surat gugatan mu besok pagi. Agar cepat diurus sebelum perutku semakin besar. Karena bila sudah besar, sudah pasti perceraian kita akan ditunda sampai aku selesai melahirkan," ucapan Raya langsung membuat Arya menjauhkan tubuh mereka.


"Raya, apakah kamu tidak bisa memberiku kesempatan satu kali lagi. Demi anak kita, dia butuh diriku,"


"Maaf, aku tidak bisa, Ar. Kamu kan sudah berjanji akan melepas ku. Jadi tolong tepati janjimu. Jagan pernah membohongiku lagi,"


"Iya, aku tidak akan membohongimu lagi. Besok aku akan menyuruh pengacara ku mengurus semuanya," Arya pun mulai menjalankan kendaraan mewahnya meninggalkan gedung tersebut.


"Tapi jika bisa, tolong jangan pindah keluar negeri. Aku bukan mau melarang mu, tapi aku tidak ingin jauh dari anakku," lanjut pemuda itu menahan rasa sesak di dadanya.


"Soal itu kita lihat saja nanti. Setelah kita resmi berpisah," jawab Raya membuang arah pandangan matanya keluar dari jendela mobil.


"Kamu sakit, aku juga sakit, Ar. Bukan ini yang aku inginkan. Aku tidak pernah terpikirkan jika anakku besar tanpa sosok seorang ayah. Namun, hatiku terlalu sakit karena kebohongan mu."


Gumam Raya juga meneteskan air matanya dalam diam. Intinya mereka berdua sama-sama terluka. Entah siapa yang salah? Atau yang bersalah adala keegoisan mereka yang besar dan apabila perceraian tersebut sampai terjadi. Korbannya adalah anak mereka yang saat ini masih belum lahir.


Raya merasa benar karena dia yang menjadi korban perasaan. Sedangkan Arya merasa benar juga, karena dia tidak mungkin membohongi Raya, jika bukan untuk balas dendam atas kematian kakaknya.


... BERSAMBUNG... ...