Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Sudah Menikah. ( Elvino )


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Dari rumah Sakit tadi sampai ke Apartemen dan sekarang sudah dalam perjalanan menuju ke perusahaan Wijaya milik keluarganya. Elvino tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Hanya karena Adelia mencium tangan dan memberikan doa padanya. Agar diberikan kemudahan dalam mengajukan surat melamar pekerjaannya hari ini.


Entah mengapa hatinya seakan terasa berbunga-bunga. Mungkinkah ada segerombolan kupu-kupu yang sedang main di dalam perutnya? Sehingga terasa seperti ada yang menggelitik? Padahal cuma hal sederhana yang tidak ada artinya apa-apa.


Tidak hanya Elvino yang merasa bahagia. Nyonya Risa pun ikut merasakan hal yang sama. Meskipun di awal dia juga sempat tidak setuju ketika Tuan Arka suaminya memaksa sang putra untuk menikahi Adelia. Namun, berbeda dengan sekarang. Beliau benar-benar memiliki harapan besar, agar anak dan menantunya tetap bersama.


Tidak peduli bayi siapa yang dikandung oleh Adelia. Keluarga besar mereka akan menerima dengan tangan terbuka dan menganggap bayi tersebut adalah darah daging Elvino sendiri.


Makanya begitu melihat Adelia menyalimi tangan Elvino. Beliau sangat senang, sampai-sampai berita tersebut sudah ia sebarkan ke seluruh keluarga besar Wijaya. Termasuk Tante Mona dan Paman Hasan, yang kebetulan nomor ponsel mereka sudah saling tukar layaknya sebuah keluarga.


"Kenapa aku merasa sangat bahagia ya?" tanya Elvino pada dirinya sendiri sambil memperhatikan jalan di hadapannya, yang mulai terlihat ramai lagi karena sudah hampir mendekati jam makan siang. "Apa karena aku merasa jika Adel tidak membenciku lagi. Soalnya saat menyentuh tanganku dia biasa-biasa saja tidak takut seperti sebelumnya." masih terus berbicara sendiri.


"Semoga saja pekerjaan ini tidak terlalu berat. Agar aku masih memiliki waktu untuk berkumpul bersama Aiden dan Hendra." doanya yang tidak bisa melupakan kebiasaannya begitu saja.


"Kira-kira anak yang dikandung Adel anak aku atau benih kedua sahabatku? Kenapa aku berharap jika itu adalah darah daging ku sendiri?" tiba-tiba saja di tengah senyumannya yang terbit. Pemuda itu kembali mengingat saat menemani Adelia melakukan USG tadi pagi.


"Jika dia anakku, aku akan memberikan nama sendiri untungnya. Terserah Adel mau terima atau tidak," ucap Elvino yang sudah mematikan mesin mobilnya.


Akan tetapi dia tidak langsung keluar. Masih betah mengingat momen indah yang baru pertama kali dia rasakan seumur hidupnya.


"Mungkin bayinya tadi masih sebesar ini, ya. Kenapa aku menjadi tidak sabar ingin bertemu dengannya?" El melihat kearah jari-jari tangan. Dia sedang mengira-ngira sendiri besar bayi yang dikandung oleh istrinya tadi.


Tok!


Tok!


Di saat dia masih memikirkan si bayi yang dia lihat tadi pagi. Saat pemeriksaan sang istri. Seseorang datang mengetuk pintu mobilnya. Sehingga Elvino pun teringat tujuan dia datang ke sana. Lalu dia pun langsung keluar dari mobilnya.


"Selamat datang Tuan Muda," sapa seorang karyawan laki-laki yang diyakini oleh l adalah suruhan dari papanya.


"Iya, terima kasih..."


"Anjas, panggil saja Saya Anjas, karena untuk kedepannya kita juga akan saling bekerja sama." sambung laki-laki itu memperkenalkan dirinya.


"Baiklah, Anjas. Oh ya, apakah kamu disuruh oleh papa?" tanya pemuda itu meskipun dia sudah tahu jawabannya.


"Benar Tuan muda, mari kita masuk. Saya akan mengantarkan Anda langsung ke bagian HRD untuk menyerahkan proposal yang Anda bawa," ujarnya yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan Elvino.


"Huem," El tidak menjawab. Dia hanya berdehem seraya menganggukkan kepalanya, dan mulai mengikuti Anjas masuk ke perusahaan sang ayah.


Begitu melihat mereka berjalan masuk. Para karyawan wanita menatapnya bagaikan kucing melihat ikan segar. ada juga yang langsung tersedak air liurnya sendiri. seakan-akan baru saja melihat malaikat tak bersayap. Padahal semua orang sudah tahu bahwa Elvino adalah tuan muda Wijaya. Yaitu putra sulung dari Presdir mereka.


"Wah, tampan sekali mimpi apa aku tadi malam? Sehingga bisa bertemu langsung dengan tuan muda El," seru karyawan wanita sambil menggigit jari tangannya sendiri.


"Aku sudah tahu! Pasti berita bahagianya tentang Tuan udah Elvino, kan? sayang sekali kami semua sudah tahu," imbuh wanita yang satunya lagi.


"Iya benar! Tapi apakah kalian tahu, jika Tuan muda Elvino akan bekerja di perusahaan ini bersama kita?" saat bercerita wajah gadis itu berseri-seri menahan rasa bahagianya.


"Apa! Wah, ini benar-benar sangat mengejutkan," teriak histeris mereka secara bersamaan.


Padahal Elvino masih bisa mendengar ucapan mereka semua. Sehingga membuat pemuda itu tersenyum kecil. Bangga akan ketampanan bersertifikat yang dia miliki.


"Sejauh ini yang tidak tertarik pada ketampanan ku. Hanya istriku sendiri. Mungkin karena dia sudah merasakan betapa perkasanya diriku," gumam Elvino sambil mengikuti Anjas dari belakang.


Ceklek!


"Selamat datang Tuan Muda, silakan duduk," sambut laki-laki yang umurnya sekitar tiga puluh tujuh tahun. dia adalah kepala HRD di perusahaan tersebut.


Dia dan para staf pemasaran, memang sudah diberitahu oleh sekretaris Tuan Arka tadi pagi. Bahwa Elvino akan bekerja sebagai staf pemasaran juga. sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.


"Iya," jawab pemuda itu singkat. karena dia sudah dipersilakan untuk duduk elvino pun duduk di hadapan bapak kepala HRD dan langsung menyerahkan berkas yang ia bawa.


"Ini, silahkan diperiksa," Elvino menyerahkan sambil bertanya-tanya di dalam hatinya. Mungkinkah menjadi staf pemasaran saja dia tidak diterima juga.


"Eum... baiklah! Anda langsung di terima, karena semuanya sudah memenuhi syarat," ucap pria itu setelah membaca proposal yang diajukan oleh Elvino.


Meskipun El adalah putra dari Tuan Arka. Namun, ternyata dia tetap harus mengikuti peraturan seperti para karyawan lainnya. Untung saja mengisi proposal pengajuannya hari ini Elvino sudah belajar terlebih dahulu dari sekretaris ayahnya.


Jika tidak mana mungkin dia langsung diterima seperti saat ini.


"Benarkah! Wah, terima kasih... Pak," seru El yang terpaksa pria itu dengan sebutan pak. Soalnya dia juga menyadari bahwa statusnya di perusahaan tersebut hanya sebagai staf pemasaran. Bukan langsung menjadi CEO.


"Sama-sama Tuan, tapi pesan Tuan Arka. Katanya Anda akan bekerja setelah beberapa hari lagi,"


"Eum, mungkin iya, setelah istri Saya keluar dari rumah sakit." jawab El degan sadarnya menyebut bahwa dia sudah memiliki istri.


"Istri? A--apakah Anda sudah menikah?" tanya Anjas dan bapak bagian kepala HRD.


"Huem, iya! Saya sudah menikah. Jika bukan karena sudah memiliki istri, mana mungkin Saya akan bekerja," saat mengakui bahwa dirinya sudah menikah tidak ada ketakutan di wajah Elvino. Takut? Ya, takut jika orang-orang mengetahui pernikahannya.


Entah apa yang terjadi padanya, sehingga mengakui sendiri bahwa dia sudah memenuhi istri. Padahal selama ini dia begitu menyembunyikan pernikahannya.


...BERSAMBUNG......


.


.


.


Hai... hai... Mak mau mengumumkan bahwa Novel ( Dia Juga Anakku ) Akan ada Giveaway sebanyak 150k Buat 3 orang pemenang. Di nilainya seperti biasanya ya, yaitu dari juara Umum yang paling banyak memberikan hadiahnya. Untuk berapa besar yang akan di dapatkan oleh pemenang, nanti akan Mak buat pengumuman khusus. Terima kasih 🙏🥰🥰🥰