Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Harus Membayar Mahal.


💝💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"Maaf Nyonya, biarkan kami memindahkan Tuan Demian ke ruang perawatan intensif dulu," kata dokter yang membantu mendorong brankar tempat Sekertaris Demian terbaring tak berdaya.


"I--iya, tolong lakukan yang terbaik untuknya, Dok," ujar Nyonya Risa sambil menyeka air matanya.


"Kak El, Kakak sama yang lainya di sini saja, tunggu Om Arka. Biar aku yang menemani Kak Demian." ucap Arya yang sejak tadi menenangkan adiknya dan Raya.


"Iya, Ar. Tolong jaga Sekertaris Demian. Aku harus memastikan keadaan papa. Mungkin sekarang Om Abraham juga sudah dalam perjalanan menuju ke sini," jawab Elvino sambil melihat jam tangannya.


Setelah Sekertaris Demian di bawa ke ruang rawat intensif. Elvino dan keluarganya kembali lagi menunggu Tuan Arka yang belum tahu seperti apa keadaannya, karena para dokter terbaik sadang berusaha menyelamatkan nyawa beliau.


"El, papamu akan baik-baik saja, kan? Papa pasti selamat kan, Nak?" tanya Nyonya Risa sebelum pingsan dalam pelukan Elvino, karena pemuda itu seakan tahu bahwa mamanya mau pingsan. Jadi langsung memeluk sang ibu yang bertanya padanya.


"Ma, Mama... Mama, bangun, Ma," Elvino menepuk pelan pipi mamanya. Akan tetapi Nyonya Risa sudah tidak sadar lagi.


"Astaga! Kak! Kak Risa, bangun Kak, jagan membuat kami takut," seru Tante Anita ikut membantu Elvino membangunkan kakak iparnya.


Termasuk Adelia, Raya dan yang lainnya. Akhirnya ruang tunggu di dapan tempat operasi itu riuh oleh tangis keluarga Wijaya.


"El, angkat mama mu, kita bawa dia ke ruang perawatan. Biar Kak Risa bisa istirahat disana." ucap Om Pendi yang ternyata melihat kakak iparnya pingsan. Langsung memanggil perawat yang lewat, agar menyiapkan ruangan VIP untuk mereka.


"Iya, Om." jawab Elvino langsung mengangkat ibunya dalam gendongan. "Adek, tunggu di sini saja, tunggu papa keluar. Kakak akan membawa mama ke ruang rawat." ucapnya pada sang adik yang terus menangis.


"Iya, Kak. Pergilah!" jawab Raya yang sekarang dirangkul oleh sepupu perempuannya.


"Kak Adel sebaiknya ikut Kak El saja, Kakak jangan terlalu lelah. Raya tidak mau Kakak kenapa-kenapa juga," lanjutnya pada Adelia yang ikut berdiri bersama suaminya.


"Iya, kamu di sini, biar Kakak yang menemani mama," jawab si ibu hamil mengikuti Elvino dan Tante Anita. Gara-gara hal tersebut mereka akhirnya harus berbagi tugas.


Tiba dalam ruangan VIP.


"Baringkan di sini Tuan Muda, biar kami periksa lebih dulu," kata Dokter yang berlari masuk ke ruang rawat tersebut.


"Iya, tolong mama Saya, Dok," mohon Elvino mengangguk mengiyakan. Lalu setelah membaringkan mamanya. Dia berjalan mundur untuk memberi ruang. Agar para dokter dan perawat bisa memeriksa keadaan mamanya.


"Sayang," seru Adelia yang sudah tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya yang bergetar.


"Tidak apa-apa, mama hanya pingsan karena dia terlalu syok," Elvino yang tahu bahwa istrinya tidak baik-baik saja. langsung menuntunnya ke arah sofa.


"El, kasih istrimu minum, minta tolong pada perawat ini untuk mencari air putih," titah Tante Anita langsung saja bicara pada suster yang baru saja datang untuk mencari air putih buat Adelia.


"Bagaimana, Dok? Kakak Saya tidak apa-apa, 'kan?" tanya Tante Anita mendekati dokter yang sudah selesai memeriksa Nyonya Risa.


"Tensi darah nya hampir tiga ratus l. Jadi untuk saat ini biarkan Nyonya Risa di rawat di sini. Beliau sangat syok, jadi tensi darahnya langsung naik dan untuk berjaga-jaga kami akan menyuntikkan obat tidur pada infusnya. Agar tekanan darahnya kembali normal." terang si dokter langsung saja menjalankan tugas mereka.


"El, mamamu di rawat untuk sementara," kata Tante Anita kembali mendekati keponakan.


"Iya, Tan. Tidak apa-apa! Sejak awal El sudah tahu bahwa darah tinggi mama pasti akan naik." jawab pemuda itu masih menenangkan Adelia.


Elvino tidak bisa juga melarang istrinya menangis, karena dia tahu bahwa hubungan Adel degan kedua orang tuanya seperti mana anak dan orang tua kandung.


"Adel, jangan seperti ini, Nak. Papa dan mama kalian akan baik-baik saja. Sekarang kamu minum ya, kamu harus tenang. Ingat, ada calon anak kalian." kata Tante Anita mengelus bahu Adel yang masih bergetar karena menahan tangisnya.


"Ayo minum air nya degan pelan. Benar kata Tante, ingat anak kita. Jika kamu kenapa-napa juga. Siapa yang akan menemaniku melewati masa sulit ini. Aku butuh dirimu. Jadi aku mohon, tenanglah!" ucap Elvino memberikan air putih pada istrinya dan langsung diterima oleh si ibu hamil.


"Kita semua sama-sama mengkhawatirkan keadaan papa. Tapi kamu lihat, sekarang mama juga harus di rawat. Aku takut kamu kenapa-napa, bila terus seperti ini," lanjut Elvino menyeka air mata istrinya.


"El... maafkan aku! Seharusnya aku tidak boleh seperti ini. Seharusnya aku menguatkan dirimu. Bukannya malah menyusahkan seperti ini." ucap Adelia baru bisa berpikir jernih.


Tadi dia hanya memikirkan keadaan mertuanya saja. Tanpa berpikir bahwa Elvino suaminya sangat membutuhkan dukungan darinya.


"Tidak! Kamu tidak menyusahkan aku, hanya saja aku sedang membutuhkan dukungan darimu," Elvino tersenyum kecil karena akhirnya dia bisa menenangkan istrinya.


"Maafkan aku, sayang!" tidak memikirkan disekitarnya. Si ibu hamil langsung memeluk tubuh suaminya. Seakan dunia milik mereka berdua. Sedangkan yang lainnya hanya mengontrak dan lebih parahnya kontrakan tersebut belum dibayar.


Cup, Cup, Muuuah!


"Sudah tidak apa-apa. Aku hanya takut kalian kenapa-kenapa. Aku bisa gila bila itu sampai terjadi." si tampan Elvino mencium kedua pipi istrinya yang chubby dan terakhir dia mengecup sekilas bibir Adelia.


"Sekarang aku mau melihat keadaan papa, kamu di sini saja ya, temani mama bersama Tante Anita." ucapnya lagi karena keadaan papanya jauh lebih mengkhawatirkan.


"Iya, pergilah! Kamu pasti bisa melewati ini semua. Kamu adalah suami dan ayah yang hebat. Aku percaya pada kehebatan suamiku. Sebesar apapun badai yang menghantam, pasti tidak akan pernah goyah oleh orang-orang yang ingin menyakiti keluarganya." jawab Adelia memberikan semangat untuk suami posesif nya.


Cup!


"Terima kasih!" setelah kembali mengecup bibir istrinya. Elvino langsung pergi dari sana. Dia belum bisa tenang sebelum melihat papanya.


"Tante, tolong urus mama dan... titip istriku. Jika ada apa-apa tolong kabari Elvino." pamitnya pada sang Tante dan diiyakan oleh wanita itu.


Kleeek!


"Huh!" Elvino menutup pintu ruang rawat mamanya dan memejamkan matanya. Sungguh dia sangat lelah dan ingin mengeluh. Namun, dia tidak ada tempat untuk mencurahkan apa yang sedang dia rasakan saat ini.



"Papa Elvino berjanji akan menyelesaikan masalah ini dan akan membuat mereka membayar mahal atas apa yang sudah terjadi. Namun, papa bertahanlah! Biarkan Elvino yang menghadapi semua masalah ini, yang terpenting sekarang papa bisa selamat dan bisa berkumpul bersama lagi. Elvino hanya butuh itu"


Gumam Elvino memejamkan matanya setelah melihat keadaan mama dan istrinya dari balik kaca pintu kamar rawat.


"Kakak, bagiamana keadaan mama!" tanya Raya yang langsung berlari memeluk kakaknya.


"Tidak apa-apa! Mama sekarang dirawat karena darah tingginya kambuh. Adek tenanglah!" jawab Elvino kembali menguatkan adik perempuannya. Padahal baru saja dia menenangkan istrinya.


"Lalu kakak ipar bagaimana? Kak Adelia baik-baik saja, 'kan?" ternyata dalam keadaan seperti ini..Si cantik Raya masih mengkhawatirkan keadaan kakak iparnya.


Menandakan bahwa keluarga Wijaya benar-benar sangat menyayangi menantu mereka. Walaupun Adelia terlahir dari keluarga miskin.


"Kakak iparmu baik-baik saja, dia di temani Tante Anita." Elvino melepaskan pelukan mereka dan berkata.


"Apakah belum ada dokter yang keluar?" tanyanya karena pintu ruang operasi masih tertutup rapat. Sama seperti saat dia membawa mamanya tadi.


"Belum kak, entah apa yang terjadi di dalam sana. Kenapa mereka lama sekali," yang di jawab oleh Cica. Adik sepupu Elvino.


"Tadi katanya mereka lagi mengoperasi bagian kepala papa. Semoga---"


"Elvino, Raya! Apa yang terjadi, Nak. Bagaimana keadaan papa kalian," seru wanita bernama Anin di ikuti oleh suami dan anaknya.


Beliau juga adik dari Tuan Arka, Tante kedua Elvino. Kebetulan keluarga Wijaya memang keluarga besar dan sangat menyayangi satu sama lain.


Adik-adik Tuan Arka maupun iparnya, tidak pernah iri pada beliau yang menjadi pewaris Wijaya group, karena semuanya sudah mendapatkan bagiannya masing-masing.


"Tante Anin, Om Hendri." ucap Elvino dan Raya menyalimi tangan keduanya secara bergantian.


"Bagaimana keadaan papa kalian? Dan Kak Risa mana?" tanya Tante Anin.


Sangat terlihat jelas wajah khawatirnya. Apalagi dia sudah lebih dari sepuluh hari belum bertemu dengan kakaknya karena rumah mereka memang berjauhan.


"Mama sekarang lagi di rawat di rumah sakit ini juga, karena darah tingginya kambuh. Mungkin mama terlalu syok," jawab Elvino degan helaan nafas berat.


"Ya Tuhan! Cobaan seperti apa lagi ini! Lalu bagaimana keadaannya sekarang dan istrimu dirumah sama siapa?" tadi Tante Anin memang tidak menanyakan Adelia karena tahu bahwa menantu Wijaya sedang hamil besar.


"Keadaan mama baik-baik saja, tapi dia harus di rawat biar darahnya kembali stabil. Istriku ada di sini juga, Tan. Sekarang dia sama Tante Anita lagi menemani mama," papar Elvino seraya menoleh ke arah pintu ruang operasi yang kembali terbuka lebar.


Ternyata Tuan Arka ayahnya sudah selesai di operasi dan sudah dibawa keluar dari ruangan tersebut.


"Papa..." seru Elvino dan Raya mendekati ayah mereka.


"Dokter, bagaimana keadaan papa Saya?" tanya Elvino tidak sabaran.


"Tuan Arka masih kritis dan sekarang kami harus membawanya ke ruang ICU." jawab singkat sang dokter, karena mereka lagi buru-buru.


"A--apa! Kakak Saya harus masuk ruang ICU?" lirih Tante Anin menangis melihat kepergian kakaknya yang di dorong masuk ke ruang ICU. Kebetulan tempatnya tidak berada jauh dari mereka saat ini.


"Dokter, apa yang terjadi? Kenapa papa Saya sampai separah ini?" tanya Elvino pada dokter yang menyusul rekannya.


"Kepala Tuan Arka terkena benturan keras. Sehingga ada gumpalan darah membeku pada bagian kepala belakang dan juga luka di bagian punggungnya. Nanti jika laporan lengkapnya. Dokter Simon yang akan menjelaskan," kata si dokter ikut menyusul masuk kedalam ruang ICU.


Sedangkan Elvino beserta keluarganya yang lain hanya bisa tegak berdiri di depan ruang ICU. Mereka semua tidak bisa masuk, jika belum mendapatkan izin dari para Dokter.


"Kakak... papa, Kak," lirih Raya hanya bisa menagis. Sama seperti saudaranya yang lain.


"Biarkan mereka menolong nyawa papa, kita semua harus bersabar." jawab Elvino menyadarkan tubuhnya pada dinding rumah sakit.


"Cobaan seperti apa ini? Kenapa kecelakaannya sangat parah? Apa yang mereka lakukan pada papa dan Demian?" tanya Elvino di dalam hatinya.


Kleeek!


"Tuan Muda Elvino, siapa diantara kalian yang mau menjenguk Tuan Arka lebih dulu? Karena untuk saat ini hanya boleh satu orang saja." ucap salah satu orang Dokter.


"Eum... Adek," Elvino menatap pada adiknya lebih dulu.


"Kakak saja, biar kami menunggu giliran setelah Kakak," imbuh Raya yang tahu jika sebetulnya sang kakak lebih berhak masuk duluan.


Cup!


"Huem, baiklah! Kakak akan menjenguk papa lebih dulu. Tenang ya, semua akan baik-baik saja," Elvino mencium kening adiknya sebelum dia mengikuti dokter untuk memakai pakaian rumah sakit yang harus di steril kan lebih dulu.


"Papa... lihatlah! Sekarang Kak El bisa melindungi kami. Jadi papa harus bertahan dan baik-baik saja. Agar bisa melihat betapa hebatnya kakakku,"


Gumam Raya degan tersenyum kecil menatap punggung kakaknya yang sudah hilang dibalik pintu ruang ICU.


"Mari Tuan Muda, Anda hanya memiliki waktu lima belas menit." ucap si dokter membukakan pintu penghubung ke ruang tempat Tuan Arka terbujur kaku.


"Iya, terima kasih!" Elvino menjawab singkat. Lalu dia berjalan mendekati dimana ayahnya terbaring.


"Pa!" lirih si tampan dengan suara bergetar. "Papa yang kuat ya, papa tidak boleh pergi meninggalkan kami," lanjutnya sudah menarik kursi dan duduk disebelah ranjang sang ayah.


Ruangan tersebut terasa sangat mencekam, karena yang terdengar hanyalah suara alat monitor komputer yang terhubung pada tubuh Tuan Arka.


"Papa jangan khawatir, El akan menyelesaikan masalah perusahaan. Tapi... papa harus sembuh dulu, agar bisa menjaga anakku," El tersenyum getir.


"Maafkan Elvino sudah membuat papa malu. Selama ini El tidak pernah menurut saat papa menyuruh kuliah degan benar dan ikut papa ke perusahaan. Agar bisa mengetahui apa itu bekerja, bukan tahunya menghabiskan uang saja." lanjutnya lagi.


Meskipun tidak ada tanda-tanda bahwa papanya akan menjawab seperti biasa. Saat mereka berdebat karena sang ayah marah. Namun, Elvino terus mengajak berbicara.


"Apa Papa tahu jika sebetulnya Elvino sudah lama menyesal, karena tidak pernah menuruti ucapan Papa dan Mama selama ini. Tapi disaat El menyesali semuanya, malahan sudah terlambat. Karena di perusahaan kita ternyata sudah memberi makan para pengkhianat itu," ungkapnya yang membuat air mata Tuan Arka menetes.


Meskipun beliau tidak bisa membuka matanya dan menjawab ucapan sang putra. Namun, beliau bisa mendengar semuanya.


"Tapi El berjanji, akan membalas semua penghianatan mereka, yang sudah membuat Papa sampai seperti ini," janji pemuda itu yang tidak tahu bahwa ayahnya meneteskan air mata. Kala mendengar penyesalan dirinya.


...BERSAMBUNG......