Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Pelukan Pertama.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


.


Tap!


Tap!


Suara langkah kaki Elvino menyusul keluarganya di meja makan.


"Selamat pagi Pa, pagi, Ma." sapa Elvino sudah duduk di kursi yang ada disebelah Adel.


"Pagi juga, Nak. Wah ini baru anak Mama. Lebih terlihat tampan dan bertanggung jawab." puji Nyonya Risa berdiri dari tempat duduknya hanya untuk memeluk sang putra.


"Mama," seru Elvino yang malu karena diperlakukan seperti anak kecil. Apalagi Adel tersenyum melihatnya.


"Mama sangat bangga karena perubahan mu. Teruslah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab pada keluarga mu. Lihatlah papa, seperti apa dia melindungi kita selama ini," tutur beliau menatap suaminya penuh rasa cinta.


Soalnya degan kekayaan yang mereka miliki. Bukan berarti bisa hidup tenang. Ujian datang silih berganti. Namun, Tuan Arka adalah orang yang sangat sabar. Beliau sangat teliti sehingga musuh Wijaya tidak memiliki kesempatan buat menggeser nya dari dunia bisnis.


"Aaaa... tadi malam Raya mimpi apa? Kenapa pagi-pagi seperti ini sudah disuguhkan oleh pemandangan romantis." teriak Raya yang malah berdiri memeluk papanya.


"Pa, izinkan putrimu memeluk cinta pertamanya walaupun sebentar saja," ucap si cantik Raya sebelum papanya mengatakan sesuatu.


"Sudah, sudah! Papa mau sarapan, dek. Cepat kembali ke tempat duduk mu," titah Nyonya Risa yang juga sudah kembali pada tempatnya.


"Agh, Mama cemburu nih," cibir Raya menggoda sang ibu yang hanya tertawa mendengar ucapan putrinya.


"Ye, mama cemburu ya wajar saja, karena papa memang mantan kekasihnya," tawa Elvino yang bergantian mengejek sang adik.


Sehingga ruangan itu seketika penuh tawa dan canda. Tuan Arka pun jadi ikut tersenyum mendengar ucapan kedua anaknya.


"Pantas saja El memiliki hati yang baik, karena mama dan papa orang yang baik juga. Aku benar-benar beruntung bisa berada di tengah-tengah keluarga ini." gumam Adel setelah mengisi piring untuk Elvino dan juga dirinya.


"Adel, ayo makan, Nak." suara ibu mertuanya membuat Adel tersadar. Lalu dia hanya mengangguk dan mulai menyuapi makanannya. Begitu pula dengan Elvino dan anggota keluarga yang lainnya.


Selama makan tidak ada pembicaraan. Adelia juga tidak ada mengalami Morning sickness lagi dari saat dia dirawat beberapa hari lalu. Mulai bisa makan dengan tenang.


Akan tetapi tetap saja sesekali Elvino melihat kearah samping. Buat memastikan apakah istrinya baik-baik saja atau tidak.


"El, nanti setelah jam makan siang ke ruangan Papa," ucap Tuan Arka yang sudah selesai lebih dulu.


"Ada apa? Bukannya El hanya bekerja di lantai lima?" tanya El yang sudah dijelaskan oleh kepala bagian HRD waktu itu. Jika dia akan bekerja dilantai lima.


"Ada yang harus kamu pelajari juga tentang pekerjaan yang lainya. Jangan hanya satu bagian saja," jawab beliau sudah berdiri karena dia memang selalu berangkat pagi-pagi.


"Ma, Papa berangkat sekarang," ucap Tuan Arka mencium kening istrinya sebelum berangkat bekerja.


Hal yang sudah biasa dia lakukan meskipun dihadapan anak dan menantunya.


"Adel, jika ingin sesuatu bilang pada mama kalian. Jangan kamu tahan," lanjut beliau pada sang menantu.


"Dan kamu Raya, sekolah yang benar. Jangan mengoleksi mantan pacar saja yang banyak," sindir beliau yang ditujukan pada Elvino.


Soalnya hampir setiap rekan bisnisnya yang putri mereka kuliah di satu universitas degan Elvino. Mengatakan bahwa sayang sekali tidak bisa menjadi besan Tuan Arka, karena anak mereka dan Elvino sudah putus.


"Siap, Pa! Raya tidak akan seperti kakak," Raya tergelak karena sudah membuat kakaknya menatap tajam padanya.


"Adel, ayo habiskan makanannya. Aku juga akan berangkat," titah Elvino yang malas berdebat dengan Raya. Sebab apa yang dikatakan oleh sang adik adalah benar.


"Kenapa tidak nambah? Aku akan menunggu mu. Setelah selesai baru aku berangkat,"


"Aku sudah kenyang, nanti jika lapar aku akan makan lagi,"


Huem! Ya sudah kalau begitu aku berangkat sekarang. Nggak enak direktur nya saja sudah berangkat lebih dulu," ujar El yang membuat Raya dan mamanya tersenyum.


Namun, berbeda dengan Adelia. Dia malah menatap suaminya iba. Sehingga dia ikut berdiri karena ingin mengantar kepergian suaminya sampai depan.


"Ma, Adel ke depan mau ngantar El, ya." pamitnya sopan.


"Iya, pergilah, sayang," jawab Nyonya Risa yang ingin menemani putrinya makan. Sekaligus membantu asisten rumah tangganya membereskan meja makan apabila Raya sudah selesai.


"Ma, El berangkat. Tolong do'akan agar El tidak main game setibanya di perusahaan." seloroh El yang belum bisa melepas candunya terhadap game online dari ponselnya.


"Tentu, Nak. Do'a terbaik untukmu," Nyonya Risa pun memberikan ciuman pada sang putra. Mau seperti apapun dan sebesar apa Elvino. Bagi beliau tetaplah anak kecilnya yang nakal.


"Dek, Kakak berangkat," El mengacak rambut Raya yang belum selesai menghabiskan makanan miliknya.


"Iya, Kakak hati-hati. Tolong jaga hatinya hanya untuk kakak ipar,"


"Jika itu tanpa kamu pinta, tentu Kakak akan menjaganya untuk kakak ipar mu" jawab El tersenyum tampan dan langsung menarik tangan Adelia menuju ke depan rumah.


"A**pa maksudnya? Dia tidak sedang berbohong kan? Aaah Adelia, please! Jangan tergoda pada ucapannya. Kamu seperti tidak tahu suamimu saja. Kamu yang bau keringat dan acak-acakan dibilang bidadari nyasar dari planet lain," ucap si ibu hamil agar tidak baper pada perkataan suaminya.


Fiiuh!


"Kamu lagi mikirin apa? Huem? tidak lagi memikirkan kejelekan aku kan?" El meniup muka Adel degan tatapan penuh selidik.


Namun, sial malah membuat si ibu hamil salting karena tatapannya.


"Adel,"


"Huem! A--apa?" tergagap degan membuang cepat arah pandangan matanya.


"Kamu tadi lagi memikirkan apa? Apakah lagi mikirin aku?" mengulangi pertanyaan yang sama.


"Tentu saja, aku, aku lagi memikirkan dirimu yang sedang berbohong," jawab Adel menyegir kuda.


Mendengar jawaban istrinya Elvino tersenyum. Dengan tatapan masih tetap seperti tadi.


"Kamu tidak perlu percaya padaku. Cukup rasakan saja," setelah itu El menekan tombol mobil yang ia genggam. Sehingga membuat Adel menoleh ke belakang mereka, karena suara mobil mewah suaminya.


Bila dia terus menatap Adel. Bisa-bisa Elvino tidak jadi berangkat ke perusahaan.


"Aku berangkat ya, jangan nakal! Jika mau apa-apa minta sama bibi," pamitnya mengelus kepala Adel, karena hanya itu yang bisa ia lakukan.


Meskipun Elvino sebetulnya ingin melakukan lebih dari berpegangan tangan.


"Eum... kamu juga hati-hati. Semagat! Bila permainan game memanggil dirimu. Maka ingatlah kami," ucap Adel tersenyum yang langsung ditarik oleh Elvino untuk masuk kedalam pelukannya.


Pelukan pertama yang mereka lakukan. Meskipun sudah beberapa kali El menggendong ataupun menahan tubuh Adelia karena gadis itu muntah-muntah. Namun, berbeda pagi ini, dia melakukannya karena memang ingin dari lubuk hatinya paling dalam.


"El," lirih wanita itu dengan tubuh menegang dan perasaan berdebar-debar tidak karuan.


"Sebentar! Sebentar saja, aku mohon! Aku... sangat membutuhkan dukungan darimu, karena kamulah yang membuat aku percaya diri bahwa bisa melewati semuanya." jawab Elvino memeluk erat tubuh istrinya.


Sehingga dengan ragu-ragu tangan Adelia naik keatas untuk membalas pelukan tersebut.


"Apakah El separno ini pada dirinya sendiri? Sehingga sampai memelukku. Tapi kenapa aku bahagia mendengar ucapannya," gumam si ibu hamil yang sudah balas memeluk tubuh tegap Elvino.


...BERSAMBUNG......