
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Selama dalam perjalanan pulang ke Apartemen. Pikiran Raya terus memikirkan Arya. Sejak tadi pagi pemuda itu belum ada mengirimkan satu pesan pun. Tidak seperti biasanya.
Walaupun itu sangat bagus agar Raya tidak usah bersusah payah untuk menjaga jarak dengannya. Sakit karena telah ditipu hanya karena memiliki dendam pada Elvino. Sungguh sangat sulit bagi Raya. Tidak mudah untuknya bersikap cuek seolah-olah tidak terjadi apapun diantar mereka.
Berpacaran hampir delapan bulan. Lalu setelah umur pernikahan baru dua Minggu kurang lebih. Raya baru mengetahui jika semua kata-kata manis Arya selama ini hanyalah dusta.
"Ya Tuhan! Tolong kuatkan aku saat bertemu dengannya. Aku tidak mau gegabah karena takutnya Arya nekad untuk menyakiti keluarga Kakak ku." do'a Raya kembali bergumam didalam hatinya.
Tidak adanya Arya menelepon atau memberikan kabar berupa pesan sejak tadi. Membuat sebuah tembok penghalang benar-benar berdiri kokoh antara keduanya.
Sekarang di ponsel Raya sudahlah tidak ada foto-foto Arya lagi. Semua kenangan diantara mereka telah dihapus oleh si bungsu keluarga Wijaya. Untuk langkah kedepannya Raya memang belum tahu harus berbuat apa.
Namun, yang pasti dia dan Arya tidak akan mungkin bersama lagi. Sekarang Raya hanya sedang mencari cara untuk membuat Arya lengah. Setelah ada cara maka pada saat itu Raya bertindak.
"Nona Muda, kita sudah sampai," ucap Pak sopir karena melihat nona mudanya hanya diam tidak bicara apa-apa lagi setelah mereka mampir di Apotik.
"Agh! Iya, Pak! Terima kasih! Bapak hati-hati, ya," Raya tersadar dari lamunannya dan langsung berpamitan untuk masuk ke Apartemen.
Dengan langkah malas. Raya berjalan masuk gedung megah tersebut.
"Jam setengah delapan malam. Arya tidak mungkin ada di Apartemen, kan. Tadi katanya mau makan malam bersama klien nya. Namun, Entahlah! Sekarang aku tidak tahu mana ucapannya yang benar dan tidak. Mungkin saja semua yang ia ucapkan adalah bohong." tanya gadis itu pada dirinya sendiri dan dijawab sendiri pula.
Ting!
Pintu lift terbuka. Raya langsung keluar dari sana dan karena Apartemen milik Arya tidak terlalu jauh. Raya pun sudah tiba didepan Apartemen yang mereka huni.
"Sungguh tidak aku sangka, Ar. Kamu tega menghancurkan impianku. Padahal kamu tahu seperti apa cita-citaku untuk memiliki keluarga kecil yang bahagia bersama... Agh! Aku harus melakukannya sekarang." gumam Raya setelah menutup pintu Apartemen.
Gadis itu langsung masuk kedalam kamar mandi membawa alat tespek yang tadi ia beli saat dalam perjalanan pulang.
"Semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi. Aku tidak mungkin hamil, sedangkan Arya menikahi ku karena mau balas dendam. Bukan karena mencintaiku." Raya kembali berdo'a sebelum merendam alat tes kehamilan pada wadah kecil yang dia beli.
Tangan gadis itu gemetar karena takut bila hasilnya positif. Entah langkah apalagi yang harus ia ambil. Bila apa yang dia takutkan benar-benar terjadi.
Deg!
"Ti--tidak! Ini alatnya pasti salah kan?" jantung Raya bagaikan kena pukulan setelah melihat hasil garis dua pada tespek yang tadi dia celupkan pada air seni nya sendiri.
"Raya, tenang! Coba kamu ulang lagi. Mana mungkin kamu langsung hamil. Sedangkan kalian baru menikah," ucapnya kembali membuka semua tespek yang dia beli untuk melihat apakah benar dia hamil. Atau alat tersebut yang rusak.
Namun, lima alat tersebut sama-sama menunjukkan garis dua dan dia benar-benar positif hamil.
Tes!
Tes!
"A--aku be--benar hamil. Ya Tuhan! Apa yang harus aku la--lajukan? Aku tidak mungkin hidup bersama Arya lagi. Aku tidak mungkin tinggal dengan orang yang berniat jahat pada keluargaku," air mata Raya menetes dengan derasnya.
Dia merosot pada lantai kamar mandi sambil memukul dadanya yang terasa sangat sakit. Bukan seperti ini yang dia inginkan. Andai saja dia dan Arya saling mencintai. Tentu Raya sangat bahagia dengan kehamilannya.
Namun, semuanya tidak sama lagi. Semuanya sudah beda cerita. Arya telah menipunya hanya untuk dijadikan alat balas dendam.
"Hick... hick... anakku, maafkan Mama," lirih Raya memeluk perutnya yang masih rata. Akan tetapi tetap masih dengan posisi yang sama. Yaitu duduk diatas lantai kamar mandi.
"Maafkan Mama, Nak. Mama tidak sedih degan kehadiranmu. Namun, Mama sedih karena kita harus mengalami semua ini," lirihnya lagi dengan rasa yang tidak bisa dijabarkan.
"Mengapa kamu memberi harapan padaku, Ar? Kenapa kamu tega melakukan semuanya?" Raya semakin terisak sambil memeluk perutnya sendiri.
"Tidak-tidak! Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus kuat. Sekarang aku tidak sendirian. Ada anakku yang harus aku jaga," degan kasar Raya menyeka air matanya sendiri. Dia tidak boleh semakin terpuruk karena dia hamil.
"Ar, aku harap kali ini kamu berkata jujur dan tidak mengecewakan aku lagi. Bila kamu jujur, maka aku akan melakukan segala cara agar kamu tidak jadi membalaskan dendam pada keluargaku. Namun, bila kamu berbohong, maka aku akan pergi jauh membawa anak kita," ucap Raya mengambil ponselnya yang masih berada didalam tas yang tadi dia bawa.
💌 Raya : "Sayang, kamu lagi dimana? Kenapa belum pulang juga?" bunyi pesan gadis itu.
Lalu sambil menunggu balasannya. Raya berjalan kearah lemari untuk mengambil Celana Jean dan juga Hoodie karena dres yang ia pakai sudah basah.
"Nak, berdoalah semoga papamu tidak berbohong. Jika dia berbicara jujur. Maka demi dirimu, demi keluarga kita. Mama akan berjuang untuk membuat papamu jatuh cinta pada Mama." sambil berganti pakaian Raya terus berdo'a didalam hatinya.
Agar Arya membalas pesannya dan tidak berbohong bahwa lagi rapat. Atau lagi bersama selingkuhannya.
💌 Arya : "Aku lagi ada meeting bersama klienku. Mungkin satu jam lagi aku akan tiba di rumah. Sabar ya," balas Arya yang nyatanya sekarang lagi bersama Manda bukan kliennya.
💌 Raya : "Di perusahaan mu, atau di restoran. Soalnya bila kamu belum makan malam. Aku akan memasak untukmu," sambil membalas pesan tersebut. Raya bersiap-siap untuk menyusul Arya.
Raya harus memastikan sendiri. Arya berbohong lagi atau tidak. Makanya dia bertanya Arya lagi bersama siapa.
💌 Arya : "Aku lagi di Restoran tempat kita makan malam Minggu kemaren. Kamu tidak usah masak. Aku sudah makan malam disini. Nanti mau dibawakan apa? Biar aku beli saat pulang?"
💌 Raya : "Tidak usah bawa apa-apa. Aku hanya ingin dirimu cepat pulang," setelah tahu alamat tempat Arya saat ini. Raya langsung mengambil kunci mobilnya yang dibelikan oleh Arya sebagai hadiah pernikahan mereka.
💌 Arya : "Baiklah! Kalau begitu aku akan menyelesaikan pekerjaanku lebih dulu. Aku mencintaimu," balas Arya yang tidak dibalas lagi oleh Raya.
Tes!
"Aku harap kamu tidak berbohong, Ar. Aku akan memaafkan semuanya bila malam ini kamu berkata jujur," Raya kembali menangis padahal wajah chubby nya sudah sembab karena menangis.
Untungnya di dalam lift hanya ada dia sendiri tidak ada penghuni Apartemen yang lainya. Setelah pintu lift terbuka lebar. Gadis itu berjalan dengan buru-buru menuju kearah parkiran mobilnya.
"Anakku, mari kita coba keberuntungan ini." Raya menghirup nafas dalam-dalam dan dihembuskan dengan pelan. Jujur Raya sangat takut untuk mengetahui Arya berbohong atau tidak. Namun, demi masa depan dia dan calon anak mereka. Raya harus memastikan seperti apa Arya sebenarnya.
"Malah hujan," gumam gadis itu melihat gerimis mulai turun. Cuaca yang tadinya terang banyak bintang-bintang bertaburan. Tiba-tiba sudah dipenuhi oleh gumpalan awan hitam dan sekarang disertai oleh hujan juga. Seolah-olah bumi ikut bersedih seperti Raya.
Dengan kecepatan sedang Raya mengendarai mobilnya ke arah restoran yang dibilang oleh Arya tadi. Semakin dekat dengan tempat tersebut. Maka jantungnya semakin bertalu-talu.
Untuk saat ini Raya ingin egois demi rumah tangganya. Meskipun akan mengemis cinta Arya. Asalkan pemuda itu tidak berbohong lagi dan jujur bahwa lagi bersama kliennya. Maka Raya akan mempertahankan rumah tangga mereka.
"Arya, aku tidak mau kira putus," ucap Manda mengenggam kedua tangan Arya diatas meja Restoran.
Ya, saat ini Arya lagi bersama dengan Manda. Namun, sebelum bertemu gadis itu Arya memang lagi melakukan meeting bersama kliennya.
"Manda, aku sudah memiliki istri dan aku tidak mau Raya sampai mengetahui hal ini, karena aku hanya iseng-iseng saja. Bukan karena menyukaimu," jawab Arya karena dia sudah memutuskan untuk setia pada Raya dan bila mau membalas dendam atas kematian kakaknya. Arya akan mencari cara lain. Bukannya mengkhianati hubungan mereka.
"Tapi, Ar. Aku benar-benar mencintaimu. Aku mau kamu jadikan simpanan. Asalkan tidak putus darimu. Tidak masalah kita berpacaran lewat sosial media. Tapi tolong jangan akhiri hubungan ini," pinta Manda sudah menangis saat mendengar Arya akan mengakhiri hubungan mereka.
Sambil melirik jam pada pergelangan tangannya, yang sudah menunjukan pukul delapan lewat dua belas.
"Malah hujan sih, kasihan Raya sendirian dan aku sudah mengabaikan dia hari ini hanya karena untuk menyakinkan hatiku. Aku sangat merindukannya" gumam Arya karena posisi meja yang dia duduki saat ini adalah di pinggir jendela.
"Arya, aku tetap tidak mau pada pemuda lain. Jadi aku mohon jangan akhiri hubungan kita. Aku mohon," Manda semakin menagis tersedu-sedu.
Tidak perduli jika mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang. Bagi Manda asalkan bisa bersama Arya, itu bukanlah masalah. Tidak perduli hanya berpacaran lewat sosial media.
"Manda, maaf aku tidak bisa. Aku sudah melakukan kesalahan sudah menerima mu menjadi kekasihku. Aku minta maaf karena hal itu," jawab Arya yang tidak mau berurusan dengan gadis itu lagi.
"Tapi Ar, aku---"
"Man, bukannya sebelum aku menerimamu menjadi kekasihku. Kamu sudah bilang kapanpun aku berhak untuk mengakhiri hubungan kita. Jadi jangan buat aku membencimu karena hal ini," sela Arya kesal karena Manda sendiri yang berkata bahwa Arya memiliki hak untuk menuturkan dia kapanpun.
"Oke-oke! Aku tidak akan memaksamu. Tapi tolong jangan membenciku," ucap Manda cepat.
"Tapi... bisakah kamu memelukku. Anggap saja sebagai perpisahan antara kita. Aku mohon," pinta Manda karena melihat kedatangan Raya yang seperti mencari sesuatu.
"Jika aku tidak bisa memiliki Arya, maka kamu juga tidak akan bisa Raya. Aku ingin lihat, apa yang akan Arya katakan bila kamu melihat kami lagi berduaan." gumam wanita itu karena kebetulan sekali dia melihat kedatangan Raya.
"Arya, aku mohon. Anggap saja sebagai pelukan seorang sahabat. Aku mohon!" Manda kembali memohon seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Huh!" Arya menghembuskan nafas kasar. "Baiklah! Anggap saja aku memelukmu sebagai seorang sahabat," Arya berdiri untuk memeluk Manda yang sudah berdiri dan berjalan kearah tempat duduk pemuda itu.
"Aku sangat mencintaimu, Ar," ucap Manda menangis dan bahagia secara bersamaan karena dia melihat bahwa Raya telah menemukan tempat mereka.
Praaank!
Suara gelas pecah karena Raya tidak sengaja menyenggol pelayan yang membawa minuman. Suara tersebut membuat Arya menoleh kearah belakang tubuhnya dan deg!
"Raya," jantung Arya berdegup kencang karena sudah ketahuan oleh istrinya saat berpelukan dengan gadis lain.
"Ma--maaf-maaf! Saya ti--tidak sengaja," seru Raya langsung mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan diberikan cepat pada si pelayan.
"Raya, sayang semua---"
"Ti--tidak apa-apa! Te--teruskan saja," sela Raya tersenyum lebar untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Namun, air matanya yang meluncur begitu saja. Mana mungkin bisa menyembunyikan semuanya.
"Sayang ini---"
Sebelum Arya menyelesaikan ucapnya. Raya yang malu karena menjadi pusat perhatian langsung berlari keluar dari Restoran. padahal hujan diluar semakin deras. Sama seperti air matanya yang semakin menetas tidak bisa berhenti lagi.
"Sayang, ini---"
"Arya, biarkan dia pergi. Sekarang Raya sudah tahu semuanya. Jadi lebih baik kita---"
"Brengsek! Ini semua gara-gara dirimu. Kamu sengaja melakukannya kan, karena sudah melihat kedatangan Raya?" umpat Arya marah pada Manda.
Sebab posisinya tadi membelakangi tempat Raya. Jadi tidak tahu bahwa istrinya datang. Namun, bodoh nya Arya telah kena jebakan Manda.
"Ar, aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu. Aku---"
"Jika sampai Raya tidak mau memaafkan aku. Maka aku tidak akan pernah memaafkan mu juga," hardik Arya langsung berlari keluar untuk menyusul Raya yang dia yakini pasti masih berasa di luar Restoran karena hujannya sahabat deras. Tidak mungkin ada yang nekad membawa mobil saat cuaca buruk seperti saat ini.
Namun, begitu tiba diluar. Arya tidak menemukan istrinya. Begitu pula dengan mobil Raya yang juga tidak ada. Itu berarti Raya telah meninggalkan restoran.
"Astaga! Raya sudah pergi," seru pemuda itu ikut menerobos hujan untuk sampai ke dalam mobilnya yang terparkir.
Jika istrinya saja bisa mengendarai saat hujan deras. Mana mungkin dia tidak bisa. Seperti itulah yang Arya pikirkan saat ini. Degan bajunya yang basah, Arya mulai menjalankan kendaraan mewahnya menuju ke Apartemen mereka.
Soalnya dia sangat yakin bahwa Raya akan kembali ke apartemen. Namun, apabila tidak ada barulah Arya menyusul ke rumah mertuanya.
"Raya, aku mohon percayalah," gumam Arya mulai memelankan kendaraanya karena didepan terlihat ada beberapa mobil PJR yang berhenti yang sudah biasa berpatroli bila hujan besar.
Tok!
Tok!
Suara pintu jendela mobil Arya diketuk oleh polisi yang mengunakan jas hujan. Sehingga Arya yang penasaran ada kejadian apa? Langsung menurunkan jendela kaca mobilnya.
"Iya, ada apa, Pak? Apakah di depan terjadi kecelakaan?" tanya Arya yang matanya terus melihat kearah antrean kendaraan lainnya juga.
"Iya, di depan telah terjadi kecelakaan dan kami lagi menunggu alat bantuan datang untuk mengeluarkan Nona muda Wijaya yang terjepit didalamnya. Jadi kemungkinan agak lama. Untuk itu kendaraan kalian harus putar arah," jawab si Pak polisi yang membuat jantung Arya seakan berhenti berdetak pada saat kata Nona Muda Wijaya.
Padahal entah siapa yang mengalami kecelakaan. Mungkin saja hanya kebetulan nama tersebut sama seperti nama belakang Raya.
"Ayo putar arah untuk lewat jalan Anterior. Ambulance dan alat beratnya aka datang. Ayo cepat mundur-mundur! Putar arah semuanya," seru polis yang berada dalam derasnya hujan dan rekan polisi yang mengetuk jendela mobil Arya.
"Tuan, tolong mulai---"
"Pak, Nona Muda Wijaya yang mana maksudnya? Mo--mobinya warna apa?" tanya Arya tergagap.
"Nona Raya Wijaya, meskipun wajahnya tidak bisa terlihat karena masih berada didalam mobil. Namun, barang-barang miliknya ada berhamburan di luar mobil dan pihak polisi sudah menghubungi Tuan Muda Elvino," jawab polis tersebut meninggalkan Arya karena harus memberi tahu pada mobil dibelakangnya lagi.
"Untuk warna mobilnya berwarna pink dan pintunya diberi Variasi warna dusty pink," jelas polisi itu lagi.
"Raya... ti--tidak," seru Arya langsung keluar dari mobil dan berlari melewati para polisi dan juga penguna jalan lainnya.Tidak perduli teriakan orang-orang. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan Raya.
"Raya, Raya," Arya hendak berlari mendekati mobil yang sudah hancur. Namun polisi langsung menahanya agar tidak mendekat.
"Raya, Raya," pemuda itu terus berteriak memanggil nama istrinya. "Pak lepaskan Saya. Kenapa kalian hanya diam saja. Cepat tolong istri Saya," ucapnya lagi karena yang mengalami kecelakaan tunggal tersebut memanglah Raya istrinya.
Walaupun polisi tidak menyebutkan bahwa yang kecelakaan Nona Muda Wijaya. Bila melihat plat dan warna mobilnya Arya sudah tahu karena plat mobil tersebut adalah tanggal pernikahannya dan Raya.
"Diamlah Tuan, kita tunggu bantuan datang. Jika bukan degan alat berat. Takutnya api yang keluar sekarang akan membuat mobilnya meledak," seru Pak polisi karena mobil. tersebut sudah hancur tidak berbentuk lagi.
"Kasihan sekali, jika pun dia selamat sudah pasti ada bagian tubuhnya yang hilang," berbagai ucapan rasa simpati orang-orang ditengah derasnya hujan masih bisa didengar oleh Arya.
"Raya.... sayang aku mohon bertahanlah." Arya menangis di bawah derasnya hujan.
"Harga sebuah mobil edisi terbatas tidak ada harganya, Ray. Karena itulah yang akan mengantikan nyawamu." saat menangis minta dilepas karena ingin menolong istrinya. Tiba-tiba pikiran Arya teringat tujuannya membeli mobil tersebut.
Tidak berbeda jauh dari Arya. Raya yang sudah dalam sekarat ikut berbicara didalam hatinya. Mungkin karena sakit hatinya yang sangat dalam. Jadi saat raganya sudah hampir berpisah dari ruhnya pun masih merasakan sakit hati. Yaitu sakit yang telah dibohongi dan dikhianati oleh pemuda yang dia cintai.
"Maafkan Mama, Nak. Kita tidak bisa bersamanya lagi. Ini sudah takdirku untuk berpisah darinya." gumam Raya yang tahu bahwa dia mengalami kecelakaan dan merasakan sakit seluruh tubuhnya yang tidak bisa bergerak dan membuka mata lagi.
Si putri bungsu hanya bisa menahan semuanya sampai dimana dia bisa dan sanggup. Namun, satu hal yang jelas walaupun dia telah sekarat. Raya masih ingat bahwa dia tegah hamil.
... BERSAMBUNG... ...