Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Anggap, Tetangga Kamar.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Pagi harinya, jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Adelia sudah memanaskan masakan yang ia masak tadi malam. Mana tahu jika El juga mau sarapan dengan makanan itu lagi.


Rencananya hari ini Adelia ingin pergi ke rumah paman dan tantenya. Tapi menunggu El berangkat terlebih dahulu. Setelah semuanya selesai, gadis itu kembali lagi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Tidak berbeda jauh dari Adelia. Di dalam kamar sebelah El juga sedang membersihkan tubuhnya. Hari ini dia akan mulai berangkat kuliah seperti biasanya. Tadi malam gara-gara menemani Adelia pergi mencari makanan diluar. Elvino sampai tidak jadi berangkat ke bar. Padahal Aiden sudah menunggu ditempat biasa.


Ttttddd!


"Ck, pagi-pagi sudah menelepon seperti pacaran saja," decak El melihat Hendra sudah menghubunginya.


📱 Elvino : "Iya," jawabanya singkat.


📱 Hendra : "Sombong banget, hanya ngeluarin tiga patah kata," cibir Hendra.


📱 Elvino : "Ada apa, beb? Ini gue lagi bersiap-siap mau berangkat kuliah," El tergelak sendiri karena geli mendengar ucapannya sendiri.


📱 Hendra : "Wah, wah! Baru dua hari menjadi suami. Tapi kamu sudah berubah menjadi romantis, El," ucap Hendra juga ikut tertawa dan mengejek Elvino.


📱 Elvino : "Kurang ajar! Ini semua gara-gara kalian berdua juga, yang maksain ngajak aku mabuk,"


📱 Hendra : "Sudahlah El, kamu harus ikhlas. Mana tahu yang dikandung Adel memang anakmu. Bukannya kamu yang mengambil keperawanan nya. Jadi kemungkinan besar itu adalah bibit mu. Bukan punyaku dan Aiden," jawab Hendra sama seperti yang dikatakan oleh Aiden sahabat mereka. Pemuda itu juga mengatakan mana tahu jika anak yang dikandung Adelia adalah anak Elvino.


📱 Elvino : "Aku tidak masalah jika memang anakku sendiri. Tapi yang menjadi masalahnya apabila itu juga anak kalian juga," gara-gara membahas siapa ayah dari bayi yang dikandung oleh Adelia. Elvino sampai lupa untuk menanyakan pada sahabatnya ada apa menelepon dirinya sepagi ini.


📱 Hendra : "Mana bisa seperti itu, tentu saja ayahnya hanya satu. Yaitu di antara kita bertiga. Sudahlah aku bisa gila bila terus berdebat denganmu. Sekarang ayo bersiap-siaplah! Kami tunggu di kampus, katanya ada gadis pindahan dari luar negeri."


📱 Elvino : "ini juga aku sedang bersiap-siap tapi kamu yang sudah menggangguku tapi ngomong-ngomong apakah gadis pindahan itu cantik? Jika biasa-biasa saja aku tidak mau. Aku sudah bosan hampir semua anak-anak kampus sudah aku pacari," jawab El sedikit menyombongkan ketampanannya.


📱 Hendra : "Jika cantik atau tidaknya aku juga belum tahu. Karena aku dan Aiden belum bertemu dengan gadis itu," kata Hendra yang lebih dulu ingat untuk apa dia menelpon sahabatnya itu.


📱 Elvino : "Huem, kalau begitu sudah dulu ya, aku mau bersiap-siap dulu," setelah itu El memutuskan sambungan secara sepihak. Sebab bila terus berbicara dengan Hendra bisa-bisa dia telat datang ke kampus.



Setelah merasa tampilannya sudah oke. Barulah dia keluar dari kamarnya dan kebetulan sekali Adelia juga keluar dari kamarnya sendiri. Anggap saja pasangan suami-istri itu bertetangga kamar.


"Kamu mau kemana? Bukannya kamu tidak kuliah?" El menatap Adelia dari atas sampai bawah.



"Aku mau ke rumah paman, kemarin aku sudah bilang sama mama," jawab gadis itu sambil berjalan lebih dulu daripada Elvino yang masih memegang handel pintu kamarnya.


"Apakah mau menginap di sana?" bertanya lagi seakan mereka adalah teman akrab. Padahal kemarin sore mereka berdua masih adu mulut.


"Tentu saja tidak, aku akan pulang. Tapi mungkin agak sore," jawab Adelia yang terus diikuti oleh Elvino sampai ke meja makan.


"Apa kamu mau sarapan juga?"


"Sepertinya iya, jika aku tidak sarapan di rumah, lalu siapa yang akan memakan masakannya," tanpa ada rasa malu Elvino mengambil piring nasi untuknya dan mulai makan. Padahal Adelia belum menawarkan padanya.


"Kenapa tidak makan? Apa kamu merasakan mual lagi?"


Sebelum menjawab, Adelia mengelengkan kepalanya. "Tidak merasa mual, tapi aku sudah kenyang minum susu ibu hamil," tunjuk Adel pada gelas yang masih ia pegang.


"Seharusnya kamu jangan minum susu dulu, jika terus-terusan seperti ini tidak bagus untuk kesehatan ba---" El menggantung ucapannya. Lalu karena takut Adelia bertanya dia cepat-cepat minum dan berpamitan pergi lebih dulu.


"Astaga! Aku lupa jika mobilku harus dicuci. Aku duluan," pamitnya seperti orang yang memiliki hutang.


"Dia kenapa? Aneh sekali," Adelia menatap kepergian suaminya dengan mengedikan bahunya. Pertanda tidak perduli juga El kenapa.


Lalu karena dia juga akan pergi. Adelia menghabiskan susu ibu hamil yang tersisa setengah gelas lagi dan membereskan meja makan. Setelah itu barulah dia pergi, tidak lupa Adel mengunci pintu Apartemen mengunakan kartu akses yang telah diberitahu sandi nya oleh Elvino tadi malam.


Sementara itu Elvino yang sudah berada dalam perjalanan menuju kampus. Sangat merutuki mulutnya yang hampir lagi salah bicara.


"Huh! Sepertinya aku harus menjaga jarak dari Adel. Bila terus berdekatan dengannya, bisa-bisa Adelia menyukaiku. Aku tidak sudi menjadi suami sungguhan nya," ucap El merasa bahwa dia tidak mungkin menyukai istri kontraknya. Padahal pernikahan mereka baru saja dimulai. Jadi belum tahu siapa diantara mereka berdua yang akan menyukai lebih dulu, atau tidak sama sekali.


...BERSAMBUNG...