
💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Wajah tampan Eza yang baru selesai mandi. Tidak membuat Olivia terkesima sama sekali. Dia justru terlihat masam karena menahan kesal atas perlakuan kasar suami, sekaligus musuhnya.
"Kenapa kau menatapku? Tidak suka, keluar sana!" usir Eza yang lagi-lagi berkata pedas.
"Hei... laki-laki sombong! Sejak masuk kamar ini sudah berapa kali kau mengusirku?" Olivia sedikit berteriak. Membuat Eza tidak jadi membuka pintu lemari pakaian. Dia melihat istrinya seakan memberikan tantangan.
"Terserah padaku, ini kan kamar milikku. Bagus jika kau pergi sekalian. Eh, tapi... perempuan sepertimu mana mungkin akan pergi. Kau tidak punya malu hanya demi uang kan?" si calon pewaris tersenyum mengejek.
"Oke, baiklah jika kau benar-benar mengusirku. Aku akan pergi sekarang juga. Terima kasih untuk pakaian ini. Tolong titipkan salam dan rasa terima kasih ku pada semua keluarga mu." jawab Oliv menghela nafas dalam-dalam. Dia sudah mandi lebih dulu dan sudah berganti pakaian. Dia memakai baju piyama pendek sebatas lututnya.
Lalu meskipun dengan berat hati. Olivia berjalan kearah lemari yang dimana semua keperluannya sudah disiapkan oleh Adelia. Ibu mertuanya menyiapkan pakaian seperti kesukaannya dan juga ada berjejer rapi dress-dress mahal.
Gadis itu mengambil Hoodie berwarna hitam. Namun, memiliki tutup kepala, karena tidak mungkin dia keluar begitu saja. Bisa-bisa ada yang mengenalinya.
"Aku pergi!" pamitnya benar-benar keluar dari kamar hotel tersebut. Namun, Eza tak bergeming karena mengira jika istrinya hanya bercanda.
Pemuda tampan itu melanjutkan memakai baju kaos pendek dan juga celana jeans pendek. Sangat terlihat sempurna. Dia duduk diatas tempat tidur sambil mengirim pesan pada Ezia.
Dia sengaja tidak tidur karena ingin menunggu Olivia kembali ke kamar dan bisa menindas gadis itu dengan kata-kata kasar. Namun, sampai satu jam kemudian. Olivia belum juga kembali. Membuat hati Eza mulai resah dan penasaran. Apa yang dilakukan Oliv malam-malam seperti ini? Apakah lagi menemui seseorang? Atau... bisa jadi sedang bertemu dengan Hendrix? Untuk merencanakan sesuatu hal yang jahat pada Eza?
Tidak-tidak! Eza tidak akan membiarkan gadis itu menang melawannya. Begitulah kira-kira praduga Eza saat ini. Pemuda itu menyambar kunci mobilnya, takut bila dibutuhkan. Dia menjadi ragu jika Olivia bertemu Hendrix di hotel tersebut karena begitu banyak orang-orang Wijaya yang berjaga malam ini.
Ancam Eza yang hanya bergumam di dalam hatinya.
Tiba di lantai dasar, Eza sudah bertemu pengawal Wijaya.
"Tuan Muda! Apakah, Anda mau---"
"Aku mau keluar sebentar, tolong jangan ceritakan pada keluargaku." sela Eza terburu-buru.
"Tapi---"
"Sudah tidak apa-apa. Tapi apakah kau melihat seorang wanita yang memakai Hoodie berwarna hitam dan keluar dari sini?" Eza hampir lupa untuk menanyakan Olivia.
"Eum... sepertinya tidak ada. Apakah Anda mencari seseorang?" pengawal kembali bertanya.
"Ti--tidak! Terima kasih!" pamit Eza mau melakah pergi. Namun, ada suara yang menyerukan namanya.
"Tuan Muda Eza, Saya melihatnya. Orang yang memakai Hoodie hitam tadi sudah pergi meninggalkan hotel ini." kata salah satu pengawal Wijaya juga, kebetulan memang dia bertemu orang seperti yang ditanyakan anak bos mereka.
"Kemana arahnya?" tanya Eza yang sangat yakin jika itu adalah istrinya.
"Sepertinya kearah selatan dari sini. Apakah kami perlu mencarinya, Tuan?"
"Tidak perlu! Aku akan pergi mencarinya sendiri. Lanjutkan saja pekerjaan kalian." tolak Eza langsung berlari keluar menuju parkiran khusus mobilnya. Dia takut bila Olivia lebih dulu kembali ke hotel dan dia gagal memergoki sang istri.
... BERSAMBUNG... ...