
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Kak, ba--bagaimana Arya bisa kecelakaan?" tanya Raya begitu sudah masuk kedalam mobil kakaknya yang di sopir oleh Sekertaris Demian.
"Entah, Nona. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Namun, yang jelas setelah mengalami kecelakaan tunggal. Mobil mewah Tuan Arya langsung meledak sebelum sempat berhenti," jawab Sekretaris Demian tetap memangil Raya degan sebutan nona muda.
Walaupun seharusnya cukup menyebut nama saja. Akan tetapi karena sudah biasa mengajarkan para bawahannya agar memanggil nona muda.
"Ya Tuhan... kenapa bisa seperti ini? Aku mohon tolong selamatkan suamiku." do'a Raya yang begitu takut bila Arya tidak bisa selamat.
"Apakah tadi dia tidak jadi rapat di perusahaan Wijaya?" sambil menagis si putri bungsu kembali bertanya.
"Jadi, Nona. Namun, baru sekitar sepuluh menit setelah berpamitan pada kami. Mobilnya sudah mengalami kecelakaan. Tapi mobilnya bukan kecelakaan arah ke Apartemen. Melainkan arah keluar jalur dua yang berlawanan arah," jawab laki-laki tersebut degan muka datarnya.
"Apa? Kenapa bisa begitu? Dia mau kemana? Apakah mau menemui perempuan lain lagi?" seru gadis itu cemas dan berprasangka yang tidak-tidak pada suaminya.
"Eum... Saya rasa tidak mungkin Tuan Arya mau menemui perempuan lain. Mungkin saja dia lagi pusing karena tidak siap kehilangan, Anda," mendengar jawaban Sekertaris Demian membuat Raya semakin menagis.
"Arya... aku mohon, bertahanlah Aku akan mencabut gugatan perceraian. Asalkan kamu tetap hidup dan tidak meninggalkan aku bersama anak kita."
Gumam Raya di dalam hatinya. Tidak membutuhkan waktu lama. Hanya sekitar lima belas menit. Mereka sudah tiba di Rumah sakit Hospital Center.
Begitu melihat mobil tersebut berhenti. Para pengawal yang sudah menunggu di depan Lobby langsung membuka pintu mobilnya. Sehingga Raya pun keluar dengan keadaan masih menangis.
"Mari Nona, Saya yang akan mengantar Anda," ajak sekertaris pribadi itu membawa Raya masuk rumah sakit dan langsung dibawa menuju lift.
"Apakah Arya ada di---"
"Lantai delapan, Nona. Tuan Arya ada dilantai paling atas,"
"Oh, aku kira dilantai lima seperti aku dan papa dulu," si putri bungsu mengangguk mengerti.
Ting!
Pintu lift terbuka lebar. Mereka berdua keluar dari kotak besi tersebut. Tidak jauh berjalan Elvino sudah berdiri dari tempat dia menunggu keduanya.
"Kak, Arya mana?" tanya gadis itu yang langsung dipeluk oleh Elvino.
"Dia sudah ada diruang perawatan yang itu. Tenanglah! Adek tidak boleh seperti ini. Ingat ada anak kalian yang harus kamu jaga. Bila sampai kenapa-kenapa, Arya pasti akan marah padamu," jawab si playboy cap kampak menenangkan adiknya.
Namun, pandangan matanya menatap pada Sekertaris Demian dan entah apa yang mereka bicarakan lewat sorot mata tersebut.
"Apakah Arya tidak terlalu parah? Makanya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap?" tanya Raya heran dan juga bahagia secara bersamaan.
"Sangat parah, kamu masuklah dan temui lah dia. Mungkin ada yang ingin Arya sampaikan sebelum---"
"Raya akan ma--masuk sekarang," sebelum kakaknya selesai bicara. Si putri bungsu sudah berlari membuka pintu kamar VIP yang katanya Arya ada di sana.
"Huh! Bagiamana dengan Arya?" tanya El pada sekertaris nya.
"Kita hitung sampai lima, Saya yakin dia sudah keluar dari lift," jawab Sekertaris Demian melihat kearah lift sambil mereka hitung bersama.
Lima!
Empat!
Tiga!
Dua!
Saat---"
Padahal saat itu Arya lagi mencari penjaga keamanan perusahaan Wijaya group. Karena tiba-tiba mobilnya hilang. Namun, pada rekaman CCTV tidak terlihat siapa yang membawa mobil mewahnya karena rekaman yang asli sudah dihapus oleh, Sekertaris Demian.
"Raya... ada di dalam. Temui lah, kasihan dia. Aku benar-benar tidak tega melihatnya sep---"
"Aku masuk dulu," sekarang Arya lagi yang memotong ucapan Elvino. Pemuda itu sudah berlari masuk untuk melihat keadaan sang istri.
"Astaga! Apakah aku harus di tinggal seperti ini?" Elvino mengelengkan kepalanya.
"Ya begitulah, dirimu juga seperti itu bila berhubungan dengan Adel," cibir Sekertaris Demian yang tidak mengunakan bahasa formal.
"Hey, kau mengejekku?"
"Tidak! Aku hanya mencibir. Sudah ayo kita tunggu mereka di bawah, mau apa duduk disini," sebelum Elvino menjawab pemuda itu sudah berjalan menuju lift. Sehingga si playboy cap kampak pun berlari mengejarnya.
"Kira-kira mereka baikan, kan?" tanya Elvino karena semua ini adalah ulahnya untuk mempersatukan Arya dan Raya.
"Seharusnya sih berbaikan. Masa iya sudah meledakan mobil tujuh milyar tapi hanya dapat amukan dari Nona Raya, karena sudah membohonginya," Sekertaris Demian tergelak sendiri yang membuat El menendang kakinya.
"Diamlah! Aku tidak punya cara lain. Raya keras kepala sekali, jadi lebih baik aku menganti mobil Arya daripada mereka berdua berpisah," jawab Elvino yang juga tergelak.
*
*
Sementara itu di kamar rawat inap VIP. Begitu masuk kedalam ruangan itu. Raya langsung shock karena hanya melihat tubuh terbaring di atas ranjang. Yaitu dengan muka tertutup. Pertanda bahwa orangnya sudah meninggal dunia.
"Arya, Arya, ayo bagunlah! Tolong jangan tinggalkan aku," tangis pilu gadis itu.
"Ar, ayo bagunlah! Apakah kamu belum puas menyakiti ku? Apakah kamu mau anak kita lahir tanpa seorang ayah?"
"Tentu saja aku tidak mau. Aku yang mengalami morning sickness, masa tidak diberi izin untuk melihat wajah anakku sendiri," jawab Arya tersenyum dibelakang tubuh Raya.
Melihat Raya menangis membangunkan dia. Membuat pemuda itu baru sadar bahwa semua itu adalah ulah si playboy cap kampak, kakak iparnya.
"Arya, kau bisa bicara?" seru Raya memeluk kain yang tertutup diatas ranjang. Gadis itu tidak sadar bahwa suara Arya ada dibelakangnya bukan yang ia peluk saat ini.
"Kalau begitu ayo bagunlah! Jangan tinggalkan aku, aku akan menelepon Paman Abraham. Memintanya untuk membatalkan gugatan perceraian kita," ucap Raya masih menangis tersedu-sedu.
"Apakah kamu serius?" seru Arya yang kaget.
"Haa... haa... jadi ini tujuan Kak El membohongi kami? Tapi mobilku dia bawa kemana, ya? Pantas saja rekaman CCTV tidak ada terlihat mobilku dibawa orang."
Tawa Arya di dalam hatinya. Dia sangat kasihan pada Raya. Namun, Arya harus membiarkan dulu istrinya mengungkapkan semuanya.
"Iya, aku serius tidak berbohong. Jadi ayo bagunlah," jawab Raya membuat Arya semakin tersenyum lebar.
"Tapi bukannya orang yang sudah meninggal tidak bisa bicara?" dalam kesedihannya. Ternyata Raya masih memiliki kewarasan. Dia heran kenapa jenazah Arya bisa berbicaralah.
"Kan aku belum meninggal dunia. Aku belum bisa membahagiakan istri dan calon anakku. Jadi Tuhan membiarkan aku untuk hidup." lagi-lagi Arya menjawab lantang.
Sehingga membuat Raya langsung menarik kain putih yang menutupi jenazah tersebut dan alangkah terkejutnya dia setelah melihat bahwa yang ada di atas ranjang hanyalah sebuah bantal guling.
Lalu dia pun langsung menoleh kebelakang dan...
"Arya," seru Raya langsung memeluk sosok yang tadi dia anggap sudah mati.
"Iya, ini aku. Jadi jangan menangisi guling lagi. Karena bila dibiarkan lama-lama, aku menjadi cemburu melihatnya," seloroh Arya balas memeluk istrinya.
"Aauh! Kenapa malah mencubit ku?" Arya mengaduh karena perutnya dicubit cukup keras.
"Biarkan saja, suruh siapa kamu membohongiku?" ketus gadis yang tetap memeluk suaminya.
"Aku tidak ada membohongi siapa-siapa karena aku juga sudah dibohongi oleh Kak Elvino. Namun, aku benar-benar bersyukur karena itu. Kamu mau mencabut gugatan cerai kita," jawab Arya sambil mencium pucuk kepala istrinya berulangkali.
...BERSAMBUNG......