
ππππππ
...HAPPY READING......
.
.
Satu Minggu sudah berlalu setelah pertemuan Eza dengan dua orang gadis yang berbeda karakter. Namun, dua-duanya memiliki paras yang cantik.
Hari ini Eza mau bertemu dengan Ezia. Gadis pecinta kucing yang dicari Eza selama ini. Mereka berdua akhirnya sepakat untuk bekerjasama yaitu membuat satu rumah khusus untuk kucing.
"Eza, kamu nanti pulangnya cepat kan?" tanya Adelia sambil berjalan mengantar putranya sampai ke mobil.
"Belum tahu, Ma. Sepulang dari kampus Eza mau bertemu teman. Ada apa?" pemuda itu kembali bertanya sopan.
"Papamu bilang akan ada rapat di perusahaan. Jika bisa kamu diminta datang membantu papa mu."
"Baiklah! Mama bilang saja sama papa, Eza akan datang bila Keadaannya memungkinkan." pemuda tampan itu bersalaman dan mencium punggung tangan ibunya. Tidak lupa Eza juga memeluk sang ibu sebelum benar-benar pergi.
Walaupun si calon pewaris sudah besar dan dewasa. Namun, dia adalah anak yang dimanja dengan didikan terbaik. Tidak seperti papanya dulu ya lepas kendali. Soalnya si mantan playboy cap kampak tidak ingin putranya mengikuti jejak masa mudanya yang tidak berguna.
Cup!
Adelia mencium kening putra semata wayangnya dan berkata. "Iya, Mama akan menelepon papamu. Kamu hati-hati ya, Nak. Kabari Mama bila sudah sampai." pesan seperti biasa Adelia ucapkan.
Eza hanya mengangguk disertai senyuman lebar dan melambaikan tangannya begitu mobil mulai berjalan.
"Mama... aku sangat menyayangimu."
Eza tersenyum sendiri melihat mamanya yang masih setia berdiri di depan rumah mewah mereka.
"Pagi, Za." sapa anak-anak kampus saat berpapasan dengan dirinya.
"Ya, pagi juga." seperti itulah jawaban Eza. Seperlunya menjawab dan tidak pernah dengan tatapan lapar dari para gadis.
Tidak lama tiba di dalam kelasnya. Pelajaran pun langsung di mulai sampai hampir dua jam kemudian barulah selesai. Eza yang memiliki janji bersama Ezia memilih untuk pulang lebih dulu.
Hal yang sudah tidak aneh lagi. Membuat ke tiga sahabat Eza tidak banyak bertanya. Mereka tahunya jika sang sahabat pasti ada rapat di perusahaan Wijaya group. Seperti hari-hari biasanya.
π± Eza : "Iya, Zi... Dirimu ada dimana?" tanyanya saat Ezia menelepon lebih dulu.
π±Ezia : "Aku sudah ada di kafe yang kau bilang. Datang saja ke sini, aku duduk dipinggir jendela."
π± Eza : "Baiklah! Aku sudah dijalan dan sebentar lagi sampai." setelah menutup sambungan telepon Eza pun menambah kecepatan laju kendaraannya. Tidak lama, sekitar enam menit kemudian dia sudah sampai.
"Eza!" panggil Ezia melambaikan tangannya. Mereka berdua sama-sama tersenyum saat bersalaman kembali.
"Sorry ya sudah membuatmu menunggu." ucap si calon pewaris Wijaya.
"Tidak apa-apa. Kamu mau minuman apa? Aku mau jus jeruk tapi tidak boleh pakai es." kata Ezia sudah menunjukkan minuman untuknya.
"Aku juga sama." jawab Eza sudah duduk dihadapan Ezia. Lalu sambil minumannya datang mereka berdua mulai membicarakan tentang rumah kucing.
"Jadi setelah ini kita cari dulu tempatnya yang cocok. Nanti untuk pembangunan dan yang lainya itu urusan ku. Bagian mu nanti setelah rumahnya jadi. Biasanya kan seorang wanita lebih pandai mengatur tataan yang pas." ucap Eza setelah membahas hal lainya.
"Oke, aku ikut apa katamu saja." gadis itu hanya menyetujui karena dia tahu bahwa Eza adalah pemuda baik-baik.
... BERSAMBUNG... ...